Selasa, 03 Juli 2018

Pengen Nikah Muda?

Assalamu'alaikum...

Dear sahabat blogger.

Sebenernya dari kemarin sudah ga tahan pengen bahas soal, "Pengen Nikah Muda, Nikah Aja Deh, Sudah Lelah Lagi Ga Syantik Pengen Nikah Muda, dan sederet judul yang intinya sama kapan si nikah?

Kemarin ga sengaja stalker FB temen, " Duh ketahuan gue tukang stalker" ada gambar yang captionnya gini :

Dear ukhti berhijrah, ada bahasan lain selain nikah ga? Contohnya, encourage cewe lain biar jadi sekeren dan se-fearless Khadijah. r. a., se-mandiri Siti Hajar waktu ditinggal suaminya berdakwah, sepintar Aisyah dalam mengingat hadits.

Cukup menggugah jari pengen ikut nimbrung dan kasih komentar tapi well di blog ini mudah-mudahan perasaan daku lega.

Setelah momen lebaran pasti ada beragam pertanyaan dari siapa saja yang ketemu sama kamu dan begini draf pertanyaannya,
1. Usia berapa sekarang, udah gede yaa dulu masih bocah banget? "Itu dulu kalee wkwkkw"

2. Sekolah dimana? Negeri apa swasta? Kuliah yaa? Negeri? Oh di swasta. "Terus ada klasifikasi kingdom perguruan tinggi gitu ya wkwkkw"

3. Kerja dimana? Gaji berapa? Hah nganggur? Emang ga ngelamar apa? Trus kita bales aja "Ngelamar anak om aja gimana pake cinta dan sejumput kasih sayang, ckckkckcck"

4. Mana calonnya? Kok ga dibawa? "Lagi lebaran sama keluarganya dong om," nah kalau yang jomblo, "Aku lagi fokus karir om," dibales sama si om, "Ah bilang aja jomblo," wkwkkwkw

5. Kapan nikah? Sebuah pertanyaan yang intinya sih kepo tapi kok ngena yaa, hiks hiks

6. Kalau sudah menikah, Udah isi belum? "Udah om," bales paling lembut. "Oh berapa bulan?" bales lagi paling ramah, "Bulan kemarin cilok, bulan ini diisi ketupat kayaknya bulan besok pizza deh ditraktir om yaa," jreng-jreng.

Semua pertanyaan tadi memang nyata terjadi dan bukan fiktif belaka. Saya pun merasakannya sendiri, untungnya si Cinta kasih pengertian yang lembut supaya bisa mendengarkannya dengan baik. Semakin berjalannya waktu saya belajar buat tidak teramat kepo dengan keputusan seseorang dan memilih jalan takdirnya. Tidak banyak komentar tentang takdir yang ia jalani. Semua sudah ada porsinya masing-masing.

Tingkat kebaperan terjadi saat di usia yang dianggap layak namun masih betah pacaran atau masih betah sendirian dan belum ada keputusan menikah.

Jujur, saya teringat kisa teman saya. Kalau waktu bisa diputar kembali, ia ingin menemukan takdir berjodoh dengan suami lewat caranya berkomunikasi dengan Allah. Bukan karena ga sengaja ketemu di suatu tempat, tubrukan bareng atau saling tukar pin bb. "Yeee FTV kali."

Saling komunikasi dan mengenal satu sama lain. Semakin berjalannya waktu ia baru menyadari bahwa kesungguhan cinta adalah pernikahan.

"Tidak ada obat penawar rindu antara dua insan selain pernikahan,"

Berhubung waktu itu ia tengah menyelesaikan pendidikan dan pasangannya siap menunggu sambil memapankan diri. Pertemuan, perjalanan, semua dilewati bersama. Hingga akhirnya menikah dan berumah tangga.

Saya bertanya, "Lalu benarkan pada akhirnya menikah dengan seseorang yang didambakan?"

Lalu ia menangis dan menjelaskan semuanya. Menjalani kehidupan berumah tangga ia menyadari bahwa banyak dosa yang harus ditanggung untuk menuju pernikahan. Zina mata, tangan, ucapan, fikiran, hati semuanya lumrah saat itu. Semua berbalut dalam kata pacaran. Ia menyadari dan akhirnya mendirikan shalat taubat untuk menghapus kegelisahannya. Menangis dalam doanya untuk bertaubat atas dosa yang mereka lakukan.

So well, aku jadi terharu. Ada saat titik rendah hambanya dan meminta kesempatan pengampunan untuk bisa tenang dalam kehidupan. Korelasinya dengan menikah? Islam sudah menjelaskan secara pasti soal zina tanpa ikatan halal adalah dosa besar dan kita wajib meninggalkan zina.

Allah telah memuliakan manusia dalam ikatan suci pernikahan dan akadnya menggetarkan hati dan pengen nangis kalau dengernya mah. Hiks hiks.

Lalu gimana soal menikah muda?

Ada quotes dari Merry Riana yang bisa kita pahami,

"Menikah bukan karena sepi"

Menikah bukan ajang lomba lari marathon yang saling bertekad untuk saling cepat-cepatan. Menikah bukan untuk mencari teman supaya bisa cekikikan bareng.

