Selasa, 29 April 2014

19, doa

Surat dunia.

Dengan apa aku bertahan saat semua terasa masih jauh?

Dengan doa. Allah semakin dekat denganku saat aku akui akulah si lemah dan pengadu. Dan Allah jualah yg buatku berfikir kembali saat ingin kembali dan pulang. Pertahankan dalam jalan ini. Ku mohon....

20, bekal

Surat dunia.

Bekal apa yg harus ku bawa untuk pergi?

Diriku sendiri. Hanya dengan perbaikan diri, aku merasa masih jauh dari kesempurnaan kebaikan. Diriku sendiri  yaa...  just my self. Seperti refleksi ke dalam diri, saat aku lihat begitu banyak keindahan ciptaan Allah. Semoga dengan perjalanan ini, ku temukan cinta dari-Nya. Ammin...

Minggu, 27 April 2014

21, Lurus

Surat Dunia.

Selurus asap pesawat itukah jalan kita nantinya? Jauhkah? Atau singkatkah?

Itu rahasia Allah. Aku sedang berjalan sekarang. Jalannya masih sederhana. Rupanya masih tanah merah dan berbatu. Belum tiba dalam aspalan yg rata dan lancar. Yaa... ini adalah proses yg panjang. Menuju mata air yg menyegarkan tentu tidak langsung keluar dari tanah yg dipijak. Pasti harus tahu dimana mata air itu, lamanya, jauhnyaa dan usahanya. Kelak pasti tiba. Tiba dengan selamat dan menyentuh setiap airnya. Pasti akan tiba disana dan kemudian bersyukur, Allah masih percayakan untuk sampai kesana. Tak ada yg tidak mungkin, yg mungkin terjadi adalah menepis ketidakmungkinan. Allah maha yang paling mudah menyayangi hambanya. Sekarang, perlindungan itu telah ada. Percaya itu telah ada, kesempatan menuju mimpi telah terbuka, perjalanan telah tersedia, tujuan sudah jelas, kapan aku berangkat cepat?
Tunggu.... bukankah perjalanan ini bukan milikku saja? Aku ingin berangkat bersamanya. Bisakah ya Rabb? Bisikkan Ridho-Mu dalam hatiku. Segera. Terima kasih ya Rabb.

#21 menuju lengkap

Rabu, 23 April 2014

Welcome.

Surat Dunia.

Apa yang saya fikirkan

 tentang kata "welcome"

Bukan sekedar kata yg tertera di kain keset rumah. Lebih dari itu.

Ini kisah teman saya, akhwat yg sedang menunggu dijemput jodohnya dan siap disambut dengan "selamat datang di hidup saya." Dijemput bukan seperti tukang jemputan sekolah atau ojeg yang siap pick up ke sana kemari. Tapi lebih dari itu, kata akhwat ini katanya dijemput buat ke surga. Aku terdiam mendengarnya. Seolah menunggu malaikat surga datang lalu mempersilahkannya mendapat surga. Ini  imajinasi yang engga banget deh dariku. 

Kata akhwat ini, bukan hanya dikasih malaikatnya, tiketnya, orang yang menemani tapi juga jalannya. Subhanallah. Sungguh mantap sekali perempuan yang satu ini. Akhwat ini memang idola saya. Betapa tidak? Akhwat ini selain rajin sayang sama Allah juga rajin sayang sama anak-anak jalanan. Kalau cari akhwat cukup di 3 tempat utama, rumah, masjid dan jalanan. Melihatnya turun ke jalanan, berbagi ilmu yang dimiliki lalu berkarya lewat kebaikan, sungguh seperti pisau yang menghunusku, aku belum mampu seperti itu ya Rabb. Ini penyadaran sekaligus semangat baru. Terima kasih ya ukhti atas inspirasinya.

"Kamu tahu kak, setiap kelahiran kita pasti ada kelahiran jodoh kita. Percaya atau tidak, dia melangkah lewat jalan yg sama dengan kita. Percaya dengan hukum kekekalan energi, energi masuk = energi keluar. Dan yang baik dipasangkan dengan yang baik. Lalu yg maksimal usaha terbaiknya. Maka akan dibalas dengan maksimal juga. Jadi bicara soal jodoh, itu sebanding searah dengan kitanya." Ucapnya.

