Kamis, 26 Maret 2015

Siapakah Dirimu?

Siapakah dirimu?

Aku tidak berhak menilaimu dari mataku yang melihat. Karena bisa saja mata salah dalam mengartikan keadaanmu. Aku tidak boleh percaya begitu saja pada kata orang lain tentang dirimu karena apa yang orang katakan belumlah benar adanya dirimu. Lalu siapakah kamu?
Bagiku kamu adalah belahan jiwaku. Kamu adalah bagian dari pelengkapku. Bagiku kamu adalah keping hati yang tak terpisahkan dariku. Kamu adalah satu takdir yang akan berjalan bersamaku. Kamu adalah teman hingga aku menua dan mati. Kamu adalah.... sosok ayah kedua bagiku. Seorang laki-laki yang mau menanggung kehidupanku. Laki-laki yang mau menanggung dosaku. Laki-laki yang mengingatkanku akan kebaikan dan melarangku akan keburukan. Kamu adalah laki-laki yang siap melindungiku dari apapun bahayanya. Laki-laki yang akan berjuang keras demi bahagianya diriku.
Siapakah kamu?
Buatku, kamu adalah seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Yang memaafkan khilafku dan memperbaiki kesalahanku. Kamu adalah seseorang yang mau bermimpi bersamaku dan berjuang bersamaku. Bukan harta lagi yang ada di benakku tapi keberadaanmu di sampingku yang buatku yakin bahwa kita bisa melangkah jauh bersama. Siapakah kamu? Tentu bukan seseorang bertahta karena aku pun bukan wanita yang mulia dan bertahta.
Lalu siapakah kamu?
Kamu adalah keluargaku, kamu adalah laki-laki yang mau mendengar ayahku. Yang patuh pada ayahku, yang menghormati ayahku sebagaimana aku hormati beliau. Kamu adalah laki-laki yang sayang dan cinta pada ibuku. Sebagaimana kamu cinta pada ibumu. Kamu adalah laki-laki yang mau bercanda riang dengan adikku. Kamu mau berbagi banyak tawa dengan adik kecilku. Dan kamu adalah laki-laki yang menyayangi adik-adikku seperti kamu sayang pada adikmu. Aku tak minta banyak darimu, sayangi keluargaku dulu barulah sayangi aku. Kamu bisa denganku, kamu bertemu denganku dan kamu memilihku tentu aku ada karena keluargaku. Aku tak minta banyak, sayangi keluargaku. Merekalah muara keluh kesahku sebelum kamulah sandaranku. Mereka adalah semangatku. Sebelum kamu menyemangatiku. Sayangilah keluargaku. Sebelum kamu membawaku pergi, sayangi keluargaku. Sebelum aku tak bersama keluargaku lagu, sayangi keluargaku.

Siapakah Dirimu?

Siapakah dirimu?

Aku tidak berhak menilaimu dari mataku yang melihat. Karena bisa saja mata salah dalam mengartikan keadaanmu. Aku tidak boleh percaya begitu saja pada kata orang lain tentang dirimu karena apa yang orang katakan belumlah benar adanya dirimu. Lalu siapakah kamu?
Bagiku kamu adalah belahan jiwaku. Kamu adalah bagian dari pelengkapku. Bagiku kamu adalah keping hati yang tak terpisahkan dariku. Kamu adalah satu takdir yang akan berjalan bersamaku. Kamu adalah teman hingga aku menua dan mati. Kamu adalah.... sosok ayah kedua bagiku. Seorang laki-laki yang mau menanggung kehidupanku. Laki-laki yang mau menanggung dosaku. Laki-laki yang mengingatkanku akan kebaikan dan melarangku akan keburukan. Kamu adalah laki-laki yang siap melindungiku dari apapun bahayanya. Laki-laki yang akan berjuang keras demi bahagianya diriku.
Siapakah kamu?
Buatku, kamu adalah seseorang yang mau menerimaku apa adanya. Yang memaafkan khilafku dan memperbaiki kesalahanku. Kamu adalah seseorang yang mau bermimpi bersamaku dan berjuang bersamaku. Bukan harta lagi yang ada di benakku tapi keberadaanmu di sampingku yang buatku yakin bahwa kita bisa melangkah jauh bersama. Siapakah kamu? Tentu bukan seseorang bertahta karena aku pun bukan wanita yang mulia dan bertahta.
Lalu siapakah kamu?
Kamu adalah keluargaku, kamu adalah laki-laki yang mau mendengar ayahku. Yang patuh pada ayahku, yang menghormati ayahku sebagaimana aku hormati beliau. Kamu adalah laki-laki yang sayang dan cinta pada ibuku. Sebagaimana kamu cinta pada ibumu. Kamu adalah laki-laki yang mau bercanda riang dengan adikku. Kamu mau berbagi banyak tawa dengan adik kecilku. Dan kamu adalah laki-laki yang menyayangi adik-adikku seperti kamu sayang pada adikmu. Aku tak minta banyak darimu, sayangi keluargaku dulu barulah sayangi aku. Kamu bisa denganku, kamu bertemu denganku dan kamu memilihku tentu aku ada karena keluargaku. Aku tak minta banyak, sayangi keluargaku. Merekalah muara keluh kesahku sebelum kamulah sandaranku. Mereka adalah semangatku. Sebelum kamu menyemangatiku. Sayangilah keluargaku. Sebelum kamu membawaku pergi, sayangi keluargaku. Sebelum aku tak bersama keluargaku lagu, sayangi keluargaku.