Yuks kita tengok kedua orang tua kita yang sampai saat ini membesarkan kita dan semua perjuangan mereka untuk bisa membina keluarga.

Menikah itu harus siap. Bukan karena sepi. Ada tanggung jawab di kedua pundak pasangan. Tanggung jawab sebagai pencipta peradaban baru. 

Lho kok bahasannya berat si? Iyaa yang enteng itu kapas. 

Peradaban itu dimulai dari keluarga kecil. Majunya peradaban dimulai dari keluarga. Bahkan aku pernah baca, "Jika ingin menghancurkan peradaban maka rusak wanitanya," 

Dalam berumah tangga, suami adalah penggerak peradaban dan istri adalah rahim kehidupan. Nah kalau sudah sampai sini bahasannya jadi makin paham mau dibawa ke mana arah pernikahan. 

Menikah itu enak ya?

Engga semua serial drama korea ada di pernikahan kita. Bahkan guru liqoat ku pernah bilang, "Menikah itu membuka gerbang masalah baru." Agak syok juga pas dijelaskan kalimat itu. Beliau menyarankan bukan untuk menakuti. Artinya kita harus siap lahir batin ketika dua kehidupan berbeda ada dalam satu atap rumah. Karena ga semua kehidupan manis kayak gula. 

Sebagai suami yang bertanggung jawab harus memenuhi nafkah lahir batin. Aku ulang yaa, lahir dan batin. Kebutuhan jasmani dan rohani harus dipenuhi untuk keluarga tercinta. Sandang, pangan, papan penting karena menikah merubah kehidupan seseorang. Contoh gampang di masyarakat, si istri pakai baju yang ga layak dan tetangga mengomentari tentang tanggung jawab suaminya yang ga mampu belikan baju yang bagus. Terus gimana tanggung jawab suaminya??? Itu contoh sajaaa ya..

Dalam pernikahan ada rezekinya kan? Iyaa Allah maha menjamin semua kebutuhan hamba-Nya. Selalu ikhtiar dan tawakal karena rezeki itu dijemput bukan ditungguin aja.

Aku apresiasi buat yang sedang menjaga kesucian dan tengah berusaha memantaskan diri. Karena jodoh adalah cerminan diri kita. Menjaga kesucian bukan hanya tugas perempuan. Laki-laki juga harus. Karena barang bagus kualitas bagus. Ga murahan atau abal-abal. 

Aku apresiasi yang punya prinsip kalau semua harus dipersiapkan. Apresiasi yang lagi berusaha memantaskan finansial agar sandang pangan papan si kesayangan halal nanti terjamin. Semua ga masalah kok. Asal tidak dalam balutan zina.

Kata Afgan kan, "Jodoh pasti bertemu, kalau belum yaaa sabar," sambil jalan-jalan jauh, buka toko, bikin usaha, olahraga, bikin komunitas, kegiatan kemanusiaan dan masih banyak lagi cara kita menyibukkan diri dari ga melulu bahas jodoh dimana????

Semua adalah pilihan. Jika kita memilih pasangan untuk menikah di usia muda tandanya kita siap menerima apapun yang ada dalam biduk rumah tangga. Pilihlah pasangan yang menjadikanmu ratu sepanjang hayat bukan jadi wanita yang terpenjara dalam pilihannya. Allah selalu melimpahkan keberkahan karena pernikahan adalah melengkapi separuh agama.

Setan itu paling kesel kalau ada yang menikah, karena setiap pandangan ke pasangan halal adalah ibadah. Setan paling bahagia kalau ada yang zina, karena setiap zina tandanya sedang direkrut jadi temen di neraka. Naudzubillahi mindzalik...

Tulisan di atas adalah pengingat diri saya agar lebih memaknai kehidupan.

Mohon maaf lahir batin.

Salam sayang

Wisata Air Panas Gunung Pancar

Assalamu'alaikum...

Dear sahabat blogger, semoga Iiburan panjang ini ga buat kita mati gaya yaa, hehehe karena cukup panjang yaitu kurang lebih 1 bulan bagi kami yang kerja di instansi pendidikan.

Alhamdulillah tepat hari Senin, tanggal 2 Juli kami sekeluarga pergi wisata ke Gunung Pancar di daerah Sentul, Bogor.

Asal mula ide pergi ke Gunung Pancar adalah stalker instagram. Lihat destinasi yang lagi hits di daerah Bogor. Gunung Pancar jadi salah satunya yang lagi instagramable di media sosial.

Dua tahun lalu, saya dengan si cinta pernah ke sana untuk menikmati liburan di akhir tahun. Suasana hutan yang teduh menyambut kami. Barisan pohon dan udara sejuk memanjakan kehadiran kami. Seger banget di mata kalau lihat yang hijau-hijau. Ga mungkin kami lewatkan tanpa sesi cekrek-cekrek. Sudut batuan besar, barisan pohon, jalan setapak jadi momen foto yang ciamik. Ga tahan dong, saking kerennya hasil foto plus didukung cara pengambilan angel oleh si cinta yang jago fotografi, hasil foto aku upload di IG. Dan semua respon pada nanya dimana lokasinya, kok kayak prewed, ada juga yang komen tentang pemutih badan dan peninggi badan, hhehe "Oke well aku udah ideal tinggi dan berat badannya wkwkkw."

