Rabu, 02 Oktober 2019

Day 3 - Ibu

Ibu
"Dia adalah orang yang paling berharga di dunia ini," ucap Arum kepada teman-temannya.

Sepenggal kalimat terdengar dari Arum saat menceritakan sosok Ibu di depan kelas. Semua orang terpukau dan bertepuk tangan mendengar kata demi kata, deskripsi tentang "Ibu" termasuk Ibu Sri, guru Bahasa Indonesia yang sedang menilai kami.

Giliranku maju. Ku kisahkan "Ibu terbaikku" dengan penuh keyakinan. "Orang yang pertama kita cari jika kita pulang ke rumah adalah ibu. Jika Ia tak hadir di rumah dalam sekejap kita semua pasti bertanya, 'Ibu kemana?'. Ibu selalu memahami suasana hati kita. Tanpa kita cerita, sinyal kegundahan pasti tertangkap. "Kamu kenapa hari ini?" sebuah pertanyaan yang paling memahami dan Ibu pasti setia mendengar keluh kesah kita."

Pipiku mulai menghangat. Ku tahan sebisaku untuk tetap bercerita.

"Orang di dunia ini yang paling khawatir akan keadaan kita. Jika kita sakit, segalanya akan Ia lakukan demi kesembuhan kita. Cari obat kesana kemari. Memantau keadaan sakit kita bahkan Ibu kurang terlelap tidur menjaga kita."

"Ibu paling cerewet mengatur segala keperluan kita. "Cerewet" mulai dari bangun tidur hingga kita terlelap tidur lagi. Kata-katanya menjadi nada yang paling indah. "Nak.. Mandi cepat sana!", "Pulang langsung ganti baju!" , "PR sudah dikerjakan belum?"

Tak terasa air mata mengalir di pipi. Segera Ku usap untuk meredakan rasa haru dan sedih.

"Setiap Ibu akan memastikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ibu adalah sekolah pertama bagi kita semua. Air susunya menjadi makanan terenak bagi kita. Ia diciptakan dengan hati yang luar biasa sabarnya. Sepanjang hidupnya akan mencurahkan kasih sayang tanpa kita minta.Betapa hebatnya perjuangannya dalam mempertaruhkan kehidupanku di dunia. Keikhlasan dengan ketulusannya adalah kedamaianku."

"Bagaimanapun keadaanku , Ibu akan selalu menerimaku. Tangannya terbuka dan siap memelukku. Mungkin tanpa kita sadari, setiap kehidupan kita berjalan mudah bisa saja ada doa Ibu yang mengiringi langkah kita. Keridhoannya adalah sumber kebahagiaanku."

"Allah selalu sayang Ibu, Alfaatihah.."

#nuliskeroyokan
#GerbongAksara
#GerbongAksaraDay2

Selasa, 01 Oktober 2019

Day 2 - Sosok Ayah di Mata Kami

Sosok Ayah di Mata Kami

00.24 tengah malam, pintu ruang tamu terbuka. Ia pulang membawa gendang kulit kesayangannya. Tiga kali seminggu Ia habiskan malam untuk menjadi pemain live music Hotel terkenal di Ibu kota. Bungkusan makanan Ia taruh di meja, berharap semua anaknya akan bahagia ketika bangun tidur. "Ada makanan enak!" apakah Ia makan? Ia hanya ingin anak-anaknya merasakan kehidupan yang enak. Cukup itu saja.

Di musim penghujan, Ia tetap berangkat untuk menjemput putrinya pulang sekolah. Bahkan satu jam lebih cepat dari waktu kepulangan. Ia harus memastikan bahwa ketika pulang putrinya aman. Walau kulitnya sebenarnya dingin menggigil. Apakah Ia menyerau kedinginan pada putrinya? Tentu tidak, Ia tersenyum bangga bahwa putrinya sekolah dengan aman.

Ketika anaknya merengek untuk segera membayar field trip dengan nominal jutaan, Ia tetap menjanjikan kepastian bahwa kesayangannya akan tetap ikut. Bahagia rasanya mendengar janji pasti itu walaupun Ia sebenarnya tidak tahu dapat tambahan uang dari mana lagi.