Menolong Sebisa Mereka

Surat dunia.

"Anak kecil selalu ingin menolong dan menolong sebisa mereka,"

Alhamdulillah.... adik kecilku Lutfi sudah masuk PAUD. Awalnya harus banyak hadiah dulu baru mau pergi ke PAUD. Mulai dari hadiah makanan, alat tulis, cat lukis hingga ingin durian. Kami sekeluarga tak keberatan asalkan Lutfi mau pergi dan belajar disana.
Pertama kali ke PAUD, suasana disana asing baginya. Biasanya anak yang sudah lihat mainan akan tertarik dan tidak sabar untuk menikmati setiap permainan yang ada. Tapi tidak bagi adikku, dia mengamuk dan menfancam ingin pulang saja. Kami tak bisa berbuat banyak, dibujuk apapun tetap menangis bahkan semakin menangis. Dan persoalan ini menjadi beban fikiran bagiku.
Terselip satu pertanyaan dariku,

"Apa pernah ada pengalaman buruk yang dialami Lutfi yang menghambatnya sekolah?"

Aku bicarakan soal ini kepada mama. Kami sepakat untuk tetap mencari alternatif sekolah lain agar Lutfi bisa memilih sesuai yang ia sukai. Bahkan dengan Allah berikan kami seperti ini membuatku semakin ingin membuat sekolah. Pertama untuk adikku. Karena itulah yang sedang kami hadapi. Bagaimana caranya agar kami bisa mengarahkan Lutfi dalam kegiatan sekolah. Mengingat 1 tahun lagi Lutfi akan masuk sekolah. Tapi perubahan terjadi begitu cepat, pagi itu ayah menyiapkan bekal banyak kue enak untuk Lutfi. Ayah yang mengantar sendiri ke PAUD. dan menunggunya. Alhamdulillah... Lutfi mau dan semangat. Ketika aku pulang, ia menunjukan PRnya padaku. Ia cerita banyak hal yang dikatakan guru padanya.

"Mba kalau capek nulis, tangganya digerakan gini mba," katanya sambil mencontohkan gerakan senam tangan.

"Kan kalau kuku kotor bisa jadi cacing mba, itu kata bu guru ,"

Kata bu guru.... ya satu kalimat itu yang membuatku lega. Luthfi sudah semangat untuk mulai belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Ini kemajuan bagus. Bahkan setiap ada PR, ia kerjakan lebih cepat. Katanya biar nanti dapat bintang. Hhheheh

Bersyukur bisa menemani kamu sayang, bersyukur kamu selalu ingin ikut kemanapun aku pergi. Aku bisa mengajakmu belajar banyak hal. Aku bisa jadi teman bagimu sayang. Kamu sudah membuatku kagum. Kamu selalu ingin membantuku. Mulai dari rapihkan soal ulangan, mengambilkan air minum, menyapu lantai dan pekerjaan yang lainnya. Kamu bahkan yang menawarkan diri,

"Aku mba yang nyapu," soraknya.

