Minggu, 29 Maret 2015

Tipe 2 : tegas karena korban

Surat dunia.

Tipe kedua dari orang tua adalah tegas karena korban.

Tipe yang ini orang tua menjadi korban.
Bagaimana pola komunikasi yang terjadi?

"Kasihan mama sayang, mama yang beresin mainan kamu. Nanti kalau mama ga bereskan itu papa kamu marah sama mama,"

Atau yang terjadi seperti ini,

"Mama setiap hari dimarahin papa nak, kamu mandi terlambat, makan terlambat, main tidak tahu waktu, bla bla bla..."
Dan yang terjadi adalah anak akan merasa sangat bersalah melihat orangtuanya. Merasa tidak mampu membahagiakan orang tua. Membuat orang tua sedih dsb.
Pola komunikasi ini menciptakan karakter baru bagi anak. Ingin melakukan tapi karena kasihan dan pada akhirnya balik lagi pada kata terpaksa.
Dan pada dasarnya anak akan melawan ketika ada pernyataan, nasihat atau intruksi dari orang lain yang tidak sesuai dengan dirinya. Beberapa perlawanan itu ditunjukan tapi ada juga yang dipendam. Yaa... dipendam menahun dan siap akan diledakkan emosinya. Biasanya ini akan terjadi pada usia remaja dimana anak sudah mampu berbicara dan berkomunikasi lancar. Dan sudah paham mau jadi apa dan dibawa kemana hidup mereka. Pada saat ini kita sebagai orang tua akan bertanya,"

"Mana anak mama yang dulu penurut?"

Penurut yang bagaimana bu? Yang terpaksa menuruti atau karena kasihan?

Lalu bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak? Bagaimana membicarakan tegas kepada anak?

Tunggu post kami selanjutnya.

Tegas pada anak

Surat dunia.

Setiap orang tua mengharapkan anak yang bisa menuruti semua perintah dan perkataan orang tua tapi tahukah bahwa mereka sebenarnya "tidak mau"? Padahal kunci dari penurut adalah disiplin dan tegas. Bagaimana pola komunikasi kita terhadap anak agar disiplin? Semoga bermanfaat pemaparan ini.

Seminar kali ini temanya adalah Disiplin tanpa melukai harga diri anak. Bersama pak Syahriar Riza, pendiri terapi hati dan hypnoteraphist. Berikut adalah step by step kita mengenali diri kita, termasuk tipe yang mana?

Tipe 1 adalah tegas demi orang tua

Pada tipe ini orang tua cenderung lebih dominan dalam memberikan intruksi atau perintah. Disini orang tua memutuskan sepihak atas segala hal. Karena tipe orang tua ini adalah mereka sudah merasa tau segalanya. Terkesan seperti anak ada bawah kendalinya secara otoriter. Pola komunikasinya pun terasa memaksakan anak. Membuat anak salah dan tidak ada pilihan lagi. Pernahkah kita berlaku seperti ini pada anak kita?
Misalnya anak yang bangun kesiangan.

"Kamu ini gimana sih nak, bangun kesiangan terus. Mau mama apain kamu siram? Mama cubit? Masa bangun pagi aja ga bisa? Kan kalau bangun pagi bisa bantu mama dulu di dapur,"

Bagaimana rasanya jika kita dikatakan demikian? Jawabannya sederhana kita merasa "melakukan hal yang salah" di hadapan orang tua kita.

Atau jika anak tidak merapikan mainannya,

"Ini kok mainan berantakan ya? Mama ga suka kayak gini, mama capek beresin rumah kalau kamu juga yang berantakin rumah. Kalau rumah rapi kan enak lihatnya,"

Apa yang anak rasakan ya setelah dengar itu? Jawabannya satu ,"aku buat mama sedih, mama ga bahagia karena aku,"

Dan bisa dibayangkan bagaimana hancurnya hati anak saat kita mudahnya bicara demikan. Saat kita ingin menyetir anak kita ke arah yang baik tapi dengan cara menghancurkan harapannya?