Ia pernah marah hingga wajahnya  memerah hanya karena putrinya enggan untuk melanjutkan sekolah. Sederhana, kehidupan sudah sulit ditambah biaya kuliah dan lainnya serasa menambah kesulitan. "Itu urusan Ayah, kamu hanya sekolah!" Waktu sangat menjelaskan bahwa laki-laki terhebat dan paling pasti janjinya adalah Ayah. Cinta pertama bagi putrinya yang mengajarkan tanggung jawab dan kasih sayang yang tulus. Tak ada kata menyerah dalam mengutamakan keluarga.

Bahkan seorang Ayah rela sakit saat bekerja. Bahkan ada yang sakit berkepanjangan karena kecelakaan kerja. Setiap peluh keringatnya adalah butiran pahala yang akan menjadi penyelamatnya di akhirat.

Untuk semua kesabaran dan keihkasalan Ayah... Kelak kami semua akan merasakan menjadi orang tua. Kami akan mengingat bahwa dalam hidup kami, ada Ayah yang mengajarkan kami memaknai kehidupan. Kami akan berjuang demi anak-anak kami kelak.

Menjadi orang tua yang dirindukan surga.

#nuliskeroyokan
#GerbongAksara
#GerbongAksaraDay2

Day 1 - Ikhlas

Ikhlas

Bertahun-tahun Aku merantau di Ibukota demi peningkatan taraf hidup. Meski berkali-kali Ibu selalu berkata, "Pulang Nak, temani Ibu saja !" Aku hanya ingin keluargaku mendapat kehidupan yang lebih layak dari segi ekonomi dan sosial.

Aku semakin ambisius dalam bekerja. Semua target ku capai untuk mendapat bonus dari Kantor. Setiap bulan Ku kirimkan uang untuk Bapak dan Ibu. Nominalnya beragam. Tergantung bonus yang Ku dapatkan.

Beberapa tahun berlalu, lambat laun ekononi Bapak dan Ibu di Kampung semakin baik. Bapak bisa usaha jualan lampu keliling serta Ibu membuka warung sembako. Dua kesayanganku kini tak perlu menggarap sawah orang lain. Tak perlu bekerja berat menjadi petani.

Hatiku semakin lega. Melihat kehidupan kami yang lebih baik. Walau terselip luka di lubuk hatiku tentang kisah pilu keluarga kami.

Lima tahun lalu, adik perempuanku sakit keras. Penyakit TBC ada di dalam paru-parunya. Ekonomi kami sangat sulit. Bapak berusaha meminjam uang ke tetangga. Namun hanya beberapa saja yang bisa dipinjamkan. Masih belum cukup. Hingga Bapak memutuskan untuk meminjam uang ke juragan pemilik sawah. Bukan jalan terang yang bapak dapatkan namun hinaan untuk kami.

"Memangnya disini ladang uang, kamu bekerja pun hasilnya kurang meningkat di ladang saya. Sudah miskin sakitnya susah pula," begitulah ujar sang juragan.

Bapak pulang dengan tangan hampa. Hingga waktu menjelang malam, Adikku tak tertolong. Kami berusaha membawanya ke rumah sakit namun Allah lebih menginginkan Ia kembali.

Aku meringkuk di selasar rumah sakit. Ku peluk Ibu erat. "Seandainya dagangan telur asinku laris, Aku jadi juragan hidup kita layak, adik pasti tertolong," Aku menyesali bahwa kenyataannya Aku pedagang telur asin keliling dan belum bisa mencukupi ekonomi keluarga.

"Sudahlah, Nak. Tak ada yang bisa menyangkal dari kematian. Kehidupan kaya maupun miskin, semua menunggu kematian, bukan?"

Keputusanku bulat. Tekadku kuat. Aku merantau ke Ibu kota untuk bekerja di Kantor teman sekolahku. Aku jalani kehidupan dengan alasan kuat, keluarga. Ku rasa saat kita berada dalam kesulitan ketika keluarga adalah alasan kita berjuang, selalu ada kekuatan lebih dalam diri kita untuk menghadapinya. Aku berjuang demi keluarga.

Memori itu akan erat dalam benak ini. Aku selalu belajar memaafkan untuk setiap kehidupan yang dilalui. Mengikhlaskan untuk yang bukan milikku. Berusaha untuk membahagiakan kedua orang tuaku.

#nuliskeroyokan #GerbongAksara #GerbongAksaraDay1

Minggu, 05 Mei 2019

Catatan garis dua : [Days 2] Hijrah

Assalamu'alaikum sahabat blogger.

Bagaimana puasa hari ini? Semoga Allah limpahkan berkah dalam setiap kegiatan ibadah kita.