Alhamdulillah..  kamu anak baik nak. Kamu selalu bantu aku, sekarang kamu banyak dibantu teman-teman. Saat tadi sekolahpun ada yang meminjamkan pensil saat kamu tidak bawa. Ada pula yang meminjamkan pensil warna untukku. Syukuri ya sayang, kamu sudah banyak membantuku.

"Aku ada penghapus, kamu mau pinjam?" Kata temanmu padamu sayang. Perhatian sekali. Seandainya dunia ini banyak orang yang respect, pasti bahagia banget. Karena semua orang rasanya mau bantu. Hihihi bantu isi dompet bisa.... hahahhah

Ya pada hakikatnya setiap anak adalah kertas putih. Anak yang mewarnai dan orang tua yang memperkenalkan dunia. Berperanlah bersama mereka di urusan yang mudah. Anak hanya ingin mencoba dan paham rasanya. Izinkah mereka membantu kita sekecil apapun itu. Karena ini bagian dari pembentukan rasa percaya diri. Dan inilah dunia mereka. Dunia luthfiku yang sudah pervaya diri dan punya banyak teman.

Rabu, 18 Maret 2015

He is my hero called father

Surat dunia.

"Tak ada yang lebih penting selain membuatmu tenang dan bahagia melihat putrimu baik-baik saja,"

Ayah... aku sedang memikirkan keadaanku sendiri. Bisakah aku tetap kuat tanpa dirimu? Ingatkah saat hampir tengah malam aku duduk di sampingmu untuk menemanimu dalam menata sound system? Saat itu kurasakan betapa harapan sangat bersinar di matamu untukku. Bahwa kau sangat menginginkan putrimu tak sesusah payah dirimu mencari nafkah hingga larut malam. Saat itu kau katakan, "tenang saja.... ada ayah, kalau ada yang buat kamu sedih katakan sama ayah," katamu pelan.
Rasanya bagai ada benteng kuat dalam diriku yang kau bangun dengan perlindunganmu.
Ayah... ingatkah saat aku sering meledekmu bahwa aku akan pergi meninghalkanmu bersama suamiku? Aku lihat wajah yang gelisah dan penuh harap agar putrimu tetap tinggal. Suatu saat aku akan pergi yah. Maaf... bukan aku tak sayang padamu tapi telah aku putuskan untuk mandiri dan belajar bersama keluarga baruku.
Ayah ingatkah saat masa aku sekolah? Betapa kau rajinnya antar aku ke sekolah dan kau katakan bahwa aku harus sekolah di sekolah yang favorit dan bagus. Aku tahu yah kenapa? Agar aku bersama orang-orang yang memberiku jalan menuju kesuksesan.
Ingatkah saat kita bersitegang untuk saling mempertahankan keinginan masing-masing? Saat aku harus pergi ke Bandung untuk melanjutkan sekolahku? Ketika kau ucapkan satu kata, "maaf nak,"
Seketika hatiku hancur yah, bukan karena aku tak jadi pergi kesana namun ayah masih belum mengizinkanku tinggal mandiri karena ayah sangat sayang padaku. Ingatkah ayah saat aku putuskan untuk menanggung sendiri biaya kuliahku? Aku lihat dalam raut wajahmu. Kau pasti ingin mengatakan ini yah, "Ayah saja yang bayar,"
Kau tidak tega jika aku harus bekerja keras untuk biaya kuliahku. Ayah.... maafkan anakmu yang nakal ini. Aku akan berusaha membayar kuliahku sendiri. Doakan saja hingga aku wisuda. Aku akan katakan di depan podium bahwa, "Karena ayahlah aku bisa berjuang sampai saat ini,"

Kado terindah wisuda aku persiapkan untukmu, Ayah. Semoga Allah memberiku umur panjang.

Ayah... saat ini aku banyak merasakan kehidupan dengan pertimbangan perasaanku juga. Ketika aku lihat muridku diantar oleh ayahnya ke sekolah, aku ingat dirimu yah... ayah juga dulu antar aku ke sekolah. Ayah lebih memilih telat kerja daripada aku telat.