Termasuk yang tipe 1 kah kita?

Tunggu tipe - tipe selanjutanya akan dibahas di post selanjutnya.

Jumat, 27 Maret 2015

Kematian

Surat dunia.

Kematian.

"Tak ada yang tahu kapan ia datang,"

Satu kata itu begitu membuat bulu kudukku merinding saat membahasnya. Tak ada manusia yang sanggup menerka datangnya kematian, hanya Allah yang tahu pasti kapan itu akan terjadi. Hanya Allah yang tahu.

Hidup adalah anugerah terindah dari Allah pada diri kita. Ketika ruh kita menyatu dalam jasmani dan menjadikan kita bisa merasakan setiap perputaran waktu dan kita mampu bergerak menjalani kehidupan, inilah anugerah yang harus kita syukuri sebagai hamba-Nya. Hidup adalah mengayuh dan terus mengayuh hingga menuju ke tujuan. Hidup adalah perjalanan yang panjang hingga tiba pada tujuan yang kita harapkan. Sekarang yang sedang kita pijak adalah tanah sementara yang sewaktu-waktu akan memeluk erat tubuh kita setelah habis masa usia kita. Harta yang kita miliki tak bisa jadi selimut selamanya dalam tidur kita. Lalu prestasi, kehebatan, keahlian dan kemampuan yang kita miliki tak selamanya bertahta mulia pada diri kita. Apa yang harus kita banggakan saat ini? Ketika apa yang ada di dunia adalah kepalsuan kebahagiaan dan sementara kehidupan. Tak ada yang bisa menjamin diri kita selain kita sendiri.
Aku sangat berterima kasih pada-Mu ya Rabb, Kau beri aku kesempatan kehidupan yang aku kira akan segera berakhir cepat. Saat daya dan kuasaku kian melemah tapi Kau hadirkan satu kesempatan bagiku untuk bisa terus ada disini, beribadah padamu. Tak ada yang bisa menjamin usia kita selain diri-Mu.
Saat kita mulai sibuk memikirkan duniawi yang berharga ini, apakah ada ketenangan dalam diri kita? Saat kita selalu memikirkan perhitungan demi perhitungan nominal harta kita, apa ada kepuasan dalam diri kita? Jawabannya nihil.
Damai dan kepuasan usia kita adalah saat kita mengingat Allah. Bila kita mengingat-Nya, akan terasa mudah melewati perjalanan. Saat kita mengingat-Nya diantara megahnya alam ini, akan kita sadari curahan kasih sayang-Nya. Setiap sabda-Nya yang selalu mengingatkan untuk menjalani usia kita agar bermanfaat dan mencari bekal akhirat yaitu amal dan ibadah. Sabda-Nya yang menjamin semua balasan atas perbuatan kita sebagai manusia. Lalu siapkah kita kembali pada-Nya saat ini? Tak ada kesiapan dalam diri kita saat panggilan itu datang. Yang ada hanya satu, keihklasan.. bahwa manusia hanya milik Rabb-Nya.
Celakalah bagi manusia yang menyengsarakan kehidupannya dalam perbuatan merugi dan dosa. Padahal pintu akhirat bisa saja terbuka segera atas izin dari-Nya. Lalu sudahkah tabungan akhirat kita penuh? Atau malah kita baru ingat bahwa akan ada akhirat yang lebih kekal?

Ya Allah.... maafkan atas bisikan dunia yang lembut.
Yang menyumbat telinga kami atas sabda dari-Mu.
Maafkan setiap pandangan kami yang mengalihkan dari-Mu.
Maafkan kami yang tak meresapi setiap kejadian di hidup kami.
Maafkan jika kami kenakan kesombongan dalam langkah kami.
Maafkan kami saat hari-hari kami yang tak lebih baik dari kemarin.
Maafkan kami saat waktu kami lebih sibuk untuk bekerja daripada ibadah kami.
Maafkan kami saat kami khilaf dan salah...
Jika ujung dari hidup kami sedang mengintai kami, maka izinkan kami untuk bisa terus memperbaiki diri dan merubah kami menjadi lebih baik lagi.
Bila kami jauh dari-Mu...
Maka bagaimana kami?
Hanya pada-Mu, tempat kami berteduh.