Balik lagi ke perjalanan kami sekeluarga ke Gunung Pancar. Perjalanan lalu lintas lancar, karena kami berangkat jam 3 sore dan ambil jalur Cibubur - Tol Jagorawi - Sentul Selatan. Tidak ada hambatan dan kemacetan berarti di jalan. Kami memasuki area Sentul Nirwana dan mengikuti petunjuk jalan yang ada. Sampai di pertigaan, petualangan di mulai. Karena saya dan si cinta lupa ambil jalur yang mana antara kanan dan kiri akhirnya kita putuskan ambil jalur kiri. Kita lewati jalan dengan santai sambil cekiki-cekiki dan tanpa sadar kalau jalur yang kita ambil itu... Ehmm nanti kita bahas.

Jalan naik turun, sempit, batuan lebih seperti off road. Ada tanjakan yang langsung menikung. Ada juga turunan yang langsung menikung. Tapi Subhanallah, pemandangan mahal kami dapati di kanan kiri jalan. Barisan rumah penduduk, undak-undakan sawah, aliran sungai buat mata seger lihatnya. Makin lama jalan makin menanjak, saya dan si cinta baru sadar, "Kok jauh banget yaa, tiap papan pemberitahuan isinya jalur ke Curug," akhirnya kami coba tanya jalur ke penduduk setempat, dan wewww kita salah jalur kapten, may day may day. Eheheh agak norak si karena kali ini bawa mobil, dua tahun lalu kan naik motor. Agak malu si kalau salah jalur gini hahahhah

Ternyata yang kita lewati adalah jalur yang makin menanjak dan menuju destinasi curug yang tinggi. Lupa nama curugnya apa. Akhirnya kita mengikuti jalur yang lebih tepat si sebenernya. Nyesel ga udah salah jalur? Jawabannya Enggaaaaa, karena makin lama kok makin indah banget pemandangannya. Ada matahari sore yang ngintip-ngintip dari balik bukit. Jalan yang makin roller coaster, naik menanjak lalu turunan curam. Ternyata ga kerasa sudah jam 5 sore dan kita belum sampai di lokasi. Semakin sore kita masuk ke hutan. Kanan kiri hutan. Dan mulai berfikir, nyasar lagi ga si? Tapi kalau kita fikir pakai ilmu logika ini kan bukit pasti jalur hanya memutari bukit saja dan paling mentok balik lagi ke bawah. Dan suasana makin mencekam. Karena makin gelap. Sampai bilang ke yang lain, "Dzikir, Dzikir.." sudah lewati hutan yang sepi, rumah penduduk sudah tidak ada. Cuma semakin ke depan kita lihat ada kubah mushola. Alhamdulillah... Tandanya sudah mulai ada kehidupan. Lalu kami melewati turunan curam dan tidak jauh dari turunan ada gapura pemandian air panas Gunung Pancar. "Good Job!"

Petugas gerbang pun menyapa kami dan menanyakan kenapa kami datang dari atas.

Petugas : "Kok dateng dari atas pak?"

Mas Eko (Driver) : "Kita salah jalur pak, jadi kita ambil jalur naik lagi dan arahnya ke curug semua. Sampai sini juga nanya ke warga."

Petugas : "Beruntung lewat atas, karena kalau lewat jalur gerbang depan bayar lagi. Ada 7 dewasa dan 2 anak jadi 80 rb kalau lewat gerbang depan jadi 160 rb semuanya,"

Kita semua nyengir kuda.. Hehehhe jadi salah jalur kita semua adalah cara Allah menghemat biaya. Alhamdulillah...

Si Cinta yang rekomendasikan kalau berendam di air panas itu nikmatnya malam hari. Dan kita tepat sampai di sana pukul setengah 6 sore. Habis parkir cantik, kita semua beranjak masuk dan cekrek-cekrek momen di sudut yang ada. Masuk ke pemandiannya bayar lagi. Satu orang 5 rb. Jadi 45 rb buat beli tiket masuk lagi ke area pemandiannya. Di dalam ada kolam bersama ada kolam privat yang sengaja di sewakan buat pengunjung yang lebih nyaman dengan keluarganya saja.

Kami sepakat memilih kolam privat dengan biaya 100/jam. Setelah deal memilih lokasi petugas langsung mengisi kolam dengan air panas dan air dingin. Setelah ganti baju, kami bersiap berendam dan nyessss "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?" aseli rileks dan bikin badan jadi segar.

Cuma tipsnya adalah satu, kalau sudah berendam jangan terlalu lama bertahan di atas kolam. Lama kelamaan angin malam buat badan jadi kedinginan dan perut terasa mual

Menurut aku, Gunung Pancar memang cocok untuk mengabadikan foto kebersamaan dan foto prewed atau pascawed. Tapi sekarang, Gunung Pancar berbenah diri jadi lebih oke. Spot-spot foto ditambahkan untuk memanjakan yang addict sama foto. Pemandian air panasnya rekomendasi buat dicoba. Tapi kalau mau hemat, bisa coba jalur tersesat kami. Hehehe

Buat kami, kebersamaan itu jadi momen yang memang harus diusahakan karena sesibuk apapun kita akan kembali ke keluarga. Kalau kita sudah bekerja keras dan semua buat keluarga. Sampai sakit pun yang urus adalah keluarga, tempat kerjamu hanya menyaksikan loyalitasmu. So bekerjalah seporsinya dan travelinglah karena jalan-jalan buat kita sadar kalau Allah atas kuasa-Nya mengindahkan bumi.