Siap. Satu ilmu baru lagi. Siap terus buat hukum kekekalan energinya. Hahahaha. Ucapku di hati.

#Ukhtihebat

#apaatuhsayamah

Kamis, 17 April 2014

Suatu hari, di kotak hati

Surat Inspirasi.

Sore itu, di sebuah sekolah tua. Sekolah yang menjadi start bagiku mengenal pendidikan. SD Negeri Pasirangin 1. Semua tampak sama seperti dulu, seperti 12 tahun yang lalu. Sekolahku tercinta. Tempatku belajar dan berkarya. Masih dengan berteman bersama nostalgia. Saat aku kunjungi salah satu sosok yang menjadi bagian dari masa lalu. Budhe Salim. Wanita ini yang tetap aku sayangi. Meski tak sesering dulu menyapanya setiap pagi, tapi silaturahmi tetap berjalan. Budhe tidak pernah berubah. Dari dulu tetap baik hati menyediakan jajanan bagi anak sekolah. Budhe tetap cerewet seperti dulu. Cerewetnya itu yang menjadi bukti perhatiannya padaku.
sore itu, aku datang ke toko kelontongnya. Aku nikmati jajanan SD seperti tempo dulu. Sambil menemani budhe menjaga tokonya. Topik obrolan kami biasa di awalnya, seputar kabarku, kuliahku, aktivitasku dan all about me. Nasihat demi nasihat mengalir dari kebijaksanaannya. Beliau berpesan untuk tetap kelarkan S1 nya. Itu harapan yang bercahaya.
Kemudian topik bergeser ke soal pendidikan ketika beliau kecil. Dulu untuk sekolah saja masih penuh kecaman. Karena era 60-an masih hangat dengan gerakan G30SPKI dengan para buronannya. Lalu beliau juga menceritakan tentang pendidikan di zaman dulu, untuk pelajaran olahraga saja itu latihan fisiknya seperti para tentara. Bahkan beliau mengikuti sukarela siswa untuk pelatihan persiapan perlawanan perang. Ya ampun. Usia SMP saja sudah matang dengan taktik perang kalau dibanding dengan sekarang, kebanyakan mungkin seusia SMP sudah matang dengan taktik perang status sosial kali ya, status fb, sosmed, perang antar remaja, perebutan eksistensi, perang rebut cinta del el el. Asal jangan perang dunia aja yaa walau sedikit-sedikit sedang menuju kesana. Naydzubillah... jauhkan Ya Rabb.
Pokonya jauh yaa perbedaannya. Jujur saya yg sebagai generasi sekarang malu dan tutup mata saat diceritakan tentang ketekunan dan kegigihan pemuda zaman dulu.
"Generasi sekarang itu lemah. Kuat berjam- jam depan layar tapi kao saat berlari memutar lapangan sekolah untuk pemanasan olahraga," pendapatnya.
Jujur itu mengena sekali ke lubuk hati saya. Yang namanya kenyataan itu yang jujur. Tidak bisa mengelak dan membela diri. Jadi refleksi ke dalam diri sendiri.
"Dulu ibu ke sekolah jalan sejauh 5 km," ucapnya.
Subhanallah. Ucapku dalam hati. Sungguh disiplin orang jadul. Thats way, mereka sukses. Seperti beliau yang sukses menjadi bidadari di rumahnya.
Cerita bergulir lagi ke topik baru. Ini pertanyaanku,
"Budhe ketemu pakdhe gimana ya?"
Budhe langsung tersenyum malu.
"Budhe bertemu pakdhe di pengajian selama 7 tahun menuntut ilmu dan saling cukup tahu masing-masing," jawabnya.
Subhanallah... memang betul, jodoh yang dipertemukan di tempat yang baik itulah yang terbaik. Bertemu dalam balutan ingin belajar dan menambah ilmu untuk bekal dunia akhirat. Inilah kisah dimana orang yang aku sayangi memberiku semangat baru. Bahwa zaman ini sangat mudah tinggal mengedipkan mata semua selesai. Inilah zaman dimana kita harus bisa lewati ujiannya. Karena serba kemudahan itu yang buat kita tidak berdaya dan lupa kalau kita lebih hebat dari yang namanya canggihnya zaman.
Dan kehebatan zaman itu berawal dari perempuan. Yap betul karena perempuan adalah pejuang di belakang layar atas perjuangan suaminya. Dan dari budhe aku belajar arti kesetiaan dan tanggung jawab hingga akhir dalam keadaan apapun di keluarganya. Inilah hidup, bahwa manusia tidak boleh berhenti karena alasan klasik. Bertanggung jawablah hingga akhir.