Ada satu kata yang melekat di fikiran. Hijrah. Kata yang ingin sekedar sharing tentang makna hijrah dan pengaruhnya.

Hijrah secara istilah artinya adalah berpindah dari satu hal buruk menuju kebaikan atau dari kebaikan menuju yang lebih baik lagi. Hijrah bukan hanya tentang pakaian yang mode lebih menutup aurat atau yang familiar di telinga kita adalah syari namun hijrah adalah menuju proses kebaikan dalam segala aspek kehidupan.

Hijrah bukan tentang trend saling menunjukan menjadi lebih baik di depan khalayak umum namun menjadi tanggung jawab untuk kebaikan dalam segala aspek kehidupan kita.

Hijrah bukanlah proses yang mudah. Namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Hal yang paling kecil yang bisa kita kembangkan tentang hijrah adalah meminimalisir akhlak buruk dalam diri kita. Termudah adalah hijrah menuju solat tepat waktu. Allah akan memudahkan urusan Hamba-Nya ketika kita mulai memperbaiki sholat.

Jika ada teman kita yang berusaha hijrah bukan sok alim. Justru ia tengah berjuang untuk menuju kebaikan. Kebaikan akan terasa saat dilakukan bersama. Hijrah akan semakin ringan jikalau ada teman hijrah sehidup sesyurga.

Sabtu, 04 Mei 2019

Catatan Garis Dua : [Day 1] Memaafkan

Assalamu'alaikum. Dear sahabat blogger.

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Bulan penuh kemuliaan dan ampunan. Bulan yang dirindukan bagi kita semua.

Ditemani dengan secangkir teh hangat di pagi hari. Sudahkah kita mulai membuka hati? Bukan hanya untuk si doi yaa... Membuka hati untuk Allah SWT.

Penting untuk memahami bahwa hakikatnya kita adalah makhluk yang penuh kekurangan. Takdir kita telah tertulis di Lauhul Mahfuzh, Namun semua bisa berubah lebih baik atau sebaliknya tergantung usaha kita dan ketaqwaan tentunya.

Allah selalu menerima hamba-Nya bagaimanapun keadaannya. Namun sudahkah kita menerima diri kita seutuhnya? Kita terlahir  ke dunia di keluarga yang luar biasa. Tumbuh dan berkembang di tengah era yang terus berganti. Segala ambisi terpatri dalam alam bawah sadar. Namun jalan tak selamanya mulus. Ada jurang yang dalam. Ada bukit yang terjal. Ada badai yang berusaha menghentikan langkah. Namun tak semua yang kita inginkan menjadi nyata. Ada saja bisikan dalam hati untuk berkufur nikmat atas segala anugerah. Ehmm memang syetan selalu menggiring manusia ke jalan keputusasaan.

Dalam diri manusia dianugerahkan hati yang suci. Sungguh saat kegagalan datang dalam benak kita muncul kekecewaan. Mencari sebab asal muasal dengan segala alasan. Hingga kita jatuh dalam lumbung kekufuran dan merubah haluan. Tahukah apa yang menakutkan dari keputusasaan? Kita melupakan bahwa fitrah kita adalah manusia istimewa ciptaan Allah. Allah Maha Kuasa atas segala keadaan langit dan bumi. Termasuk alur kehidupan kita. Allah akan memberi jalan terbaik dalam kehidupan. Namun tingkat kebaperan berbanding terbalik dengan rasa syukur. Jika kita sedikit bersyukur maka hati kita akan memainkan peran. Misal membandingkan kehidupan dengan orang lain. Maka baper menjadi semakin santer di hati.

Segala bentuk ekspektasi. Jika Allah berkehendak maka Allah mudah mewujudkan. Namun jika Allah tunda atau Allah ganti dengan yang lebih baik maka keikhlasan diri yang sedang diuji. Bagaimana awal dari keihklasan? Memaafkan segala yang terjadi. Peristiwa yang sudah berlalu maka maafkanlah. Hati yang pernah tergores maka maafkanlah. Diri kita dengan segala keterbatasan maka maafkanlah.

Memaafkan mengantarkan kita pada keluasan hati dan kedamaian. Pahamilah dunia dan seisinya bukanlah perlombaan saling menjatuhkan. Bukan pula ajang saling menunjukan derajat. Dunia hanya setitik fase yang singgah sesaat. Tahu kan singgah? Tidak ada yang lama. Bus saja engga lama tuh kalau singgah di terminal. Selalu memaafkan. Harus selalu memaafkan.

