Selasa, 22 September 2015
10 Prinsip hidup
Tuhan hanya ingin aku bersabar
Saat otak sedang penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya:
Tuhan di mana? Apakah Dia tidak tahu kita kalang kabut di sini dan memilih menutup mata?Premis sederhana ini memang terdengar klasik sekali. Tapi jika mau percaya dan mengamini, hidup akan jauh lebih ringan dijalani.
Tuhan selalu ada. Dia bersama kita. Kadang Dia cuma mau kita bersabar saja.
Tidak langsung diberi saja kita masih malas-malasan mengabdi. Sebenarnya Tuhan memberi waktu tunggu agar kita meresapi
Tapi mari kita berkaca saja. Sebagai Hamba, bukankah ada sifat brengsek yang kita punya? Tidak langsung dikabulkan permohonannya saja kadang kita malas mendatangiNya saban hari. Menjumpainya 5 kali dalam sehari, bahkan memujanya di akhir minggu kadang berat dijalani. Yeah, manusia memang dibekali dengan rasa mampu dan kurang tahu diri.
Jika mau melongok sedikit dalam lagi, waktu tunggu antara doa dan pengabulan sebenarnya jadi momen terbaik untuk meresapi. Di masa kita khusyuk tunduk, kita mengerti bahwa Ia selalu balas memeluk. Saat malam dihabiskan dengan doa-doa panjang, kita sadar bahwa ke manapun pergi; senakal apapun kita Dia hanya mau kita pulang.
Saat kita datang melangkah, Ia selalu menghampiri dengan berlari. Tak sedetik pun Ia biarkan kita seperti anak ayam yang kehilangan navigasi
KehadiranNya memang tak selalu terasa. Atau memang kita saja yang kurang peka sebagai manusia. Namun jika mau bersahabat dengan damai dan senyap sedikit saja — kita akan tahu ia ada.
Ia kerap menjelma dalam nasihat kedua orangtuamu. KeinginanNya kadang dititipkan pada cecaran dosen pembimbing skripsi dalam lembar revisimu. PetunjukNya jadi backsound tak terdegar di belakang obrolan ringan bersama kawan-kawanmu. Menunggu hatimu cukup peka menjemputnya di situ.
Ia tak selalu kelihatan di sisi. Namun ia tak pernah membiarkan kita berteriak ‘Mayday’ karena kehilangan navigasi.
Ia mendengar. HatiNya bergetar. Namun Ia hanya ingin kita bersabar
- Diwujudkan
- Ditangguhkan
- Diganti yang lebih sepadan
Setiap permohonan tersampaikan, percayalah jika hatiNya bergetar. TelingaNya mendekat — tak ada ucap yang tidak tersambar.
Jika bijak tentulah ia sudah memencet tombol approve untuk semua permintaan. Namun dia lebih mengerti, bahwa kita-kita ini butuh jeda agar menghargai hal yang diwujudkan. Ia ingin kita bermesra, sering-sering mengunjungiNya meski dengan pretensi di baliknya. Baginya tak apa tarik ulur sedikit, pakai umpan dan pancing agar terasa seru sedikit. Yang jelas kesabaran ini akan berbuah manis, tanpa sakit.
untuk malaikat yang paling gagah
Papa: Dek, ini hape-nya papa kenapa ya kok nggak bisa buat buka facebook?Pernah nggak sih kamu merasa kesal dengan ayah yang nanya-nanya terus padahal kamu sudah menjelaskannya berkali-kali? Semakin kamu tumbuh besar, kamu menjadi semakin kuat. Sementara, ayahmu tampak semakin lelah. Ayah yang dulu kamu kenal sebagai pria terkuat, kini mengingat saja sulit. Kadang kamu lupa bahwa ayahmu sudah tua dan kamu kesal dengan segala tentangnya yang mulai melambat.
Kamu: Ini passwordnya apa emang?
Papa: Duh, apa ya?
Kamu: Yach… Papa gimana sih… Ya udah deh nggak usah facebook-an, lagian buat apa juga sih?!