Kamis, 26 Maret 2015

Sekolah Masjid

Surat Dunia

Sekolah Masjid.

"Seandainya keihklasan dilambangkan dengan partikel air di alam semesta, aku rasa tidak sebanding jumlahnya karena ikhlas melebihi dari apapun hitungannya,"

Aku selalu bersyukur atas setiap kejadian yang terjadi di hari-hariku. Usiaku yang baru genap 20 tahun namun telah banyak yang aku rasakan. Bertemu dengan banyak orang yang kisahnya bisa jadi teladan dan motivasi bagi diriku. Jatuh bangun hidup mereka kujadikan tolak ukur terhadap diriku. Masih saja hasilnya, aku belum menjadi apa-apa. Kali ini aku ingin berbagi kisah dari dahsyatnya dzikir dan doa ratusan anak ketika pagi hari.

Aku perkenalkan satu sekolah yang setiap hari aku datangi. SDIT Darul Muqorrobin. Dalam bahasa indonesia artinya tempat bagi orang-orang yang mendekatkan diri. Sungguh ini visi yang sederhana namun jauh tujuaannya ke depan. SD ini baru 3 tahun berdiri namun rasanya telah lama sekali berdiri. Karena perjuanganya itu yang membuat kami para guru disini merasa sudah sangat akrab dan dekat. Berawal dari sebuah keinginan untuk membiasakan anak bisa mengaji sekaligus prihatin dengan kondisi anak yang masih belum bisa mengaji padahal usianya sudah remaja menjadi satu pemacu bagi Umi untuk membuka sekolah islam terpadu yang mendukung pendidikan formal dan agamanya juga.
Satu kata yang ampuh untuk memulai sebuah pencapaian,"Bismillah...," ucap Umi dengan yakin. Bukan karena ada uang banyak dan modal besar membuka sekolah, tapi karena keyakinan Allah, bahwa pertolongannya amatlah dekat. 20 murid kiriman Allah menjadi satu awal perjuangan kami semua. 20 murid yang orang tua serahkan kepercayaan mereka kepada kami merupakan amanah yang tak bisa disepelekan. Setiap hari kami banyak belajar tentang memahami karakter mereka dan membentuk mereka menjadi muslim, mu'min dan muhsin. 20 murid yang ikhlas sekolah di dalam majlis taklim yang disewa sementara untuk KBM. Apa yang harus banggakan ketika fasilitas masih alakadarnya? Satu... ketika mereka mampu menghafalkan dan melisankan puluhan ayat Al-qur'an ketika sekolah. Itulah kebanggaan teramat dalam yang saya rasakan menjadi guru disana. Disaat apapun dimulai dengan lantunan ayat Al-qur'an menjadikan benar-benar sekolah ini adalah tempat bagi kami mendekatkan diri.
Tahun kedua, Allah kirimkan 36 murid impian yang meramaikan lagi sekolah kami. Mereka melengkapkan asa kami saat sebuah sekolah yang belum terdaftar, belum ada bangunan namun mampu berdiri dengan 50 siswa yang membanggakan. Itulah sumber kekuatan kami semua.
Tak ada yang lurus dan mulus dalan perjalanan, jatuh bangun bangkit jatuh dan bangkit berdiri kami rasakan. Saat satu persatu pemancing keputusasaan menarik kami untuk menyerah saat itu juga, tapi Allah kirimkan 60 siswa yang mengetarkan bathin kami karena jumlahnya yang banyak.
Kami tak mampu lagi belajar di majlis yang sempit. Kami harus punya bangunan sendiri. 2014 menjadi satu dari sekian banyak sejarah. Tentang tak pernah ingkar atas janji Allah pada hamba-hamba. Tentang arti keihklasa  hati yang meski banyak hinaan kepada kami tapi kami tak putus harapan. Kami tak pernah salah berharap selain pada Allah. Ribuan meter tanah diberikan pada kami sebagai tanah yang akan dimakmurkan untuk pendidikan kepada kami. Sekaligus masjid besar yang akan jadi tempat kami mengadu penuh syukur atas nikmat Allah. Ya... ribuan meter tanah yang kami hitung harganya hingga milyaran rupiah sekarang kami kelola untuk pembangunan sekolah kami.