Salam sayang
Semoga bermanfaat sesi curhat ini.

Sabtu, 30 Juni 2018

Hujan Karya Tere Liye

Assalamu'alaikum...

Dear sahabat blogger, ini adalah novel kedua yang alhamdulillah rekor terniat saya membaca novel dalam seminggu bisa mereview 2 novel. Kali ini novel karya abang Tere Liye yang mengoyak hati dan membolak-balikan emosi.

Saya paling antusias rekomendasi baca novel Tere Liye - Hujan.

Hujan. 5 susunan huruf itu berhasil membius saya untuk segera baca dan menamatkannya. Cukup 1 hari saya berhasil mencapai endingnya. Dalam pemilihan kata, novel ini membawa saya serasa ada di tengah-tengah cerita. Saya selalu membayangkan setiap part, karena detail keterangan baik itu waktu maupun tempat mengajak saya untuk hidup di tengah-tengah cerita.

Novel ini memiliki alur yang bolak-balik. Ada di sub bab dengan latar masa depan lalu ditulis di sub bab selanjutnya dengan latar masa lalu. Saya tidak bosan membacanya karena perubahan alur yang mengajak kita membayangkan apa yang terjadi di masa depan.

Novel ini juga mengangkat kisah bencana alam terhebat yang bisa meluluhlantahkan kota yang canggih dengan teknologi mutakhir. Ini menyadarkan saya bahwa bencana alam dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Namun bencana alam yang dikisahkan dalam novel adalah letusan gunung yang maha dahsyat dan dampaknya dirasakan puluhan tahun berikutnya.

Jujur, saya sangat menikmati saat di bab awal karena penggambaran saat terjadi bencana begitu kuat padahal hanya disampaikan dalam tulisan. Ini adalah tentang kisah pertahanan hidup yang perlu kita maknai. Bencana alam tidak dapat dihindari namun dapat dihadapi dengan keyakinan untuk bangkit kembali setelah semua terjadi. Lail dan Esok, dua tokoh utama dalam cerita mereka berdua kehilangan keluarga mereka dalam bencana gunung meletus. Bahkan usia mereka hanya 13 tahun dan 16 tahun.

Pada novel ini dikisahkan tim relawan dan seluruh kerja tim penyelamat untuk bisa mempertahankan korban selamat. Karena hampir seluruh penduduk yang ada di kota tersebut hanya 10% yang bisa diselamatkan. Saya tidak asing dengan pertolongan pertama, tindakan medis serta upaya kegiatan evakuasi karena saya pernah merasakan pengalaman belajar menjadi tim relawan. Novel ini mengajak saya bernostalgia dengan kegiatan saya ketika SMA.

Meski bencana telah usai, namun trauma tetaplah ada. Esok yang telah menyelamatkan Lail dari lorong bawah tanah ketika bencana, menjadi satu-satunya orang yang bisa melindunginya. Padahal ketidakterimaan Lail karena kehilangan ibunya yang tertimbun di bawah tanah membuat Esok harus memastikan keadaan Lail setiap saat.

Bertahun-tahun sudah bencana berlalu, Lail menata hidupnya kembali menjadi seorang relawan dan menjadi spesialis medis. Kehilangan ayah dan ibunya saat bencana menjadi luka bagi hatinya. Namun kehidupan tetap berjalan. Menjadi relawan adalah pembalasan untuk menghapus kesedihannya.

Esok, menjadi salah satu tim pembuat riset tentang kapal besar. Setelah bencana, iklim menjadi tidak stabil. Apalagi setelah intervensi sulfur dioksida ke lapisan stratosfer yang membuat suhu kota menjadi panas meningkat. Manusia diambang kepunahan, untuk itu Esok tergabung dalam riset besar untuk membawa hanya sepuluh ribu manusia. Ia menjadi sangat sibuk untuk suksesnya riset tersebut.

Sementara Lail, semakin dewasa ia menyadari bahwa Esok bukan hanya seorang laki-laki yang menyelamatkan ia dari reruntuhan tanah di lorong bawah tanah. Lail menyimpan rasa namun ia tak sanggup mengungkapkannya. Esok telah membuat harapan hidupnya bersinar. Menjadi penantian yang panjang untuk memahami, apakah cinta akan terbalas?

Hampir setiap kisah bahagia dan sedih terjadi ketika hujan. Hujan selalu mengingatkan Lail pada bencana, keluarga dan Esok, harapan baru baginya. Hingga Esok menjadi satu dari sepuluh ribu penduduk yang beruntung untuk pergi ke luar angkasa memulai kehidupan baru.