Papa: Papa kan mau ngecek grup angkatan SMA-nya Papa, Dek…
Kamu: Udah SMS aja temennya, daripada repot-repot!
Kamu kesal dengan pertanyaan-pertanyaannya yang terus berulang meski kamu telah menjawabnya. Kamu tak pernah sadar, bahwa ketika kamu kecil kamu kerap melakukan hal serupa.
“Apa itu nak?”dan anaknya menjawab,
“Burung gereja…”Sang ayah terus bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si Anak menjawab berkali-kali dengan nada yang makin lama makin tinggi. Sampai pada akhirnya, si anak geram dan berteriak. Mengetahui anaknya marah, si ayah lalu pergi masuk ke dalam rumah. Tak lama, sang ayah datang dengan membawa sebuah buku harian. Sang ayah meminta si anak untuk membacanya keras-keras.
“Hari ini anak bungsuku yang baru saja berumur tiga tahun sedang duduk di taman bersamaku, manakala seekor burung gereja datang dan hinggap di depan kita berdua. Anakku bertanya 21 kali, papa itu apa? Aku pun senantiasa menjawab 21 kali, bahwa itu adalah seekor burung gereja. Saya peluk dia setiap kali dia menanyakan hal yang sama berulang kali tanpa marah sedikit pun, aku berikan kasih sayang padanya…”
Masih terlalu muda untukmu menyadari peran-peran sederhana ayahmu dulu, foto ini bisa mengingatkanmu.
Jangan pernah sebal jika kini ayahmu sering rewel memintamu ini itu, ketika kecil dulu kamu lebih resek dari pada itu.
kamu: Pak, makan dulu yuk… Ini aku sudah bawain nasi goreng kesukaan Bapak…Jika kamu masih bisa mendengar ayahmu merengek dan membuatmu repot, kamu perlu bersyukur. Sebab, itu tandanya kamu masih diberi kesempatan untuk membalas segala pengorbanan yang diberikan ayahmu selama ini. Percayalah, ketika kamu kecil dulu pasti kamu lebih rewel dari pada ayahmu di hari tuanya.
bapak: Yaach… Kok nasi goreng sih? Bapak kan lagi pingin nasi padang. Kamu beliin ya…
kamu: Duh, udah malem nih, Pak… capek ah!
Dari aku, gadis yang jungkir balik memantaskan diri
Tak perlu mengkhawatirkanku berlebihan. Gadismu ini sudah lihai menghadapi kesepian. Sementara kau sibuk menuntaskan impian, aku pun tak akan tinggal diam. Tamatkanlah dulu segala gelegak dalam dirimu. Sementara itu, aku akan menunggu — sembari terus memantaskan diri untukmu.
Terkesan lebih mudah kalau sekarang kita mengambil jalan pintas. Namun masa depan membutuhkan ketangguhan 2 penyintas

Setiap rasa sepi dan meremang itu datang — ada keyakinan bahwa kita tak sepenuhnya sendirian.Satu orang lain di luar sana,juga sedang memperjuangkan terjaganya perasaan. Meski belum dipertemukan kita tak seharusnya merasa kesepian.
Masa tunggu ini jadi waktu membiakkan mimpi. Kita akan bertemu, lalu langsung siap berlari

Kamu bebas punya impian tinggal di rumah minimalis macam hunian di Lippo Apartmen. Sementara aku malah ingin punya rumah yang classy ala-ala tuan putri. Keinginanmu punya sport car macam Honda CRV tak harus terbatasi. Aku pun bebas punya mimpi sendiri, ingin membeli Mini Cooper yang di mataku tampak lucu dan cantik sekali.
Saat kita bertemu nanti, kamu dan aku sudah tuntas jadi 2 orang yang siap mengambil langkah panjang untuk berlari. Kita sesuaikan ritme demi kenyamanan dalam upaya saling mendampingi. Tak ada lagi impian yang belum dijajal sampai batas maksimal diri.
