Jumat, 07 Agustus 2015

Karena cantik tak pernah sirna

Karena yang cantik, tak akan sirna

"Baru aku mengerti artinya bidadari, sejak di hari ini jumpa kamu di sini,"

Post kali ini ditemani dengan mp3 dari babang Al Ghozali dengan rayuan lagunya yang tsahhh.... dahsyat tak kira. Kaum hawa mana yang tidak klepek-klepek saat ada yang menyatakan bahwa "kamu bidadari". Semoga tidak melayang hingga ke langit ke tujuh. Hehehe...

Namun babang Al juga paham kan yaa bidadari pasti cuantikkk tenan. Seperti yang dikisahkan dalam Al-qur'an. Bahwa ada bidadari dalam surga yang ketika melentikan matanya maka akan terasa kedamaian dalam jiwa. Dan siapa sih kaum hawa yang ga mau dapet predikat "cantik" dan itu disematkan oleh semua orang? Pasti semua berlomba untuk tampil paling cantik dan menarik. Namun benarkah cantik saja cukup untuk menjadi modal bagi kita? Khususnya aku jugaa sebagai seorang wanita ciptaan-Nya.

1. Cantik adalah saat kita tahu tentang diri kita.

Cantik adalah dambaan. Namun mengenal diri kita yang unik adalah hal yang buat kita semakin sadar bahwa Allah telah menciptakan wanita dalam keadaan yang subhanallaj cantiknya. Meski banyak perbedaan namun tak ada yang namanya standar cantik. Cantik adalah menjadi diri sendiri.

2. Cantik wajah sangat memikat namun cantik hati lebih melekat.

Haduhh ada jerawat ini, gimana dong?

Haduh masih item aja ini kulit?

Tentu Allah tak melarang yang namanya merawat kecantikan dari-Nya. Allah akan senang jikalau kita mampu merawat diri ini dengan baik dan tak membebani kita. Asal itu sehat dan tidak merubah ciptaan-Nya maka kita memang harus memahami cara merawat diri dan kecantikan. Namun perlu di garis bawahi,

"Tak ada standar cantik yang mutlak yang ada hanya kebanyakan orang yang biasa menstandarkannya,"

Maka dari itu bersyukur. Itu adalah kunci agar cantik kita tetap melekat dalam diri kita. Diiringi dengan hati yang tulus ikhlas dan perilaku yang berakhlak maka terdoronglah semua pancaran cantik yang ada dalam diri kita. Bagai Nur yang memancar dan menerangi dunia, hanya mereka yang cantik hatinya akan tetap dijaga dan dikagumi dalam kesucian.

3. Kan ku cantikan diri ini dalam prestasi

Bagi kamu yang sedang berjuang mati-matian bekerja demi hidupmu dan keluarga, kamu yang tetap tekun sekolah, tetap mencari ilmu karena merasa masih belum banyak bekal, lalu kamu yang masih giat mendalamu keterampilan maka inilah cara cantikmu bersinar. Kan kita buktikan dalam usaha yang pantang menyerah bahwa tak ada yang tidak mungkin.

Ketika kita bisa menghadiahkan sebua prestasi di hadapan banyak orang,

"Selamat atas kelulusan pendidikannya dari Universitas,"

Bukan hanya kamu yang bahagia tapi seluruh keluargamu, teman-temanmu dan semua orang yang mendukungmu.

"Selamat atas kenaikan jabatan, semoga semakin amanah,"

Bukan hanya kamu yang bahagia namun kamu bisa memberi banyak kebahagiaan bagi banyak orang.