"Sekiranya mana yang Allah tak kabulkan ketika kamu mau bersabar dan memperbaiki diri,"

Sementara ini gunakan masjid untuk kegiatan belajar mengajar bagi siswa karena pembangunan sedang berlangsung.
Sama halnya perjalanan manusia tak pernah lancar. Akan ada banyak rintangan menghadang. Kami dikatakan aliran kristen karena menggunakan tempat ibadah dengan kursi-kursi siswa. Ya Allah... jikalau lisan adalah pisau yang menyayat maka bagaimana caranya kami sembuh dari luka hinaan?
Jawabannya yang saya rasakan sendiri adalah "selalu berharap pada Allah," hanya itu.
Bagaimana dengan murid kami? Apa mereka menerima jika sekolah di masjid? Ada beberapa yang bercerita dikatakan sekolah masjid oleh teman lainnya.
"Sabar ya nak... istana sekoah kita sedang dibangun,"

Dan inilah bagian yang menggetarkan iman saya ketika sebuah harapan tak pernah pupus jika kita tahu persis dan dikembalikan kepada maha penampung harapan, Allah.

Inilah jawaban dari sekian banyak hinaan dan ketidakmungkinan yang dulu pernah kami rasakan. Maaf kan kami tidak bermaksud meninggikan hati. Kami hanya percaya satu,"Allah maha melihat apapun, maha mendengar rintihan, maha tahu maksud hati dan ini adalah jawaban atas keyakinan kami atas pertolongan Allah. Dan doa anak-anak yang mengharapkan sekolah mereka telah dibangun yang mengetuk pintu langit dan diwujudkan lewat cara yang menakjubkan.

"Janji Allah yang mana yang ingin kau minta saat kau telah jadi manusia yang sholeh maupun sholehah dan Allah mengabulkannya dalam kesabaran,"

Siapakah Dirimu?

Siapakah dirimu?

Aku tidak berhak menilaimu dari mataku yang melihat. Karena bisa saja mata salah dalam mengartikan keadaanmu. Aku tidak boleh percaya begitu saja pada kata orang lain tentang dirimu karena apa yang orang katakan belumlah benar adanya dirimu. Lalu siapakah kamu?
Bagiku kamu adalah belahan jiwaku. Kamu adalah bagian dari pelengkapku. Bagiku kamu adalah keping hati yang tak terpisahkan dariku. Kamu adalah satu takdir yang akan berjalan bersamaku. Kamu adalah teman hingga aku menua dan mati. Kamu adalah.... sosok ayah kedua bagiku. Seorang laki-laki yang mau menanggung kehidupanku. Laki-laki yang mau menanggung dosaku. Laki-laki yang mengingatkanku akan kebaikan dan melarangku akan keburukan. Kamu adalah laki-laki yang siap melindungiku dari apapun bahayanya. Laki-laki yang akan berjuang keras demi bahagianya diriku.
Siapakah kamu?
Buatku, kamu adalah seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Yang memaafkan khilafku dan memperbaiki kesalahanku. Kamu adalah seseorang yang mau bermimpi bersamaku dan berjuang bersamaku. Bukan harta lagi yang ada di benakku tapi keberadaanmu di sampingku yang buatku yakin bahwa kita bisa melangkah jauh bersama. Siapakah kamu? Tentu bukan seseorang bertahta karena aku pun bukan wanita yang mulia dan bertahta.
Lalu siapakah kamu?
Kamu adalah keluargaku, kamu adalah laki-laki yang mau mendengar ayahku. Yang patuh pada ayahku, yang menghormati ayahku sebagaimana aku hormati beliau. Kamu adalah laki-laki yang sayang dan cinta pada ibuku. Sebagaimana kamu cinta pada ibumu. Kamu adalah laki-laki yang mau bercanda riang dengan adikku. Kamu mau berbagi banyak tawa dengan adik kecilku. Dan kamu adalah laki-laki yang menyayangi adik-adikku seperti kamu sayang pada adikmu. Aku tak minta banyak darimu, sayangi keluargaku dulu barulah sayangi aku. Kamu bisa denganku, kamu bertemu denganku dan kamu memilihku tentu aku ada karena keluargaku. Aku tak minta banyak, sayangi keluargaku. Merekalah muara keluh kesahku sebelum kamulah sandaranku. Mereka adalah semangatku. Sebelum kamu menyemangatiku. Sayangilah keluargaku. Sebelum kamu membawaku pergi, sayangi keluargaku. Sebelum aku tak bersama keluargaku lagu, sayangi keluargaku.