Bagi Lail, itu adalah kehilangan kesekian kalinya yang menyakitkan. Hingga ia memutuskan untuk menghapus semua kenangan menyakitkan dan hujan dengan alat pendeteksi memori syaraf dan bisa dengan mudah dihapus.

Namun bagi Esok, Lail juga penting baginya. Sejak bencana lalu, ia selalu berusaha melindunginya sekuat tenaga. Ia berusaha membuat hati Lail menerima kepedihan yang terjadi karena Esok juga mengalami kehilangan yang mendalam.

Bagi Lail, jika Esok pergi maka hilanglah semuanya. Jika ia menghapus memori tentang Esok, ia bisa melupakan pedih di hatinya. Karena ia menyadari bahwa Esok tidak lebih dari seorang laki-laki yang menyelamatkannya.

Bagi Esok, Lail harus tetap mengingatnya. Karena hati tak bisa dipungkiri bahwa cinta dan kasih sayang telah ada sejak dulu kepada Lail namun ia tak menyadarinya.

Keputusan terbaik bagi Lail, ia membatalkan menghapus memori syarafnya. Baginya memeluk kenangan akan lebih baik daripada berusaha melupakan. Esok memutuskan untuk menjalani sisa kehidupan di kota walau dengan cuaca ekstrem. Ia menyelamatkan ibunya dan putri wali kota yang berkat jasa ayahnya, Esok bisa bersekolah tinggi. 2 tiket kapal besar ia berikan untuk mereka.

Dari kisah ini, saya belajar "Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya. cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh di dunia ini ada misteri yang tak bisa dijelaskan. Menerimanya adalah kedamaian."

Dan bukan seberapa lama umat manusia dapat bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal yang menyakitkan yang mereka alami. Masalahnya bukan pada melupakan, namun menerima. Karena yang menerima maka ia bisa melupakan dan hidup bahagia. Namun jika tidak bisa menerima tidak akan bisa melupakan."

Berdamai dengan masa lalu-

Salam.
Eka Nurwati

Selasa, 26 Juni 2018

Hujan

Assalamu'alaikum...

Dear sahabat blogger,

Dua hari ini langit lebih sering mendung. Rintikan hujan menjadi ritme seharian. Hujan adalah tanda nikmat dari Allah untuk kita semua. Dari hujan juga kita bisa mengambil pelajaran, meski selalu terjatuh ke tanah, hujan tak pernah berhenti turun sebagai rahmat.

Salah satu waktu doa yang mustajab dikabulkan adalah ketika hujan. Beberapa ada yang mensyukuri datangnya hujan. Namun ada juga yang menganggap hujan menjadi penghambat aktivitas.

Bagiku, hujan selalu menghadirkan ketenangan di hati. Ritmenya yang alami menambah pengakuanku akan kehebatan Allah dalam menguasai seluruh alam semesta.

Hujan juga mengingatkan cerita dari abang gojek. Sepulang mengajar aku memutuskan untuk order ojek online. Sepanjang perjalanan driver berbagi banyak informasi. Kebetulan saat itu bahasannya adalah anak. Karena saya menanyakan jumlah anak beliau. Ehm ini si basa-basi aja hehe.. Obrolan merembet ke pertanyaan sudah menikah, sudah ada keturunan, suami kerja dimana, pokonya sudah kayak petugas sensus. Tapi sebagai penumpang yang cerdas penyampaian informasi tidak lengkap untuk menjaga keamanan bersama.

Saat cuaca lagi panas-panasnya, driver membahas soal hujan.
"Jadi bu, manusia kan berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Saya pernah membaca penelitian kalau kesuburan dan genetik bisa ditingkatkan dengan hujan-hujanan," jelasnya.

Aku masih belum 100% menyerap informasi yang barusan aku dengar.
"Maksudnya gimana yaa, bang?"

Dengan semangat driver menjelaskan lagi lebih detail,
"Jadi gini, air hujan kan berasal dari tanah. Dan unsur senyawa manusia mirip dengan tanah. Kan terbuat dari sari pati tanah. Jadi kalau ibu hujan-hujanan maka akan meningkatkan kesuburan,"

Aku paham dan menjawab singkat, padat jelas. "Ohh gitu,"

Well, entah itu riset mutakhir atau engga. Hujan-hujanan aku ga bisa nolak. Bahkan suka ngajakin suami kalau lagi hujan deres supaya ke luar dan main di lapangan. Karena rintikan hujan yang mengenai wajah rasanya adem banget. Seperti dibawa nostalgia ke masa kecil yang sangat menikmati hidup.

Namun, alangkah baiknya kala hujan saling berdoa dan memohon pada pemilik hujan. Allah SWT. Seperti saat ini , ada doa yang selalu terucap sama. Semoga kelak suatu hari nanti, aku, suami dan anak-anak kami bisa main hujan-hujanan bersama.

Aku paham kalau berdoa seperti mengayuh sepeda. Lama kelamaan akan sampai ke tempat tujuan. Dan aku akan terus berdoa pada Allah untuk keluarga kecilku

Senin, 25 Juni 2018

Pulang Karya Tere Liye

Assalamu'alaikum sahabat bloger

Alhamdulillah masih diberi nikmat menggoyangkan jari untuk menekan huruf di layar smartphone. Sekaligus sebagai tebusan postingan karena sudah lama juga ini blog ditinggalkan pemiliknya. He.. He maklum lagi sedang mewujudkan yang perlu diwujudkan.