"Karena kamu adalah keistimewaan dan kamulah kecantikan yang menakjubkan,"

4. Ku hiaskan cantikku dalam balutan kesadaranku bahwa aku akan bermanfaat bagi orang banyak.

Ada seorang tokoh di Indonesia, beberapa bulan lalu kami berjumpa. Ibu Siska Y. Massardi. Pendiri sekolah garasi. Misi kemanusiaan beliau yang menyemangati saya walau hanya lewat pertemuan singkat. Dari sekolah garasinya saya belajar banyak hal soal anak dan pendidikan.
Pesan beliau kepada kita semua,
"Tak ada anak yang tidak pintar, yang ada hanya mereka yang bermasalah dan sedang butuh teman untuk berbagi bersama,"

Dan beliaulah salah satu wanita tercantik yang pernah saya temui.

Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa sebaik-sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Maka sekecil apapun niat kebaikan kita lalu kita wujudkan maka telah menjadi satu manfaat bagi orang lain tanpa kita sadari. Bagaimanapun caranya kita agar bisa menebar manfaat bagi orang banyak, semua wanita berhak berperan dalam jalan pilihannya. Selama Allah meridhoi maka limpahan berkah-Nya akan mengalir.

Lalu bagaimana rasanya ketika cantik bukan hanya soal fisik dan tampak luar? Soal cantik yang tidak melulu putih kinclong? *piring kali kinclong.

Kita akan tetap menjadi cantik karena kita adalah ciptaan-Nya. Tak ada satupun yang layak menghina.

Semoga bermanfaat kawan, makasih ya babang Al-Ghozali lagu "Kurayu Bidadari" asikkk jadi Ge Er terus dengerin lagunya.
Hahahhaa

Salam cantik

Sekiranya kamulah kamuku


Sekiranya kamulah kamuku,

"Tak ada yang pasti, semua dalam batas usaha."

Kamu, yaa kamu... ada dalam bait doaku. Kamu menjadi satu harapan yang aku kirimkan pada-Nya. Kamu..  yaa kamu ada dalam satu mimpiku dan telah aku sematkan dalam ingatan di otakku. Kamu, kamu buatku membelangakan mataku. Bukan karena kamu begitu indah. Kamu, buatku berhenti lama kala aku melihatmu. Bukan karena keindahan yang ada pada dirimu. Kamu, buat bicaraku terhenti. Bukan karena kamu pandai mengungkapkan banyak hal. Kamu, buatku ingin terus terbelangak, ingin terus terhenti lalu ku gambarkan diriku dalam kertas putih. Di situlah aku sangat sadar, bahwa aku harus benar-benar sadar akan kenyataan ada di hadapanmu.

Kamu, bagai membawa cermin besar lalu kamu tampakan padaku. Dan aku lihat bayanganku. Tak ada yang berbeda. Aku tetaplah aku. Namun apa yang salah ketika semua hal berjalan aneh dari biasanya?
Kamu, yaa kamu walau kamu berdiri jauh disana, tetaplah aku merasa kamu telah menjadikanku sangat aneh. Berkali-kali aku lihat cermin yang besar. Aku sangat teliti melihat bayanganku sendiri.
Yaa kamu, tahukah mengapa berjalan aneh? Karena aku telah melihat sisiku dalam sisimu. Ahh... sungguh. Aku ingin tutup wajahku dalam balutan kain dan tak ingin aku tampakan lagi.

Aku lihat sisiku ada dalam dirimu. Karena itu aku sangat menyadari, aku belum sempurna. Yaa aku belum sempurna dalam iman dan taqwaku. Aku masih menjadi hamba-Nya yang penuh dengan khilaf dan berburuk sangka. Aku lihat sisimu yang mengagumkan dan mengetuk pintu hatiku.
Kamu, semakin aku sadar bahwa keanehan yang aku rasakan dalam diriku bukan karena cinta. Namun karena aku belum setaat dirimu.

Benarkah aku bisa bersamamu? Jikalau langkahku dalam kemurkaan-Nya? Bisakah kamu melangkah bersamaku jika aku masih jatuh dalam jurang dosa? Bisakah aku memimpikan kamu datang dalam hidupku menjadi pelindung diriku dalam janji suci atas nama-Nya sampai aku mati tapi jika aku masih dalam pelukan lalai dan zalim pada diri ini? Ahhh rasanya bagai memeluk air. Aku tak akan bisa.