Siapakah Dirimu?

Siapakah dirimu?

Aku tidak berhak menilaimu dari mataku yang melihat. Karena bisa saja mata salah dalam mengartikan keadaanmu. Aku tidak boleh percaya begitu saja pada kata orang lain tentang dirimu karena apa yang orang katakan belumlah benar adanya dirimu. Lalu siapakah kamu?
Bagiku kamu adalah belahan jiwaku. Kamu adalah bagian dari pelengkapku. Bagiku kamu adalah keping hati yang tak terpisahkan dariku. Kamu adalah satu takdir yang akan berjalan bersamaku. Kamu adalah teman hingga aku menua dan mati. Kamu adalah.... sosok ayah kedua bagiku. Seorang laki-laki yang mau menanggung kehidupanku. Laki-laki yang mau menanggung dosaku. Laki-laki yang mengingatkanku akan kebaikan dan melarangku akan keburukan. Kamu adalah laki-laki yang siap melindungiku dari apapun bahayanya. Laki-laki yang akan berjuang keras demi bahagianya diriku.
Siapakah kamu?
Buatku, kamu adalah seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Yang memaafkan khilafku dan memperbaiki kesalahanku. Kamu adalah seseorang yang mau bermimpi bersamaku dan berjuang bersamaku. Bukan harta lagi yang ada di benakku tapi keberadaanmu di sampingku yang buatku yakin bahwa kita bisa melangkah jauh bersama. Siapakah kamu? Tentu bukan seseorang bertahta karena aku pun bukan wanita yang mulia dan bertahta.
Lalu siapakah kamu?
Kamu adalah keluargaku, kamu adalah laki-laki yang mau mendengar ayahku. Yang patuh pada ayahku, yang menghormati ayahku sebagaimana aku hormati beliau. Kamu adalah laki-laki yang sayang dan cinta pada ibuku. Sebagaimana kamu cinta pada ibumu. Kamu adalah laki-laki yang mau bercanda riang dengan adikku. Kamu mau berbagi banyak tawa dengan adik kecilku. Dan kamu adalah laki-laki yang menyayangi adik-adikku seperti kamu sayang pada adikmu. Aku tak minta banyak darimu, sayangi keluargaku dulu barulah sayangi aku. Kamu bisa denganku, kamu bertemu denganku dan kamu memilihku tentu aku ada karena keluargaku. Aku tak minta banyak, sayangi keluargaku. Merekalah muara keluh kesahku sebelum kamulah sandaranku. Mereka adalah semangatku. Sebelum kamu menyemangatiku. Sayangilah keluargaku. Sebelum kamu membawaku pergi, sayangi keluargaku. Sebelum aku tak bersama keluargaku lagu, sayangi keluargaku.

Menolong Sebisa Mereka

Surat dunia.

