Jumat, 31 Oktober 2014

Berbesar Hati

Surat Dunia

"Kadang kita tak memiliki semuanya, tapi kita berlatih untuk bersyukur apa yang ada,"

Sepenggal kalimat itu aku rangkai setelah menemani satu muridku mencoba pianika. Seorang anak begitu antusias saat mencoba hal yang baru. Begitupun Akbar, begitu antusias menekan tuts demi tuts pianika. Berbeda sekali saat satu jam yang lalu. Ia tampak lesu tidak bersemangat di pelajaran.

Satu jam yang lalu, aku bersama muridku belajar nada dan birama. Salah satu alat peraga yang bisa mendukung adalah pianika. Aku bunyikan pianika tuts demi tustnya. Dari nada Do tinggi hingga Do rendah. Lalu berbalik dari Do rendah ke Do tinggi. Lalu anak-anak mengikuti dengan suara yang semakin tinggi,
"Do... Re...Mi...Fa...Sol...La...Si...Do...,"

Semua serius menyimak. Namun satu sudut di kelas yang terdiam. Matanya menatap ke luar jendela, memikirkan sesuatu. Suara nada pianika dan nada dari teman-temannya tak mengusiknya.

"Akbar... kamu kenapa sayang?" Tanya ku pelan.

Ia hanya menggeleng dan mulai menatap ke arahku. Mulai memperhatikan lagu demi lagu yang aku contohkan dengan pianika. Karena lagu itu akan menjadi bahan materi untuk praktek Seni Budaya.

"Nanti not angkanya bisa dipraktekan di rumah ya.... minggu depan kita coba bersama-sama untuk memainkannya," aku yang antusias.

"Yes yes yes bawa pianika," kata Deska kegirangan.

Dan yang anak kecil sukai adalah belajar hal-hal yang baru. Dengan alunan musik menjadi daya tarik anak untuk menyukai belajar dan materi pembelajarnnnya. Satu persatu saling membicarakan pianika milik mereka. Selain itu membicarakan lagu-lagu yang mereka bisa. Tergambar jelas bahwa mereka menyukai saat dimana musik bisa jadi belajar bagi mereka.

"Bu..."

Satu sapaan untukku.

"Bu... harus bawa pianika ya?" Tanyanya pelan.

"Hmmm.... aku ga punya pianika bu," katanya kebingungan.

Sambil ku dekati ia, ku sentuh pundakknya dengan yakin.

"Hmm engga apa-apa nanti kita bisa coba keyboard sekolah untuk belajar," kataku yakin.

"Engga mau bu... beda bu caranya," pertimbangannya.

"Sama saja, untuk nada yang digunakan, cara menekan juga sama Akbar," jelasku.

Ia terdiam. Menatapku lama. Dengan sabar aku menanti respon sealnjutnya.

"Bu jangan bawa pianika ya?" Pintanya.

Aku memintanya untuk duduk di sampingku. Aku keluarkan seperangkat alat pianika.

"Coba kamu tekan satu nada saja,"

Akbar menekannya ragu-ragu.

"Ting..."
"Coba tekan 2 nada,"

"Ting... ting..."

Ia tersenyum takjub. Sambil keheranan mencoba pianika, ia mulai menekan tuts-tutsnya.

"Ting.... ting... ting..."

Senyumnya berubah menjadi tawa. Akbar asyik menekan pianika. Nada demk nada ia coba sekaligus nada lagu yang aku contohkan. Jemarinya lebih handal dari sebelumnya.

"Bu.... seru bu..." pengakuan Akbar.

"Iya silahkan latihan untuk minggu depan ya," kataku.

Hingga waktu istirahat selesai. Akbar masih menekan pianika. Melatih satu demi satu demi satu lagu.

"Bu..  engga apa-apa yaa saya main ini lama? Saya engga punya pianika bu," katanya.

"Boleh," izin dari ku.

Setelah puas berlatih, Akbar datang padaku untuk mengembalikan pianika. Dengan senyum tipisnya, kemudian ia menyodorkan pianika padaku.

"Bu ... terima kasih, meski saya tidak ada pianika tapi saya bisa latihan juga bu. Nanti saya beli pianika Bu, tapi nanti kalau Ayah dagangannya laris buanyak.... banget..." katanya.

"Ammiin..  Ibu doakan supaya Ayah Akbar dagangannya laris banyak.... banget...," ucapku antusias.

Berbesar hati. Saat sekeliling kita memiliki segalanya kemudian menengok ke diri kita, satu hal yang kita utamakan "bersyukur". Keadaan orang lain membahagiakan memang tapi dengan kita bahagia atas lebih nikmat rasanya. Dari Akbar, aku belajar untuk meningkatkan rasa syukur dan penerimaan. Apapun keadaannya. Kita wajib berusaha, biarkan semua bekerja hasilnya dengan sendirinya. Terima Kasih, atas hari ini.

Muhammad Nur Akbar
Selepas Istirahat,

Kamis, 30 Oktober 2014

Belajar (lagi)

Surat dunia.

"Namanya Deska Deningrum, salah satu penguji kesabaranku."

Kalau kita berhadapan dengan anak kecil, satu yang melekat dari mereka yaitu "ga sabaran". Yaaa... mereka dengan tingkat keingintahuan yang tinggi menjadi tidak sabar untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Sama halnya dengan satu muridku, Deska. Deska adalah satu murid bersyarat yang naik kelas ke kelas 2. Karena masih perlu latihan dan belajar lagi dalam pemahaman dan menulis. Satu hal yang buat aku greget adalah saat dia mulai tidak sabar menghadapi pelajaran sekolah. Apalagi saat harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan soal latihan. Satu suara yang tidak asing adalah seperti ini bunyinya,

"Bu... ini gimana??? Aku ga ngerti," merengek sedih.