Ayah... alhamdulillah... aku sangat bahagia. Jika Allah tanyakan padaku bagaimana kesempatan memiliki ayah sepertimu, aku akan menjawab ,"Aku ingin tetap menggenggam kesempatan itu sampai aku dewasa, sampai aku menikah dan ayah lihat gagahnya suamiku dan tanggung jawabbnya sepertimu, aku ingin tetap meraih kesempatan itu bersamamu hingga aku menua. Hingga kau dipanggil kakek oleh putra-putriku dan hingga nanti aku mati, aku ingin ada di pangkuanmu. Ayah."

Dalam sajadah panjang, aku sebut namamu agar kau bahagia. Dalam kesulitan mencari nafkah kau tetap bahagia. Dalam kelelahan menjalani rutinitasmu kau tetap bahagia. Ayah... kau tahu, aku tuliskan surat ini sebagai tanda bahwa aku bangga padamu. Seandainya nanti putriku lahir, dan dewasa bersama ayahnya yang seindah akhlakmu. Setinggi tekadmu. Semangat karirmu dan sehangat pelukanmu.

Ayah... jaga aku... bersamaku... aku selalu mendoakanmu setelah sujud malamku.

Salam
Eka kecilmu.

Bee

Surat Dunia.

"Bee yang satu ini manis tapi masih belum mau mengaji,"

Ryan. Sapaan akrab teman-teman padanya. Anak yang satu ini cukup unik. Dia tidak mau memakai baju koko untuk mengaji. Ia lebih suka baju main yang santai dan nyaman untuknya. Dan hari ini, Ryan memakai baju dengan gambar tokoh lebah.
Ryan paling suka berlarian kesana kemari. Bermain bersama teman-teman di PAUD. Tapi Ryan paling takut jika diminta mengaji bersama gurunya. Bahkan ia menangis dan mengamuk jika dipaksa membaca iqro. Kejadian ini tentu membuat para guru tak bisa memaksakan. Biarlah... nanti juga bisa mengikuti. Jadi setiap mengaji bukan untuk belajar tapi bermain bersamanya. Sesekali mamanya menemaninya untuk belajar berani dan maju saat baris di depan. Tapi Ryan belum bisa bun. Ryan masih malu dan menangis. Lalu jika sedang bernyanyi atau menari Ryan kaku tak ingin bergerak. Tapi bundanya yang sabar menemaninya dan mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan. Berharap sama, Ryan bisa mengikuti dengan lincahnya. Tapi anak ya tidak bisa dipaksa.

"Anak hanya perlu dikembangkan dan bukan dibentuk,"

Sesekali kami berikan hadiah setiap keberhasilan yang ditunjukan Ryan. Perlahan tapi pasti. Kami yakin Ryan akan punya semangat sendiri untuk belajar. Selang waktu berjalan, Ryan berusaha mencoba untuk mendekati gurunya. Melihat setiap bacaan teman-temannya. Lalu Ryan belajar untuk antri dalam mengaji. Alhamdulillah... itu menjadi prestasi terbaiknya. Ryan sudah mulai mengaji walau suaranya kecil. Walau masih menunduk dan sesekali menatap aneh gurunya, tak apalah Ryan menjadi anak yang berbeda sekarang. Mau mencoba dan berani menggerakan badan untuk tarian dan bernyanyi dalam lagu. Kelak akan ada banyak pembelajaran baginya tentu dengan ibu yang sabar dan mau mengakui dan mendampingi kekurangan anaknya.

Bukan dipaksa ya bun tapi diarahkan. Dari bunda Ryan saya belajar arti keuletan menjadi seorang mama. Yang setia mencotohkan dan mengajak anaknya. Terima kasih. Ini pengalaman berharga.

Ilham, Hafidzh Selanjutnya

Surat Dunia.

"Setelah bertemu dengan mereka rasanya bahagia sekali, bahagia dan bahagi,"

Ilham. Usianya baru 5 tahun tapi sudah iqro 6. Beberapa lembar lagi akan menuju Al-Qur'an.

Sudah satu bulan ini, aku menjadi guru pendamping di pengajian PAUD di dekat rumahku. Pengajian itu juga dulu bekas pengajianku selama 6 tahun. Kali ini saat aku kakak kelas mereka berbagi pengalaman dan bermain bersama mereka.