Kita akan bertemu, saling pandang, menemukan jemari — lalu siap menepi.
Sampai tiba saatnya nanti — waktu berbagi peluh tak harus membuat rikuh. Ketika sisi terjujur sebagai manusia malah membuat perasaan makin tumbuh

Katamu, “Bibirmu kan cuma 1. Buat apa lipstik sebanyak itu?” Ah, pria memang tak pernah mengerti. Bukannya lipstik ini juga kamu yang akan menikmati? Bersabarlah dulu. Sampai tiba masa-masa kasual macam itu. Saat wajah mengantukmu jadi hal yang biasa kutemukan sepulang kerja. Rengkuhmu di pinggang jadi pengantar tidur yang mengalahkan teh chamomile efek tenangnya. Saat kita bisa bebas bercinta tanpa lagi takut dosa.
Saat kegamangan karena sepi melanda, aku mohon tolong percaya. Ada gadis yang sedang berupaya mematut diri demi membuatmu bahagia

Tak ayal ada rasa sendirian, kesepian, butuh pendampingan. Jika ini bisa sedikit meringankan, maka kau perlu tahu bahwa dalam setiap sujud panjang kau tak pernah alpa kudoakan. Bukan berarti aku tak rindu menemuimu saat ini. Sebenarnya aku pun ingin bisa punya bahu lebar yang kapanpun bisa disandari.
Tubuhku juga rindu disapa setiap inci porimu — namun bukankah kita sama-sama tahu — hal terbijak saat ini adalah menunggu?
Sabtu, 12 September 2015
Wishes
Surat untukmu
"Sampai akhir"
Akan ada hari dimana kita bukan siapa-siapa lagi. Hari dimana kita mulai kehidupan baru bersama. Saat dimana kita tinggalkan semuanya yang telah kita lewati di belakang untuk berjalan ke masa depan.
Akan ada hari dimana bait doaku terjawab. Doa yang selalu aku pinta dari Tuhanku. Akan hadirmu menjadi takdir dalam lauhul mahfuzku.
Akan ada hari dimana kamu berjanji di depan penciptaku dan jutaan cahaya di langit. Beriringan dengan doa keluarga dan sahabat kita untuk mengantarkan kita pada lembaran baru.
Akan ada hari dimana aku akan bersamamu dalam sisa usiaku. Sehatku sakitku. Bahagiaku sedihku. Mudahku sulitku. Semuanya berganti kita. Sehat kita. Sakit kita. Bahagia kita. Sedih kita. Mudah kita. Sulit kita. Dan hidup kita bersama.
Akan ada hari dimana aku temukan senyuman itu. Senyuman yang aku rindukan sudah lama. Senyuman yang sangat tulus saat kamu bersyukur telah bersamaku.
Akan ada hari dimana tawamu akan menyertai setiap hariku. Pola tingkahmu yang berbeda dariku. Namun kamu tetap mau menghargai semua sikapku.
Akan ada hari dimana meja makan kita ramai. Ramai dengan makanan kesukaan kita dan kita akan bersyukur selalu setiap rezeki yang ada.
Akan ada hari dimana barisan shalat kita. Kamu menjadi imam dan aku berada di belakangmu.
Begitulah diri ini yang amat merindukanmu. Saat sujud akan ku katakan pada penciptaku.