"Syukurlah... bahkan kepastian masih saja berubah bergantung usaha,"

Aku percayaa... selama kita masih bisa menyadari, memperbaiki, dan memaafkan ketidaksempurnaan diri dalam balutan dosa maka akan ada jalan baru bagi kita. Aku sadar bahwa hasil usaha tak melulu mutlak. Makanya Tuhanku mengajarkanku untuk terus berusaha. Bahkan untuk bersamamu. Yaa kamu...

Kamu yang ada dalam bait doaku, aku yakin Tuhanku telah merajut kisah indah untukku. Aku tak melulu harus bersamamu. Karena aku tahu bahwa aku belum pantas bersamamu. Tunggulah aku... maaf jikalau kamu harus menunggu "si perubahan" ini. Karena aku ingin bisa memilikimu dalam kesempurnaan taatku pada Tuhanku. Terima kasih cermin besarnya.

"Sekiranya kamulah kamuku, maka Tuhan tak ajarkan aku bagaimana seharusnya aku taat pada-Nya. Namun sekiranya kamulah belum menjadi kamuku maka aku akan berusaha dalam ketaatan. Maaf Tuhan... aku tak ingin buat Tuhan cemburu namun Kau tetaplah cintaku. Dan Kau inginkan aku dalam bahagia bersama takdir terbaik-Mu. Ajarkan aku untuk bisa mencintai-Mu (dulu),"

#kisah ini diangkat dari seorang temanku yang jatuh cinta dalam renungan diri.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Catatan "ingin belajar"


Catatan "ingin belajar"

"Ketika aku malas, aku ingat bahwa aku akan melahirkan putra/putri hebat dan mereka akan bersama-sama hingga dewasa,"

Catatan ingin belajar ini saya ambil dari kisah teman saya yang sangat bertekad untuk terus belajar demi bekalnya menjadi orang tua yang hebat. Satu kutipan beliau yang saya sukai adalah,

"Seorang perempuan bisa jadi berbie yang sangat cantik, didandani ini itu, tapi bisakah ia nanti menjadi ibu yang sholehah? Bisakah?"

Satu pertanyaan yang membuat kita bercermin diri. Sudahkah kita memikirkan ke arah sana?
Ahh kejauhan... yang di depan mata aja dulu dijalani.
Yaa itu kawan, menjadi seorang ibu adalah hal yang menanti di depan mata kita.
Kita masih muda loh.. masih mau kumpul kesana sini.
Iyaa karena masih muda jadi lebih mudah memahami hal-hal yang baru.
Ahh seriuss ga ketuaan nih bahas tentang emak-emak plus tugasnya yang bejibun?
Yaa ga tuaa. Justru ketinggalan zaman kalau ternyata kita belum memahami kodrat kita sebagai seorang wanita.

Lalu???
Mari kita kembali pada tokoh yang inspiratif, yakni teman saya. Beliau berkata, bahwa menjadi seorang ibu adalah cita-cita yang sangat mulia. Menurutnya inilah titik awal dari sebuah kemajuan agama dan negara.
Loh kok jadi panjang dan merembet ke negara segala. Kan udah jadi urusan bapak jokowi soal negara mah....

Ehmmm kita kembali ke tokoh yaa. Beliau membalikan pertanyaan pada saya,
"Pasti ada dong ibu pak Jokowi?"

"Ada dong!"

"Sama halnya saat kita harus menyadari tentang adanya siti hawa dan adam. Kita belajar bahwa penciptaan mereka adalah untuk memakmurkan bumi dan beribadah pada Allah,"

"Kaitannya gimana nih?"