Mereka paling semangat kalau saatnya benyanyi dan menari bersama. Kami punua selera yang sama yaitu lagu "3 jelly fish" selalu banyak tawa diantara kami. Melihat mereka tumbuh dan berkembang menjadi satu kebahagiaan bagiku dan bu Mira. Guru sekaligus teman curhatku. Yaa.... pengajian ini juga yang 3 tahun lalu membangun mimpi baruku. Aku ingin menjadi seorang guru. Dan semua berawal dari sini. Ketika aku menggelisahkan mau jadi apa aku ke depannya? Dari pengajian ini aku menemukan minatku. Bersama anak-anak. Siapa yang menyangka bahwa di usia 19 tahun aku sudah menjadi seorang guru di sekolah formal. Semua karena tempatku menuntut ilmu.

Aku menyayangi semua anak-anak disana. Mereka mengajarkan arti saling membantu dan mengingatkan. Mereka yang membuat sesalu banyak cinta yang aku rasakan. Lebih cinta dari seorang kekasih. Hihihi.

Dan mereka yang membuka mataku takjub bangga, mereka sudah bisa membaca firman dari Allah. Subhanallah... aku bersyukur Allah ciptakan kami dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan aku bersyukur bisa menemani malaikat-malaikat kecil ini terus belajar.

Semoga semangat Ilhamku dan semua teman-temanku untuk belajar mengaji tidak pernah pudar. Harapanku sederhana, semoga mereka bisa menjadi hafidzh yang bermanfaat. Tetap pakai baju kokomu. Bawa tasmu dan rajin antri paling depan ya ngajinya. Hihihi... itulah Ilhamku. Selalu paling pertama mengerjakan tugas dan ingin cepat-cepat mengaji.

Semangat sayang, hujan kita terobos panas kita tetap payungan. Hehehe

Sekolah Garasi

Surat Dunia.

Terima kasih saya ucapkan untuk kesempatan membaca buku Rumah Kisah dari Siska Y. Massardi. Salah satu buku yang sederhana bahasanya tapi mendalam maknanya. Berkali-kali saya menitikan air mata dan bertanya dalam diri saya? "sudahkah saya berguna bagi orang lain?"

Berikut ulasan buku Rumah Kisah : Sebuah Kisah Sekolah dari Garasi.

Setiap manusia punya masa kelam masing-masing. Mungkin kata khilaf adalah perumpamaan yang pas untuk mengurangi rasa bersalah kita tapi bukan itu, bukan menyatakan aku khilaf atas perbuatanku tapi aku akan segera mempersiapkan perubahan lebih baik lagi.

Bu Kiska, sapaan akrab dari para muridnya saat ini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak dengan kehidupan yang mapan. Untuk menunjang kehidupan ala ibu kota, suaminya bisa memberikannya. Beliau punya agenda rutin untuk bisa kumpul bersama para sahabat untuk saling pamer harta dan harta. Membahas harta dan harta. Belanja wara wiri dari satu mall ke mall yang lain atau dari satu brand ke brand yang lain. Bukan masalah kalau beliau bisa pergi ke salon dengan biaya yang cukup menguras dompet. Tak apalah.... wajar bagi ibu rumah tangga elit dengan standar seperti Jakarta. Untuk menikmati indahnya hidup dengan merasakan hisapan demi hisapan rokok yang menurutnya adalah wajar bagi ibu-ibu elit kelas Jakarta. Terbayang sudah dari pemaparan di atas. Betapa menyenangkannya bisa difasilitasi suami dengan dimanjakan harta dan harta. Yang mau ini dan itu hanya tinggal gesek kartu dan beres semuanya. Namun diatas semua kekuasaan kita, ada satu tangan yang sepanjang usia kita merangkul bahkan menarik menuju hal perubahan. Yaitu tangan Rabb kita. Berawal dari sebuah training ESQ yang menggetarkan jiwanya. Mengapa? Bagaimana bisa? Harta bukankah sudah cukup ya untuk sekelas ibu kota Jakarta?

Jawabannya adalah "Saya tidak menemukan apa-apa dalam hidup saya, saya jenuh," kata beliau.

ESQ adalah training yang memadukan pengalaman emosional dan spiritual. Awalnya beliau ragu untuk ikut training tersebut, tapi hebatnya kata hati adalah mampu menggoyahkan arti keraguan. Beliau mengikuti 4 hari training dengan baik.
Bukan dengan baik lagi, tapi dengan linangan air mata ketidakberdayaan. Mengapa?
Beliau terhentak saat ada kalimat pertanyaan yang amat sederhana.
"Sudah jadi apa kita sekarang?"
"Mau kemana kita sekarang?"
"Seberapa lama kita akan tetap seperti ini?"