"Ya Allah.... semoga inilah imam yang selalu aku sebut namanya dalam doa. Yang dalam perjalanan hidupnya telah banyak menemukan pengalaman berharga bagi dirinya. Semoga inilah imam yang menjadikanku semakin sholehah bersamanya. Dan semakin mendamaikan hatiku karena ketulusannya. Ya Allah... Kau tahu aku lebih dari diriku. Maka lapangkanlah kesabarannya kertika bersamaku. Aku punya banyak harapan padanya ya Rabb.. harapan dari semua mimpi yang ingin aku laksanakan bersamanya. Cintanya yang tulus. Tanggung jawabnya yang lurus semakin aku yakin bahwa aku bisa menuai harapan kecilku. Ingin sekalu ya Rabb. Nafas perjuangan kami berada dalam jalan-Mu. Maka kuatkanlah kami ya Rabb... dalam hidup bersama sampai akhir. Sampai kami berada dalam akhirat-Mu,"
Minggu, 30 Agustus 2015
Surat sarjana
Surat sarjana
"Tak akan cukup baktimu bagi ayah dan bundamu bahkan dalam seumur hidupmu,"
Surat ini aku tulis dalam perasaan yang haru biru sesaat setelah aku impikan sebuah acara wisudaku. Yaa... inilah satu permintaan ayahku agar aku menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Bukan hanya sebuah status kependidikan yang membawa limpahan harta padaku namun lebih dari itu.
Berkali-kali aku ingin tanyakan pada ayah, apa alasannya mengapa aku harus menjadi sarjana? Ayah hanya bilang satu kalimat.
"Nanti kamu akan paham maksud ayah ini baik, jalani dengan serius,"
ya ayah adalah orang pertama yang telah berkorban banyak demi aku. 11 tahun lalu, ada kisah sarjana yang belum selesai. 11 tahun lalu demi aku masuk sekolah menengah pertama, ayah menunda salah satu cita-citanya menjadi sarjana. Agar biayanya dipakai untuk membayar uang muka sekolahku.
Ayah adalah yang paling hebat. Diantara banyak guru lain di tempat ayah mengajar, ayah salah satunya yang belum sarjana. Karena keterampilan ayah maka ayah tetap dipertahankan di sekolah. Sekian banyak yang membuat ayah merasa sangat berbeda dalam perlakuan dan gaji di sekolah tersebut. Namun yang ku tahu, ayah tetap mempertahankanku agar tetap bersekolah dengan baik. Bisa ku bayangkan bahwa dalam benakmu telah ada harapan baru yang tengah bersinar. Bahwa cita-citamu bukan hanya untukmu namun sedang aku gulirkan bersamaku. Sedang aku perjuangkan bersama usahaku. Ayah sayang, perlahan aku telah temukan jawaban atas semua harapanmu padaku, tentang sarjanaku yang harus aku raih. Sarjana, bukan hanya sebuah status yang akan mengangkat derajat keluargaku. Bukan hanya mengangkat derajatku. Namun lebih dari itu. Bukan hanya sebuah gerbang dengan kehidupan yang enak dan banyak kemudahan yang diberikan. Namun lebih dari itu. Bukan hanya sebuah status yang akan membesarkan namaku namun lebih dari itu. Inilah satu langkah yang akan mengawali kisah baru di keluargaku. Inilah kisah awal hidup baru bagi keluargaku. Sebagai anak pertama bagi kedua orang tuaku, tentu ada tugasku memberi jalan awal yang baik bagi adik-adikku. Agar mereka punya standar yang baik dalam hidup ini. Sebagai cucu pertama dalam keluargaku, tentu aku menjadi tonggak dari semua harapan. Inilah yang buatku sangat ingin membahagiakan kalian semuanya. Lewat perjuangan pendidikanku agar aku mampu sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa. Agar aku amanah dalam menebar ilmu kalam darimu. Agar aku amanah dalam menjalankan tugas khalifahmu.
Ya Allah... mudahkanlah...
Ya Allah... lancarkanlah...
Setelah banyak pengorbanan kedua orang tuaku.
Maka izinkanlah aku membahagiakan mereka.
maka jadikanlah aku satu cahaya bagi mereka.
Maka izinkanlah aku persembahkan wisudaku untuk mereka.
Perjalanan sebentar lagi ya Rabb...
Mudahkanlah... lancarkanlah... berkahkanlah...