*Budhe Salim

*Eka Nurwati

Sabtu, 12 April 2014

Yang lalu yang sempat tertinggal

Surat dunia...

Kembali menengok ke belakang adalah cara kita sadar dari mana kita mulai belajar dan mulai dalam langkah pertama.

Terima kasih sayang, menyempatkan berkenalan denganku lewat kebersamaan yang hangat. Melihat kegigihan kalian dalam belajar dan berteman adalah inspirasi baru untukku. Terima kasih atas pertemuan dan kesempatan menikmati sore bersama. Lewat karnaval dan lomba-lomba yang mendidik serta mencicipi masakan kalian yang enak. Belum tentu saya bisa seperti kalian. Bebas. Menyatu dengan alam dan berani tentunya. Inilah kesayanganku yang baru aku kenal, walau penuh dengan riuh celoteh kalian tapi itu membuatku semakin dekat dengan kalian.
Satu paket langit aku kirim juga dari sudut sekolah lamaku. Nostalgia kian merambat dalan benakku saat ingat masa dulu. Masa sekolah dasar. Melihat kalian seperti melihatku juga. Hingga senja menutup sore nan cerah. Kita bersama bersujud dalam 3 rakaat kita. Ya Allah... aku merasakan bebas dan menyatu lewat nikmat Allah kembali. Jagalah generasi muda ini ya Rabb... karena merekalah angkatan penerusku. Karena merekalah sang petualang. Sang pemberani dan pemimpin dunia. Karena merekalah... ceria dunia lewat kepolosan usia mereka. Ya Allah terima kasih atas kesempatan ini. Terima kasih kau hadirkan mereka untukku.
Semakin takjub pada anak Indonesia..  saat api kehangatan mulai menyala saat itulah aku semakin mengenal mereka. Adik-adikku. Dengan aksi mereka  yaa belum tentu aku bisa. Selamat ya sayang, kalian hebat.

Kembali untuk mengingat masa lalu tak masalah. Kembali untuk merasakan rindu yang lalu tak masalah. Karena dimanapun kita perlu ingat darimana kita akan kemana hingga kapan. Kita hanya berusaha melebarkan ikhtiar.

Jumat, 11 April 2014

Janji oh janji

Surat dunia.

Manusia itu.... aku tahu kok tempat khilaf dan salah. Aku tahu kalau manusia tempat banyaknya kekurangan. Tapi ya jangan pasrah gitu aja dong. Manusia bisa merubah. Kalau semua dikembalikan dalam fitrah manusia yaa semua akan mudah pesimisitas. Yap... manusia ga melulu minus kok. Cuma ada saatnya manusia khilaf. Khilaf dan lupa kan soal niat kita. Misalnya janji... yap sederhana dulu deh, soal janji. Kalau engga sanggup dan engga yakin yaa bilang dong. Jangan sudah berjalan lama baru tidak menyanggupi. Janji itu bisa jadi gantungan loh buat yang lain. Misalnya begini janji akan ada pertemuan dengan teman tapi tiba-tiba batal tidak jelas. Hallo... apa kabar nasib teman yang lain yang sudah on janji dan on time. Ya ampun... bentuk penyiksaan tuh. So keep lisan do action. Bikin harapan palsu lewat janji itu membuat orang lain menunggu, menanti, menunggu, menanti tergenapi semuanya.
"Ya Allah... jaga kesiapanku untuk bisa berjanji dan amanah bagi orang lain. Jaga kesiapanku dalam tidak menyiksa orang dalam harapan palsu. Janji oh janji... mudah ucap mudah batal yaa ampun naudzubillahimindzalik."
-kalau orang ingin mengingkari janji tangannya seperti ini *spongebob