"Begini... kita bisa saja menarik banyak garis tentang keturunan. Pasti ada sosok ibu. Nah.. sekarang kita telaah baik-baik. Sehebat tokoh Habibie, tokoh Merry Riana, tokoh Oki Setiana Dewi, Pak Susilo dan Bu Ani, lalu mba Dian Sastrowardoyo dan masih banyak lagi tokoh hebat lainnya tentu ada sosok ibu yang menyertai mereka. Tentu ibu yang hebat yang melahirkan generasi hebat,"

"Bukannya setiap anak sama ya?"

"Yaa sama. Setiap anak bagai kertas putih. Ibu yang hebat akan menorehkan tinta akhlak baik pada anaknya. Lalu jika satu ibu mampu menorehkan akhlakul karimah di kertas satu anak lalu bagaimana jika ada puluh jutaan ibu yang melakukan hal yang sama pada anaknya? Maka dari itu posisi seorang ibu bisa mendukung tegaknya negara. Pernah dengar ini "wanita adalah tiang negara," maka jikalau ingin menghancurkan negara maka hancurkanlah wanitanya. Cara mudah memahaminya seperti itu,"

"Subhanallah... lalu bagaimana sekiranya kita yang belum siap memikirkan ke arah sana (menjadi seorang ibu)?"

"Siap atau tidak kita akan menjadi seorang ibu, insyaallah... maka dari itu kuncinya adalah teruslah belajar. Belajar untuk bisa menjadi wanita yang baik. Baik akhlaknya. Baik ucapannya. Baik tingkahnya. Cerdas itu banyak dan bisa diraih siapa saja tapi kalau menjadi ibu yang baik sekolahnya cuma satu, di masa hidupnya. Cantik bisa dibuat dengan banyak teknologi namun menjadi ibu yang sholehah dibuatnya cuma satu cara yaitu dekat dan berdoa sama Allah agar disholehahkan setiap hari. Lalu satu yang paling penting lagi, jikalau kita tak sadar arti hidup kita di masa depan maka kita tak akan semangat belajar. Maka dengan kita sadar akan menjadi apa kita di masa depan kita akan terus dicambuk agar tidak malas. Saya sangat sadar... bahwaa saya akan menjadi ibu bagi anak-anak saya makanya saya akan terus belajar agar anak-anak bangga akan mamanya yang bisa menemani dan mengajarinya banyak hal,"

Dan beliau membuat saya memikirkan sangat jauh ke depan. Tentang arti diri saya dan masa depan saya yang indah menjadi ibu atas anak-anak saya.

Satu pesan beliau untuk kita semua para wanita sholehah,

"Ingatlah saat anak burung ingin belajar terbang dan ibu burung sayapnya patah maka tak sempurna perkembangan burung kecil itu. Begitulah peran kita yang tak dijalankan dengan baik karena kita belum cukup bekal maka yang akan merasakan dampaknya adalah anak-anak kita,"

Semoga kita menjadi ibu yang sholehah. Ammiinn...

*catatan ingin belajar.

Kekuatan doa


Doa

"Selamat atas keberhasilan pencapaian hingga saat ini,"

Kalimat tersebut pasti sering kita dengar ketika keberhasilan atau prestasi yang kita raih. Atas hasil kerja keras yang kita lakukan terus menerus hingga tujuan kita tercapai. Inilah kalimat yang menumbuhkan rasa teramat bahagia atas perjalanan yang dilalui. Tentu bukan jalan yang lurus mulus dalam berjuang. Akan banyak belokan, batu kerikil, tanjakan, turunan yang akan kita lewati. Tak ada yang serba instan. Tak ada yang serba mudah. Mie instan saja butuh waktu 5 menit dalam penyajiaannya. Sama halnya dengan perjalanan hidup kita. Akan ada titik lanjut, titik jatuh, titik berhenti. Tinggal kita memilih mana yang ingin kita tempuh dan menanggung apapun resikonya.