Momen liburan kali ini dapat rekomendasi sama sahabat buat baca novelnya abang Tere Liye. Buat aku pribadi, nama Tere Liye sudah tersemat di memori otak sejak zaman SMA. Dunia sastra terasa dekat sejak SMA. Awalnya nulis cerpen tentang si doi. Tokoh utamanya doi. Dan sampai saat ini masih tersimpan rapi karyanya. 100% konvensional menggunakan pulpen meski pada zaman itu komputer dan dunia ketik-mengetik sudah mutakhir. He.. He.. Ada nikmat yang belum bisa dijelaskan menulis cerita masih di atas kertas binder.

Oke.. Balik ke topik, ini adalah review pertama setelah baca tuntas tentang karya abang Tere, "Pulang".

Dari kata Pulang, aku sudah kebayang ini soal taubat dan kematian. Namun 100% sok tau dan salah prasangka. Disini diceritakan dengan alur flashback. Beberapa sub bab diceritakan masing-masing waktu dan semuanya akan saling memahami dan menemukan jalur utamanya. Ada sub bab yang menceritakan saat masa kecil lalu di sub bab berikutnya menceritakan masa depan. 

Isi ceritanya lebih banyak petualangan dan strategi merebut kekuasaan. Seperti dibawa larut dalam cerita.

Isi ceritanya 100% ga ada bayangan kalau ternyata ini tentang dunia kelam. Dari sekian banyak kehidupan yang aku jalani sedikitpun tidak terbesit kalau ada kehidupan yang "Agam" jalani.
Agam adalah anak pedalaman yang terlahir dari kedua orang tuanya yang memiliki masa lalu masing-masing. Ayahnya, Samad adalah tukang pukul yang tersohor dan menjadi kebanggaan keluarga tersohor kekayaan dan kekuatan kekuasaannya. Lalu ibunya bernama Midah adalah putri seorang tokoh agama yang terkenal dengan ilmu agama yang tinggi dan pemimpin peperangan melawan penjajah Belanda hingga syahid di medan perang.
Keduanya bagai dua mata logam yang berbeda, namun keduanya dapat bersatu karena ikatan cinta. Meski Midah harus merelakan diusir dari kampunya karena menikah dengan seorang tukang pukul.
Sungguh, masa lalu menjadi bagian yang membuat Agam merasa bingung. Di pangkuan ibunya Agam diajarkan untuk menjadi pribadi taat beragama namun ayahnya sangat menentang keras karena luka yang masih perih atas perlakuan keluarga istrinya.
Tumbuhlah Agam menjadi anak remaja yang gagah. Hingga suatu hari datanglah keluarga Tong, keluarga yang sangat membanggakan Samad, ayah Agam karena kesetiaannya menjadi tukang pukul di keluarga Tong. Agam diadopsi dan dibawa ke Kota sesuai permintaan Samad. Samad selalu merasa bersalah kesetiaannya pada keluarga Tong di masa lalu belum sempurna karena ia gagal menyelamatkan istri dan anak-anak di keluarga Tong. Ia menjadi lumpuh akibat menyelamatkan Tauke Besar. Tauke Besar adalah pimpinan keluarga Tong.
Balas budi akan selalu diingat bagi keluarga Tong. Mereka mengadopsi Agam untuk menjadi penerus bagi keluarga Tong. Agam merasakan pendidikan yang tinggi dan dikirim ke luar negeri. Bagi Tauke Besar, Agam adalah salah satu yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Mereka mudah saja membiayai sekolah ke luar negeri karena kekuasaan dan kekayaan yang meluas. Sektor bisnis dikuasai sebagai ladang dan tahta kekuasaan bagi keluarga Tong. Namun dalam mendapatkan kekuasaan selain menggunakan uang juga menggunakan tukang pukul untuk membekuk lawan. Selain pendidikan, Agam pun dibekali ilmu bela diri dan menembak dari guru terbaik. Namun Agam tetap ingin menjadi tukang pukul seperti Ayahnya. Hatinya tak bisa menepis darah ayahnya mengalir deras di tubuhnya. Namun Agam dipersiapkan untuk menjadi penerus yang bukan hanya kuat dalam kekerasan namun pandai dalam strategi kekuasaan.
Bagi Agam, Tauke Besar adalah ayah keduanya. Kesetiaannya sangat suci bagi keluarga Tong. Ia akan mengorbankan nyawanya untuk melindungi keluarga Tong.
Hingga pengkhianatan terjadi dari salah satu anak angkat Tauke Besar dan ia adalah sahabat terdekat Agam. Penggulingan kekuasaan terjadi untuk membalaskan dendam di masa lalu. Namun Tauke meninggal dunia ketika situasi pengkhianatan terjadi. Agam kehilangan keyakinan dan keberaniannya. Agam dikenal dengan julukan, "Si Babi Hutan" justru malah merasakan dirinya tak berdaya. Perjalanannya kembali ke titik Nol, ia telah kehilangan orang-orang yang ia cintai. Ibunya, ayahnya dan disusul oleh Tauke, ayah angkatnya. 