Jujur, saya yang membaca kisah beliau pun menitikan air mata. Sudah benarkah hidupku? Atau ternyata aku masih nol besar membahagiakan Rabbku? Atau ternyata aku masih tidak peduli atas arti diriku untuk lingkunganku? Aku merenung sambil mengingat setiap halaman buku kehidupanku.

ESQ merubah beliau 360 derajat. Salah satu yang membuat dunianya amat sangat terjungkal dari kemewahan adalah saat ia harus mengajari anak-anak dhu'afa di sebuah sekolah. Seperti menemukan berlian dalam jerami, ia mulai paham arti bahagia yang sebenarnya. Menikmati 18 tahun kemewahan dan belajar arti dari kesederhanaan dari anak-anak.

"Entahlah... apa iya Allah sedang berubah wujud jadi anak-anak kecil itu atau saya yang sudah menyerahkan hidup saya pada Allah, saya merasa bahagia. Bahkan kepingan hidup saya sudah  saya ketemukan,"

Sejak belajar banyak dari ESQ dan menjadi relawan di sekolah Dhu'afa maka hati kian tergetar. Bukan karena ia masuk ke dunia glamornya tapi karena ada jutaan ide di otaknyq untuk bisa membuat sekolah. Jantungnya berdegup kencang. Dag dag dag... karena apa yang tak ia fikirkan sedikitpun malah jadi hal yang nyata. Sebentar lagi. Bahkan dalam hitungan kedipan mata.

Memang benar adanya, bahwa setiap orang memiliki masa kelam yang akan membawa pembelajaran yang berarti. Setiap manusia memiliki hati yang baik. Sangat baik. Ada sisi kasihan dan keinginan untuk saling membantu. Sama halnya beliau yang memandang sekelilingnya yang masih banyak yang jauh dari kehidupan yang layak. Salah satu yang menggerakan sebuah perubahan adalah dari pendidikan. Maka dari itu beliau ingin menyiapkan pendidikan yang bisa membantu bagi para kaum dhua'afa.

"Entahlah... ini hidayah atau apapun yang saya inginkan adalah menebus semua kelalaian saya sebagai hamba Allah, istri dan ibu  untuk anak-anak saya,"

Beliau mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan sekolah TK. Dari sebuah garasi rumah, satu harapan bangkit kembali. Bahwa semiskin apapun pendapatan, sesusah apapun kehidupan mereka berhak diberikan sekolah dengan standar yang bagus. Tidak bisa dibedakan dengan yang lain.

Itulah semangat beliau yang membuatku tersenyum bangga. Yaa.... tak ada satu sistempun yang boleh mengkastakan umat manusia. Semua sama haknya.

Dan bukanlah perkara mudah untuk bisa mendirikan sekolah bagi para malaikat kecil beliau. Biaya, kultur, sikap, pengajar, fasilitas, dan semua yang tidak bisa asal-asalan diciptakan. Dan tentunya dalam lembar perjalanan sekolah Batutis akan mengajarkan hal-hal luar biasa bagi beliau dan keluarga. Bertemu dengan anak-anak yang semangat sekolah dengan jarak yang jauh, anak-anak yang selalu berebutan ingin di pangku, bertemu anak yang menjadi pemulung membantu orang tuanya, mereka yang broken home, mereka yang tidak terfasilitasi pendidikan dan mereka yang masih punya kemauan yang kuat untuk bisa merasakan artinya sekolah.

Dan inilah satu dari sekian "man jadda wa jadda" Allah-ku yang sedang ditunjukan. Satu semangat telah terbangun untuk bisa memberikan kesempatan bagi semua anak untuk sekolah dan bahagia.

Ya Allah.... jika Kau ridho'i kami
izinkan usia kami adalah ibadah
manfaat dan bahagia.
Didiklah kami dalam keikhlasan dan kesabaran.
Dan hanya Allah satu-satunya penolong kami.

Terima kasih, Bu Siska.... semoga mereka menjadi anak yang berguna.