Namun... sejenaklah kita ingat kembali tentang satu kata ini, D O A. Kata yang singkat diucapkan namun dahsyat dampaknya dalam perjalanan hidup kita. Paling sederhana saja, doa kedua orang tua kita. Beliau selalu ucapkan bait doa yang sama dalam waktu yang sama pula. Berharap akan menempuh banyak kebaikan dan keberhasilan bagi putra-putri mereka. Doa keluarga kita. Yang sama bahagianya mereka dalam berdoa untuk kemudahan urusan kita. Lalu diantara kehidupan rupanya selalu ada teman-teman yang baik yang menjadi saksi perjuangan langkah kita. Dan teman yang baik pasti mendoakan teman lainnya agar ditunjukan jalan yang lurus.
Tanpa kita sadari bahwa gerak kita ternyata diiringi doa doa tulus dari mereka yang menyayangi kita. Tanpa kita sadari tak akan majulah sebuah kerangka bus tanpa mesin bus itu. Maka tak akan majulah badan dan ruh ini tanpa doa yang mengiringi.
maka tak ada salahnya ketika ada teman kita berharap, "mohon doanya yaa...." bisa jadi permohonan kita cepat dilaksanakan Allah.
Atau malah kita yang tanpa daya upaya mohon doa restu orang-orang sekitar kita.
Sesungguhnya memang pada Allah adalah tempat kembali dan mohon pertolongan. Dan lewat doa, agar pertolongan atau pun permintaan segera dijemput.

Dan sebagaimana peribahasa, "jangan jadi kacang yang lupa kulitnya," jangan jadi orang yang lupa pada kebaikan orang lain. Bukan hanyaa bala bantuan namun bala doa pun sangat berharga.

Ya Allah... sayangilah kedua orang tuaku, sayangi guru-guruku. Sayangi teman-temanku, sayangi orang-orang yang sudah ada dihidupku.
Panjangkanlah umurnya, mudahkanlah rezekinya, mudahkanlah urusannya,
Ikatkan kami dalam persaudaraan yang kuat.

Untuk itulah Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Karena tak ada yang bisa dimiliki manusia selain amal perbuatannya. Dan tak ada yang bisa dibanggakan ketika kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Hanya kepada Allah kami meminta dan mohon pertolongan dalam untaian doa.

*catatan ini saya tulis dalam keadaan syukur tiada tara karena adik perempuanku akan menempuh pendidikan universitas negeri jakarta jurusan pendidikan luar biasa.
Jurusan favoritku.
Terima kasih ya Rabb...

Jumat, 31 Juli 2015

Ayah

Catatan broken home

"Ayah udah ga sama aku lagi. Ayah udah ga sama mama, ayah udah jauh banget,"

Sosoknya yang mungil dan cantik mengalahkan dugaanku. Aku gambarkan mereka dalam keluarga yang bahagia. Yang harmonis dan penuh canda tawa. Namun perceraian telah membentangkan jarak di antara mereka. Ayah dengan putrinya. Bahkan tak perlu lagi untuk saling menyembunyikan soal perceraian untuk putrinya, bahwa putri kecil mereka sudah paham bahwa ayah ibunya sudah tak bersama lagi.

Tiara, ia tetap tersenyum ketika ku tanyakan tentang keluarga kecil bahagia. Lalu inilah jawabannya.
"Keluarga itu ada papa, mama dan aku bersama,"

Sambil menggambar sosok papa mamanya. Seperti harapan kecil mulai terpancar.

"Keluarga itu ada dalam satu rumah."

Kalimat terakhir itu yang harus digaris bawahi. Ditebalkan kalau bisa. Tak ada yang ingin perpisahan. Bahkan seorang bayi pun tak ingin berpisah dengan bau ibunya. Tak ada yang menginginkan perpisahan jika pada akhirnya akan saling pergi dan berjauhan. Tak ada yang ingin berpisah jika pada akhirnya ada hati yang merindukan keduanya hadir kembali.