Dalam hati ini terdapat ketulusan untuk memohon maaf kepada seluruh sahabat blogger. Mohon maaf untuk segala kekhilafan dalam berselancar di dunia maya. Izinkan saya post 30 hari untuk memaknai bulan suci ini.

Salam sayang.
Eka

Sabtu, 20 April 2019

Catatan Garis Dua : [ Review Film ] Ibu Maafkan Aku

Assalamu'alaikum... Dear sahabat blogger.

Semoga malam Sabtu adalah malam yang indah untuk berkumpul dengan keluarga. Sudah tidak sabar, jari ini ingin mengetik review dari sebuah film.

Judulnya sederhana, "Ibu Maafkan Aku". Film ini tayang di salah satu stasiun tv nasional.

Dikisahkan, seorang ibu yang berjuang sebagai pemecah batu sungai dengan dua orang putra dan seorang putri. Ketiga anaknya berjuang untuk menuntaskan pendidikan. Anak pertama, Bayu. Ia bercita-cita menjadi seorang pilot. Setelah lulus SMA, Ia putuskan untuk merantau ke Kota. Bertekad akan mengubah nasib dan pantang pulang sebelum sukses.

Kegigihan menuntun kita pada jalan impian kita. Bayu membuktikan bahwa Ia bisa meraih cita-cita dan pulang ke kampung untuk menjenguk ibunya. Gagah, tampan, berpendidikan. Kini Bayu menjadi pemuda yang sukses karier dan pendidikan.

Anak kedua, Gendhis. Ia bercita-cita menjadi seorang Dokter. Sejak lulus SMA, Gendhis ke Kota untuk kuliah jurusan kedokteran. Bermodal uang tabungan dari ibu, Gendhis berusaha mengejar beasiswa. Nasib baik berpihak padanya, Ia lulusan terbaik dan ditempatkan di daerah dengan gelar barunya, seorang dokter. Muda, cantik, cekatan dan berpendidikan. Namun, pekerjaan menuntutnya tetap siaga di daerah pedalaman. Ibu memang bangga padanya, namun kerinduan semakin bertambah untuk kedua anak-anaknya.

Anak ketiga, tetap menjaga ibu. Ia masih di bangku sekolah menengah atas. Kebutuhan hidup keluarga telah terpenuhi dari kedua anak-anaknya yang sukses. Namun itu belum bisa menggenapi rasa sepi di hati ibu. Tiap bulan, kiriman uang selalu bertambah. Namun tetap, dalam hati seorang ibu adalah merindukan kepulangan anak-anaknya.

Beberapa pesan singkat, voice note dan panggilan dikirim untuk mengobati kerinduan. Hasilnya nihil. Semua sibuk dalam karier dan karier.

Hingga suatu hari, mata ibu terkena pecahan batu. Penglihatannya menurun. Kedua anaknya menambah uang bulanan untuk pengobatan, namun ibu bersikeras untuk tetap bekerja, memecahkan batu sungai.

Makin hari kian menyepi, ibu justru sering sakit bukan karena menua tapi karena ingin dijenguk oleh anak-anaknya. Hingga suatu hari, ibu jatuh pingsan karena serangan jantung.

Kedua anaknya segera pulang. Kecemasan tergurat jelas di wajah keduanya. Gendhis, sang dokter segera memberikan pertolongan.

"Ini harus dibawa ke ruma sakit, biar mba yang urus. Disana peralatan lengkap," ucap Gendhis.

"Gimana kalau mba saja yang rawat ibu di rumah? Ibu cuma ingin lihat mas dan mba pulang. Nemenin ibu. Sebenarnya uang bulanan untuk berobat tidak pernah dipakai. Ibu menolak. Katanya simpan saja. Mba sama Mas capek cari uang jadi ibu ga mau habiskan. Ibu masih sanggup kerja,"

Sesak menyelimuti dada Gendhis. Selama ini ibunya hanya butuh kehadiran anak-anaknya. Bukan kehadiran uang mereka.

Dari kisah ini, justru saya terasa terbawa pada konflik yang memang nyata di masyarakat. Bahwa sejauh apapun langkah seorang anak merantau, sesukses apapun seorang anak tetap di sisi seorang ibu kasih sayang selalu utuh untuk anak. Harta bisa membahagiakan, namun masa tua ibu dan bapak yang paling membahagiakan adalah menemani mereka. Jangan sampai masa sibuk merenggut bakti kepada mereka berdua.