Jumat, 28 Agustus 2015
My Ride
Assalamu'alaikum wr.wb
Salam kenal ukhti semua. Salam bahagia dari saya yang telah diciptakan oleh-Nya sebagai salah satu khalifah di bumi. Terima kasih kepada hijab Almira yang mengizinkan saya membagikan kisah saya disini. Perkenalkan ukhti semua, nama saya Eka Nurwati. Mahasiswi di sekolah tinggi pendidikan di Jakarta. Usia saya 20 tahun. Sudah 5 tahun saya memutuskan berhijrah untuk menjadi muslimah berhijab. Tak mudah memang, namun semuanya saya paksakan. Kata "paksa" sendiri menjadi kata berkonotasi negatif bagi banyak orang. Bagaimana bisa sebuah hal yang baik dipaksakan? Apalagi berjalan dengan sedikit ikhlas. Begini ukhti sholehah kisahnya.
Ada satu kalimat yang sederhana namun besar artinya bagi saya.
"Kita bisa karena biasa. Awalnya belum bisa namun lama-lama kita biasa,"
Satu kalimat itu yang melekat dalam benak saya. 5 tahun lalu, tepat saya kelas 1 SMA di sebuah SMA negeri di Bogor. Saya masuk dengan tes yang lumayan ketat. Sebagai siswa disana wajib mengikuti beberapa ekstrakulikuler yang tersedia. Saya memilih 3 sekaligus. Pilihan saya jatuh pada Rohani Islam, Kepalangmerahan, dan tarian saman dari Aceh. Dalam menjalani hari-hari sebagai siswa SMA, tak mungkin tidak penat. Dengan jadwal mata pelajaran yang bertumpuk lalu harus ekskul setelah pulang sekolah. Banyak teman-temanku yang memilih tidak aktif dan lebih menjaga penampilan mereka. Bayangkan ketika saya harus ekskul kepalangmerahan yang di lapangan atau saya harus berkeringat ria ketika latihan tarian. Semua ku jalani dengan bahagia dan tak mau meninggalkan satu ekskul pun. Banyak teman saya yang lebih memilih tetap tampil cantik dengan balutan make up dan wewangian. Maklum masa pubertas. Saya pun sama, saya suka sekali jika rambut saya terurai dan dapat ditata rapi dan cantik ketika sekolah. Saya belum berkerudung pada saat itu. Sampai pada suatu rapat dalam ekskul Rohis yang mewajibkan peraturan baru,
"Ketika rapat semua wajib berjilbab bagi yang perempuan," keputusan bapak ketua Rohis saat itu.
Yaa mau tidak mau saya sebagai anggota baru mengikuti apa yang menjadi perintah atasan. Pernah satu waktu saya lupa berjilbab saat acara rapat Rohis namun yang saya putuskan adalah kabur dari acara rapat dan pulang. Hehe namanya juga anak SMA yang masih labil.
Berkali-kali rapat Rohis berarti tandanya saya harus bawa jilbab di tas. Lalu pakai jilbab itu untuk rapat kemudian lepas jilbab ketika pulang rapat. Berkali-kali melakukan hal yang sama yang ku rasakan hanya satu,
"Kok ribet yaa? Kayak bongkar pasang kerudung aja?" Kata hatiku.
Pernah terselip niatan yang buruk untuk keluar Rohis karena jilbab merepotkan. Ahh namun semuanya aku tepis saja. Toh pecundang saja saat hal kecil itu harus menghentikannmu. Bukan hal kecil soal jilbab namun kemauannya untuk berjilbab itu yang belum ada.
"Ninti aja ah pakai kerudungnya pas udah nikah aja," jawabku enteng.
Tapi melihat satu persatu temanku yang perempuan berhijab kok jadi getir ya hati ini? Kayak beda kasta deh kalau lagi kumpul sama teman Rohis yang lain. Kata hatiku yang mulai goyah.
Tiba di satu hari aku katakan niatku untuk berhijab kepada mama. Mama antusias dan langsung membelikan baju panjang plus kerudungnya. Namun belum bisa aku pakai. Masih belum percaya diri.
Lalu aku ceritakan niatanku pada kakak kelasku yang sama-sama di Rohis.
"Kak aku mau pake kerudung aja deh biar ga ribet pas rapat," ucapku. Hanya sampai situ niatku. Biar ga ribet.