Kekuatan semakin melemah. Para tukang pukul sudah dikendalikan dalam pimpinan pengkhianat. Agam tersungkur dalam titik terjatuh dalam hidupnya. Sekian banyak perjalanan, kekuasaan, dan kekayaan keluarga Tong menjadikannya jauh dari pelukan pulang. Tuanku Imam, paman Agam menyadarkan Agam untuk bangkit dari ketakutannya. Merebut kekuasaan keluarga Tong dan merubah haluannya. Dengan bantuan yang serba ada, Agam membuktikan bahwa ketakutan akan masa lalu haruslah dilawan. Melawan ketidakberdayaan diri sendiri.

Sekian banyak perjalanan Agam, matahari tetaplah terbit. Ribuan hari terlewati meski bahagia maupun dalam kesedihan, matahari tetap terbit. Dan Agam menyadari bahwa dirinya harus pulang. Pulang untuk memasrahkan diri pada penguasa alam semesta. Kembali pulang, karena jiwa ini selalu merindukan pencipta-Nya.




Karena Bahagia Tidak Bergantung

Bagi saya dan suami kebahagian sebuah pernikahan tidak kami gantungkan pada keturunan saja.

Kami berdoa dan tetap berusaha.

Tetapi kami tidak menjadikan kebahagian pada hal apa yang Allah belum berikan.

Kami menggantungkan kebahagian kami pada Allah.

Dengan cara menikmati setiap berkat yang Allah berikan seperti pernikahan kami yang di berikan Allah

Menjaga keharmonisan pernikahan kami hingga maut memisahkan.

Bila menikah hanya pada ingin mendapatkan keturunan baru akan bahagia tandanya bahagia ada syaratnya.

Kebahagian dan kelengkapan hidup kami hanya pada Allah.

Kami memilih menikmati dan bersyukur apa yang saat ini Allah sudah berikan seperti pernikahan kami pemberian Allah pasangan hidup itu harus dihargai dirawat dan dijaga.

Minggu, 29 April 2018

Keluarga Bahagia Zaman Now

Assalamu'alaikum sahabat blogger..

Kemarin ada adik kelas yang nanya ke aku soal cara membina keluarga yang bahagia. So well, aku masih bingung jawabnya karena usia pernikahanku baru 6 bulan. Kalau kata orang masih seumur jagung gitu, tapi semoga ilmu yang hari ini didapatkan bisa menjawab sedikit dari pertanyaan tadi.

Kalau bicara soal pernikahan, satu yang paling nyelip di hati, "ihh bikin baper, aku kapan yaa nemu jodoh?" kalau itu pernyataan dari yang single.

Kalau lagi menjalani hubungan, "kapan yaa menikah sama sang pilihanku?"

Kedua pertanyaan di atas intinya sama, pernikahan adalah impian bagi semua orang (read : yang belum menikah).

Semua orang akan berusaha menuju ke arah pernikahan. Karena menikah adalah ibadah.

Ilmu asik ini disampaikan oleh Umi Dede Rohayati, judulnya hits banget, " Keluarga Bahagia Zaman Now."

Awal dari keluarga adalah melalui proses pernikahan yang sah secara agama dan negara. Karena kalau bahasa keminggrisnya pernikahan itu, "connecting people" menghubungkan dua orang atau lebih. Iyaa karena yang menikah dua insan manusia namun dua keluarga besar menjadi satu keluarga besar. Jadi besar-besar keluarganya, ehmm maksudnya big family.

Pernikahan menjadi janji suci bagi yang menjalankannya. Karena cinta yang sesungguhnya dimulai setelah pernikahan. Jadi keminggrisnya lagi, "Real love start after nikah."

Berarti cinta si doi ga real dong? Ehm maksudnya setelah menikah kita akan mengetahui kekurangan dan kelebihan pasangan kita. Dan saat itulah kita akan memahami cinta yang sebenarnya.

Kok jadi baper yaa bahasannya, sama penulisnya juga ikut baper kalau bahas pernikahan.

Perencanaan pernikahan itu wajib loh, yang harus kita utamakan adalah memilih pasangan yang akan jadi partner selamanya. Lalu kalau memilih pasangan itu caranya gimana yaa?

1. Bagi kaum adam, memilih pasangan itu apa saja yaa rule nya?

Perempuan yang bisa jadi pertimbangan untuk menjadi pendamping hidup bisa dilihat dari 4 perkara. Berdasarkan HR. Bukhari no. 4700 muslim no. 26621)
1) lihat dari kekayaannya
2) keturunannya
3) kecantikannya
4) agamanya

Poin 1,2,3 itu mah idaman banget yaa. Namun ketiga poin tersebut ada batasnya. Kekayaan ada batasnya. Ada saatnya roda itu berputar. Kadang di atas. Kadang juga di bawah. Kecantikan tidak ada yang kekal. Karena wajah yang cantik akan menua dan keriput. Maka sebaik-baiknya pertimbangan adalah dari agamanya. Karena perempuan yang menjalankan perintah agama, memiliki iman yang kuat maka akan memiliki  akhlah yang baik.