"Tangan seorang ibu menuntun anak-anaknya ketika di dunia namun menuntun hati anak-anaknya sampai mereka menutup mata,"

Semoga Allah menjadikan kita semua menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

Salam sayang.

Catatan garis dua : Titik Bangkit

Assalamu'alaikum.. Dear Sahabat Blogger.

Lama hati ini ingin berlabuh. Lewat ketikan kata yang kadang kelu bibir ini mengungkapkan. Hati ini mulai mencari jawaban atas segala perasaan khawatir akan hari esok. Semoga rindu kian berkurang, meski sering absen selancar di blogger.

Titik bangkit ini saya mulai, setelah banyak pertanyaan yang dituju untuk kami berdua. Singkat, namun amat sangat bermakna di hati kami.

"Memang tidak bosan berdua terus?"
Atau dengan redaksi yang sama,

"Sudah hamil belum?"

Hati kami pun sedang mencari jawaban yang meyakinkan kami. Namun dengan pertolongan Allah maka kemudahan pasti datang.

Sungguh, kami sangat bahagia jika ada kabar kehamilan. Terlebih bagi pasangan yang masih baru dan diberi kepercayaan dari Allah. Namun pasti setelah itu, ada kebaperan dalam hati yang tidak bisa kami menampiknya.

"Aku kapan ya?"

Kami berdua selalu berusaha menjadi support system yang kuat. Itu adalah kekokohan yang harus kami bangun dengan segala terpaan pertanyaan netizen yang kadang suka kurang filtrasi.

Sudah berusaha sejauh mana?

Sejauh mata memandang, kami tak pernah lelah dan letih. Kadang, mereka yang bertanya dengan mudahnya soal kehamilan, misal begini "Kok belum juga ya? (Sambil jelasin masa pernikahan de el el). Sungguh sebesar apapun usaha kami, cukup kami dan Allah yang tahu.

Masa penantian ini menjadi titik bangkit kami. Ada satu kisah dari Uda nasi padang langganan kami. Suatu sore, kami makan di sana. Melihat anak Uda yang sedang belajar jalan, kami takjub dan berkomentar, " Duh baby girlnya cantik sekali,"

Uda hanya tersenyum. Dan langsung mengkisahkan perjuangannya.

"Saya menunggu satu setengah tahun untuk sebuah proses kehamilan. Saya dulu tukang gorengan mba. Saya bagikan gorengan satu plastik setiap hari. Kepada siapa saja. Mau yang saya kenal ataupun engga. Saya hanya minta dibacakan Al-fatihah untuk hajat saya yaitu memiliki keturunan."

Kami termenung. Justru kami yang belum mempersiapkan apa-apa bagi keturunan kami. Uda justru dengan gorengannya menjadi ladang pahala bagi keluarganya.

Uda dengan semangat melanjutkan ceritanya, "Kalau kita ingin rezeki yang berlimpah, maka siapkan wadah yang besar. Misalnya begini, kalau Allah memberi rezeki yang banyak tapi wadah kita kecil kan akan berserakan kemana-mana. Lain halnya kalau wadah kita besar, sebanyak apapun rezeki maka kita siap menampungnya. Anak adalah rezeki," jelas Uda.

Sungguh, sesederhana itu justru kami belum memahaminya. Kami fokus pada muhasabah diri dan mohon pengampunan atas dosa-dosa kami. Konsep Uda tadi menambah daftar target kami selanjutnya. Bahwa semangat berketurunan didukung wadah kebaikan yang besar.

Ini adalah titik bangkit kami. Fokus pada yang tidak dimiliki akan membuat kami lelah. Kelelahan itu akan mereduksi sedikit demi sedikit rasa syukur kami. Hingga ada di titik menyerah karena hampa mengejar dunia namun lupa dengan akhirat.  Sesungguhnya Allah akan mengubah suatu kaum jika kaum tersebut mau berusaha mengubah. Intinya usaha sejalan dengan doa dan tawakal. Dan titik bangkit ini kami jadikan wadah yang besar. Agar kami bisa menebar manfaat dan semangat.

Bagi para pejuang buah hati, Allah is best planner. Semua akan indah pada waktunya. Nikmati setiap kebersamaan bersama kekasih halal. Allah itu kalau memberi ga tanggung-tanggung.

Seterusnya akan ada banyak catatan garis dua dari kami. Kami ingin mempersiapkan dengan mengambil makna kebaikan.

Salam sayang
En