Lalu dengan bahagianya kakak kelasku menjelaskan soal hijab,
"Subhanallah dek, kakak seneng loh kalau itu sudah jadi keputusanmu," katanya.
Aku hanya tersenyum manis. Semanis mungkin.
"Berarti hidayah sudah kamu dapatkan," lanjutnya.
"Kok hidayah kak? Kayak dosa banget ya aku?" Tanyaku.
Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan energi untuk menjelaskan banyak hal padaku.
"Kamu tau lontong de? Kenapa coba lontong harus dibungkus?" Tanyanya.
"Supaya ga basi dan kotor ya kak?" Jawabku ragu.
"Kamu betul dek," katanya antusias.
Berhijab itu menjaga kita dari lingkungan luar. Maksudnya menjaga aurat kita agar tidak dinikmati banyak orang. Kalau lontong tanpa bungkus maka yang hinggap bisa saja lalat pembawa penyakit. Jika tanpa hijab maka bisa jadi banyak hal yang buruk terjadi. Misal digoda kaum adam karena keindahan tubuh, lalu hawa nafsu karena kita yang menampakan keindahan tubuh, karena yang keluar tanpa menutup maka akan dilingkari setan.
Maka semakin kuatlah niatku untuk berhijab. Walau kadang banyak godaan saat kepala terasa panas dan gerah namun ini sedang dalam proses adaptasi. Satu yang buatku merasa ingin kembali untuk lepas hijabku adalah kala aku lihat teman-teman yang lain begitu cantik dan nyamannya tanpa hijab. Rambut bisa digibaskan dan ditata sedemikian rupa. Namun itulah tantangan yang harus aku lewati.
"Kak apa aku cantik yaa pakai hijab?" Tanyaku polos.
"Kamu cantik dek, kenapa kamu masih ragu ya?" Tebak kakak kelasku.
Aku hanya tersenyum sambil menatap diriku di depan cermin.
"Bukan kamu yang sudah cantik lalu berhijab namun hijab yang mencantikan wajah dan hatimu. Setidaknya kamu telah belajar bagaimana menjaga kehormatanmu dan kamu adalah perempuan cerdas dek," katanya amat sangat yakin.
Dan sungguh aku berterima kasih pada Allah yang telah menegurku dalam kelembutan sayangnya. Yang telah menjadikanku perempuan yang sedang belajar dan dikelilingi orang-orang pembelajar. Bertahun-tahun sudah aku berhijab. Aku tetap berkarya dan berkarya. Karena hijabku adalah perisai perang hawa nafsuku. Karena hijabku menegurku agar aku jaga akhlakku agar tidak rusak. Karena hijabku juga aku menemukan banyak kesempatan dalam menjalani hidup ini. Hingga saat ini, aku telah menemukan dunia kreasiku karena hijabku. Kreasi bross dari kain-kain yang berwarna. Dan itulah yang menjadi semangatku. Aku memang belum bisa membawa banyak temanku berhijab namun aku bisa mengajaknya lewat karyaku, bross hijab.
Untuk setiap langkah dan pertemuan
Untuk setiap kisah dan perjalanan
Aku bersyukur
Bahwa Allah yang melindungiku
Dan meyakinkanku lewat pilihanku
yang telah membisikan keamanan
dalam ayat-ayatnya
Dan dalam hijab ini aku serahkan
Bahwa pertolongan Allah amatlah dekat.
Terima kasih. Salam kenal dari kota Bogor.
Daftar Riwayat penulis
Nama : Eka Nurwati
TTL : Purbalingga, 9 Feb 1995
Usia : 20 tahun
Hoby : bloger
Alamat : Desa Pasirangin RT 01 Rw 04 no 23 Cileungsi-Bogor 16820
Alamat e-mail : ekanurwati09@yahoo.com
Blog : www.sebuahkotaksurat.blogspot.com
Pekerjaan : guru
Motto hidup : Menulis mengukir sejarah