Terima kasih ya Allah.. Kau kirimkan banyak pelajaran penting yang harus aku serap setiap hari tentang menjalani hidup ini. Tentang anak-anak yang butuh dukungan dan tempat berbagi agar saling mencurahkan kesedihan mereka. Berbagi harapan mereka. Dan bahagia bersama mereka. Karena kita tak pernah bisa menerka masa depan mereka. Mereka yang bersedih saat ini bisa jadi adalah presiden negeri ini di masa depan. Mereka yang broken home saat ini bisa jadi adalah seorang pengusaha minyak dunia. Kita tak pernah tahu pasti. Dukung dan arahkan mereka, untuk berkarya dan berbahagia.

Sewajarnya

Sewajarnya.

Aku tahu hal yang melebihi dosis adalah hal yang buruk untuk tetap dilakukan. Aku tahu hal yang berlebihan bisa menjadikan kita kehilangan arah dan tak bisa objektif dalam segala hal. Aku tahu bahwa hal yang tinggi bisa mengajarkan kita berhati-hati agar tidak jatuh. Atau hal yang rendah mengajarkan kita untuk bisa terus meningkat. Aku tahu.. bahwa keramaian mengajarkan aku untuk bisa menempatkan kesunyian pada kadarnya dan sebaliknya menempatkan keramain untuk mencairkan kesunyian. Aku tahu.. bahwa semua yang berjalan pada jalurnya akan sampai dengan waktu yang pas dan tepat.

Itulah yang ingin aku gambarkan tentang kamu. Aku ingin bisa menemanimu dalam hal sewajarnya. Tanpa aku lebihkan karena aku takut hal yang buruk terjadi atau aku kurangkan. Aku ingin sewajarnya. Sesuai kemampuanku. Tak ada hal yang harus aku paksa padamu untuk bisa menjadi hebat dan luar biasa. Aku ingin bisa dengan sewajarnya. Perhatianku yang sewajarnya padamu. Karena yang aku tahu terpenting adalah aku bisa menjaga hatiku utuh dan tak hancur sedikitpun. Aku hanya ingin tetap menjaganya tetap tenang dan damai untukmu. Meski banyak hal yang bisa saja memalingkanku darimu. Tapi niatku adalah menjaga. Ku rasa itu cukup. Maka ketika ada orang lain yang bisa memberimu sangat spesial maka aku akan tersenyum dan berkata, aku hanya ingin menjaga hatiku untukmu. Maka aku ingin mencintaimu dengan sewajarnya. Tak harus aku datangkan pelangi indah dalam hidupmu karena akulah pelangi itu untukmu. Tak perlu aku bawa bulan agar sabitnya untukmu tapi akulah bulan terang indah untukmu. Maka izinkan aku bersamamu dalam sewajarnya. Tak aku istimewakan dan tak aku kesampingkan. Percayalah... aku hanya ingin menjaga hatiku.

Sabtu, 25 Juli 2015

Mom where are you go?


Mom where are you go?

Ketika aku lihat mereka pergi bersama mama mereka ke sekolah, ada kecewa di hatiku. Tak ada satu genggaman tanganpun yang mengantarku pergi ke sekolah.

Ketika bu guru tanyakan soal kamu, aku hanya diam lalu tersenyum tanpa aku tahu maknanya apa. Aku berfikir bahwa kamu sudah jauh sekali dariku.

Aku setiap malam belajar mah. Aku kerjakan semua PRku. Sesekali aku tanya pada nenek jika aku kesulitan. Tapi nenek tak tahu banyak mah.

Lalu ketika ulangan, ingin sekali mah. Aku tunjukan pada mama. Lalu aku bilang dengan bangganya, "aku dapat 100 dan ini buat mama," tapi mama tidak ada saat itu mah.

Ketika semua anak datang bersama orang tuanya mengambil rapor mereka. Aku bersama nenek mah. Aku mengambilnya bersama nenek. Dan bu guru juga sudah tahu kalau mama tak akan datang.