Jika diibaratkan dengan bilangan maka perempuan yang berakhlak baik dan berfikir positif maka angkanya 1.

Jika ia cantik maka angkanya 0. Jika ia pintar masak angkanya 0. Jika ia cerdas maka angkanya 0.

Jadi jika hanya cantik, pintar masak, dan cerdas maka angkanya 000. Lalu apa artinya jika 000 ?

Lain halnya jika ia berakhlak baik maka 1. Ia cantik juga maka jadi 10. Ia pintar masak maka jadi 100. Ia cerdas juga maka jadi 1000.

2. Bagi kaum hawa, bagaimana cara memilih pasangan untuk menjadi imam bagi rumah tangga?

Laki-laki yang tampan, berwibawa, tajir, dan memiliki pekerjaan serta pendapatan yang mapan merupakan idola. Ehmm siapa yang menolak? Namun semua ada masanya. Ada batasnya.

Tampan akan berubah jadi keriput, wibawa dan mapan akan berkurang seiring bertambahnya usia dan menua.

Lalu kriterianya apa dong?

Laki-laki yang memiliki hati. Ada apa dengan hati?

Laki-laki yang dihatinya terhujam iman dan taqwa kelak akan menjadi imam yang bisa menuntun keluarga menuju jalan ketaqwaan. Laki-laki yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Mengingat Allah selalu dimanapun ia berada.

Dalam hati tersimpan cinta dan kasih sayang yang tercurah bagi keluarga.

Keluarga bahagia zaman now dimulai dari memilih pasangan. Karena bahagia dimulai dari start yang benar. Diawali dalam pernikahan yang sah secara agama dan negara.

Keluarga sakinah di dalamnya ada ketenangan. Karena sejauh apapun suami mencari nafkah akan kembali ke rumah. Karena di dalamnya ada bidadari cantik yang menantinya. "Adem tenan rek, istriku bidadariku."

Mawaddah ada cinta yang selalu mengalir diantara keduanya. Cinta itu kan butuh tindakan, nah salah satu yang paling romantis juga senyum buat suami ketika pulang kerja. Itu rasanya, kayak ada sepoi angin selepas musim kemarau panjang. "Sejuk sekali,"

Warrohmah ada rahmat dan kasih sayang dalam keluarga.

Maka dari itu, islam sangat memuliakan pernikahan. Karena menghalalkannya lebih baik.

Gimana sih kebahagiaan keluarga zaman now?

1. Istri itu pakaian suami
Tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Pasti pasangan memiliki kekurangan. Istri adalah pakaian bagi suami.

Yuks kita review lagi kisah Isra Mi'raj nabi Muhammad SAW, bahwa beliai ditampakan penghuni neraka bahwa kebanyakan adalah perempuan bahkan ada perempuan yang terlilit lidahnya sendiri karena ia suka ghibah dan tidak bersykur atas rezeki dari suami.
Naudzubillah..
Maka dari itu istri harus menjaga akhlaknya karena istri adalah pakaian suami
Kalau pak suami gagah, wibawa, bersih rapi, "Istrinya yang mana si?" keponya para masyarakat.

Kemanapun istri harus jaga harkat dan martabat suami.

2. Suami adalah penutup aurat istri
Tidak ada istri yang sempurna. Pasti ada khilaf, salah dan kekurangannya. Tugas suami adalah menjaga harga diri dan kehormatan istri.

3. Dapurku syurgaku
Kalau bicara soal kerjaan bu ibu RT (Rumah Tangga) ehmm buanyak. Berjilid-jilid. Jilid kemarin, jilid hari ini, jilid besok dan seterusnya. Namun apapun yang para istri usahakan untuk pak suami adalah ladang pahala. Masakan spesial buat pak suami. Baju rapi buat dines pak suami. Cium mesra buat pak suami, eehh. Semua akan terhitung pahala jika kita ikhlas menjalankannya. Insyaallah.

4. Ibadah bersama
"Sayangku, itu hukum bacaannya iqlab. Karena ada nun mati bertemu huruf ba. Cuma satu yaa ba aja," koreksi pak suami pas istri baca Al-qur'an.

Duhh sweet, saling mengingatkan.

"Sayang bangun, waktunya shalat tahajjud,"

Atau cuplikan yang satu ini,

"Sayang yuks ke masjid, kita ngaji bareng,"

Ketiga cuplikan tadi menjadi contoh bahwa pernikahan menjadi ladang untuk beribadah bersama.

Kalau hanya uang, harta, jabatan semua ada waktu expirednya namun kalau pasangan yang iman, berakhlak dan taqwa menjadi harta yang paling berharga.

Jujur tulisan ini bukan untuk menggurui namun lebih kepada saya membuka fikiran dan menambah ilmu baru bahwa istri adalah perhiasan bagi suami dan perhiasan harus dijaga baik-baik.

Buat suamiku, Anton Julian.
"Pernikahan adalah hadiah dari Allah untuk kita dan kualitas pernikahan adalah hadiah dari kita untuk Allah,"

Terima kasih telah memuliakanku sehingga aku bisa belajar real love after nikah.

Salam sayang.
Your wife.