"Anak kecil selalu ingin menolong dan menolong sebisa mereka,"

Alhamdulillah.... adik kecilku Lutfi sudah masuk PAUD. Awalnya harus banyak hadiah dulu baru mau pergi ke PAUD. Mulai dari hadiah makanan, alat tulis, cat lukis hingga ingin durian. Kami sekeluarga tak keberatan asalkan Lutfi mau pergi dan belajar disana.
Pertama kali ke PAUD, suasana disana asing baginya. Biasanya anak yang sudah lihat mainan akan tertarik dan tidak sabar untuk menikmati setiap permainan yang ada. Tapi tidak bagi adikku, dia mengamuk dan menfancam ingin pulang saja. Kami tak bisa berbuat banyak, dibujuk apapun tetap menangis bahkan semakin menangis. Dan persoalan ini menjadi beban fikiran bagiku.
Terselip satu pertanyaan dariku,

"Apa pernah ada pengalaman buruk yang dialami Lutfi yang menghambatnya sekolah?"

Aku bicarakan soal ini kepada mama. Kami sepakat untuk tetap mencari alternatif sekolah lain agar Lutfi bisa memilih sesuai yang ia sukai. Bahkan dengan Allah berikan kami seperti ini membuatku semakin ingin membuat sekolah. Pertama untuk adikku. Karena itulah yang sedang kami hadapi. Bagaimana caranya agar kami bisa mengarahkan Lutfi dalam kegiatan sekolah. Mengingat 1 tahun lagi Lutfi akan masuk sekolah. Tapi perubahan terjadi begitu cepat, pagi itu ayah menyiapkan bekal banyak kue enak untuk Lutfi. Ayah yang mengantar sendiri ke PAUD. dan menunggunya. Alhamdulillah... Lutfi mau dan semangat. Ketika aku pulang, ia menunjukan PRnya padaku. Ia cerita banyak hal yang dikatakan guru padanya.

"Mba kalau capek nulis, tangganya digerakan gini mba," katanya sambil mencontohkan gerakan senam tangan.

"Kan kalau kuku kotor bisa jadi cacing mba, itu kata bu guru ,"

Kata bu guru.... ya satu kalimat itu yang membuatku lega. Luthfi sudah semangat untuk mulai belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Ini kemajuan bagus. Bahkan setiap ada PR, ia kerjakan lebih cepat. Katanya biar nanti dapat bintang. Hhheheh

Bersyukur bisa menemani kamu sayang, bersyukur kamu selalu ingin ikut kemanapun aku pergi. Aku bisa mengajakmu belajar banyak hal. Aku bisa jadi teman bagimu sayang. Kamu sudah membuatku kagum. Kamu selalu ingin membantuku. Mulai dari rapihkan soal ulangan, mengambilkan air minum, menyapu lantai dan pekerjaan yang lainnya. Kamu bahkan yang menawarkan diri,

"Aku mba yang nyapu," soraknya.

Alhamdulillah..  kamu anak baik nak. Kamu selalu bantu aku, sekarang kamu banyak dibantu teman-teman. Saat tadi sekolahpun ada yang meminjamkan pensil saat kamu tidak bawa. Ada pula yang meminjamkan pensil warna untukku. Syukuri ya sayang, kamu sudah banyak membantuku.

"Aku ada penghapus, kamu mau pinjam?" Kata temanmu padamu sayang. Perhatian sekali. Seandainya dunia ini banyak orang yang respect, pasti bahagia banget. Karena semua orang rasanya mau bantu. Hihihi bantu isi dompet bisa.... hahahhah

Ya pada hakikatnya setiap anak adalah kertas putih. Anak yang mewarnai dan orang tua yang memperkenalkan dunia. Berperanlah bersama mereka di urusan yang mudah. Anak hanya ingin mencoba dan paham rasanya. Izinkah mereka membantu kita sekecil apapun itu. Karena ini bagian dari pembentukan rasa percaya diri. Dan inilah dunia mereka. Dunia luthfiku yang sudah pervaya diri dan punya banyak teman.