Mah... seandainya mama ada di sini. Lihat aku setiap hari. Temani aku nonton tv. Temani aku main. Lalu kita makan bersama. Shalat bersama. Tidur bersama dalam satu atap rumah. Aku senang sekali mah... aku ingin seperti itu. Ada kehadiran mama. Itu sudah cukup. Tak ada papapun tak apa mah. Aku tahu papa sudah pergi dan bahagia dengan keluarga barunya. Tapi aku mah... aku masih punya mama kan? Aku masih punya mama walau jauh. Walau sedang berjuang di kota buat cari nafkah untukku.

Aku masih punya mama kan? Mama yang setiap malam aku doakan kesehatannya. Setiap malam aku sebut nama mama dalam doa tidurku.
Aku masih punya mama kan?
Yang ketika pulang membawa banyak makanan dan mainan untukku. Lalu aku katakan semua temanku, "mamaku pulang aku mau main sama mamaku?"
Mah..  saat itu adalah yang paling aku rindukan. Mama dekat dengaku. Walau setahun sekali. Mama ada untukku.
tapi mah... mama tidak seperti biasanya. Mama tidak perhatikan aku lagi. Mama sibuk dengan handphone mama. Mama selalu di kamar. Aku ingin ajak mama main dan makan bersama denganku. Tapi aku takut mah.

Mama masih untukku kan? Ketika aku ingin dekat dengan mama. Mama katakan bahwa aku main saja sendiri. Lalu saat aku ingin bersama mama, katanya aku harus makan sendiri. Ketika aku mau main dengan mama, mama sibuk dengan urusan kerjaan mama. Ketika mama nonton tv, mama tertawa lepas, ketika aku datang dan ingin menonton bersama mama kata mama aku keluar saja main bersama yang lain.

Mah... mama masih mamaku kan? Kenapa yaa mama berbeda? Aku sangat merindukan mama. Mah... kenapa mama berkata keras padaku? Padahal aku ingin pujian dari mama. Ingin pelukan dari mama. Seperti mama temanku yang lain.

Mah... mama berikan aku uang banyak. Uang itu untuk sekolahku. Tapi aku ingin sebentar saja dengan mama. Ingin bisa bersama dengan mama. Ingin tetap bersama dengan mama sebelum mama pulang. Tapi...
Hmm... mah... apakah mama sudah nyaman tinggal disana? Di kota tanpa aku. Mama bisa bekerja dan mengirimkan uangnya padaku. Apa disana hidup mama sudah enak? Aku khawatir mah... malaikatku jauh dariku. Mah... aku khawatir kalau mama terlalu lelah bekerja. Aku khawatir mama jauh dariku. Aku khawatir mah... aku khawatir... aku selalu titipkan mama pada Allah. Semoga Allah tetap menyayangimu mah. Tetap menjagamu.

Mah... bolehkah aku bersamamu? Tapi... kau tak ingin mah, "udah ga usah kamu disini aja. Mama mau kerja,"
Terima kasih mah... sesibuk apapun mama, mama berjuang buatku. Ketika mama pergi dan meninggalkanku lagi, aku berdoa... kelak keluarga kita akan bahagia mah. Aku akan jaga mama sampai mama tua. Aku merindukan mama. Sehat terus ya mah...

Catatan ini saya dapatkan dari seoarang anak perempuan berusia 10 tahun yang rela jauh dari ibunya yang bekerja di kota. Berharap ketika pulang ia dapatkan kasih sayang yang sangat ia rindukan. Namun... seperti pungguk merindukan bulan. Seperti daun yang ditiup tak sampai langit. Bahwa kesibukan telah merenggut harapan anak ini. Semoga kita belajar untuk memberi perhatian walau sebentar saja untuk orang yang kita sayangi.

Catatan broken home
m*