Memang setiap ulangan dan latihan soal yang satu ini perlu pendampingan. Makanya aku tidak pernah jauh darinya untuk memastikan bahwa "everything is ok".
Dan terkadang juga saat pendampingan untuk pemahaman soal tambah gregetnya. Deska lebih sering cengengesan dan senyum sendiri tanda engga paham kali ya. Lalu ketika menulis jawaban, beberapa huruf ada yang tertinggal. Saat itu juga aku bimbing untuk perbaiki tulisannya. Memberitahu bahwa ada beberapa huruf yang tertinggal. Namanya anak kecil, saat dikoreksi malah marah.

"Ibu iyaaa aku tahu, nanti aku tulis"

"Ibu jangan kasih tau aku terus, aku juga tau bu"

Aku? Ngelus dada dan langsung istighfar. Mungkin aku yang harus amat sangat sabar. Dosenku, Bu Ana pernah berkata begini,

"Ibarat kesabaran itu bagai samudra maka ia akan menenggelamkan amarah,"

Bagaimanapun Deskaku, dia tetap anak yang manis. Ketika aku sedang duduk lelah, ia datang memelukku. Ketika aku datang ke sekolah, ia datang menghampiri parkiran motor untuk mengucapkan "selamat pagi" padaku, dia adalah anak yang paling cepat mengumpulkan tugas, paling antusias menulis, walau kata demi kata masih tertinggal. Deskaku tetaplah anak yang manis, setiap aku lihat deretan angka nilai ulangan atas namanya terbesit satu semangatnya untuk belajar. Walau kenyataannya hanya mendapat 50 tapi dia membuatku belajar lagi. Belajar lagi. Belajar lagi untuk bisa jadi yang terbaik baginya.
Pernah di satu waktu aku pandang senyumnya kala pagi, saat aku dan dia menyiram tanaman di sekolah, ada satu keyakinan kuat dan keinginan besar dalam dirinya untuk bisa layak naik ke kelas 2. Walau saat ini masih naik bersyarat. Dan aku tetap bahagia untuk Deskaku dan 18 murid hebat lainnya.

Terima kasih ya Rabb.

#challange 2

Rabu, 29 Oktober 2014

T.E.A.C.H.E.R

Surat dunia.

"Biarlah apa yang kamu tulis bekerja sendirinya,"

Dua tahun lalu, di cover file favoritku aku mencatat sebuah kalimat,

"Eka harus jadi guru."

Setiap kali aku buka file itu, selalu aku baca kalimat yang . Semakin sering aku buka, maka semakin sering juga aku ulang kalimat itu. Semakin sering diulang maka semakin aku mengingat kalimat itu. Semakin aku ingat, semakin aku tahu kemana aku harus melangkah. Apa yang harus aku lakukan, perjuanganku, pengorbananku dan apapun pembelajaranku untuk bisa menjadi seorang guru yang baik.

Dua tahun lalu juga, aku mencoba dari hal yang paling kecil. Aku kembali di sebuah majlis taklim tempatku dulu menimba ilmu selama 6 tahun disana. Al-Usman Mashuri adalah tempat pertama yang percaya padaku untuk bisa berbagi pengetahuan. Awalnya hanya sebuah keberanian. Dengan yakinnya aku mengajukan diri bertemu dengan pengelolanya.

"Saya ingin jadi guru pak, untuk itu saya harus banyak latihan."

Sejak saat itu, duniaku berubah. Sedikit berbeda dari biasanya. Dulu aku lebih suka bersantai di rumah atau berkutat dengan tugas sekolah. Tapi setelah pulang sekolah, aku langsung ke majlis bertemu dengan anak-anak pengajian. Satu-satunya yang bisa aku andalkan adalah berdongeng. Yaa.... itu yang selalu mereka tunggu dariku. Mungkin karena aku hobby menulis cerita jadi ide alur cerita selalu ada. Mulai dari dongeng bahasa sunda, hingga bahasa inggris aku lakukan. Alat peraga pun aku gunakan. Paling ku suka adalah saat aku dan anak-anak bermain boneka kaos kaki. Yaaa .... boneka yang kini masih aku simpan sebagai salah satu ikhtiarku hingga saat ini. Meski aku hanya mengajar selama 3 bulan tapi aku punya pondasi yang bisa jadi modal paling berharga yang pernah aku miliki. Setelah lulus SMA, aku meninggalkan majlis untuk bekerja di sebuah lembaga pendidikan informal. Ilmuku semakin bertambah setiap harinya. Mentalku diuji untuk bisa menjadi quality control pendidikan disana. Semakin hari aku semakin didewasakan dengan tanggung jawab. Justru inilah betapa aku sangat berterima kasih pada kesempatan Allah padaku. Berterima kasih pada sebuah penolakan demi penolakan atas kemampuanku. Karena aku semakin ingin diterima di kondisi terbaik tentunya. Aku berterima kasih atas kesempatan ikut memikirkan kecerdasan anak sekaligus tekanan dari para orang tua yang berharap terbaik pada anaknya. Aku berterima kasih atas tim kerja yang begitu baik dan membimbingku sabar dan teratur. Dan aku ingin berterima kasih atas kesempatan pertemuan bersama murid-murid disana yang kisahnya tidak pernah lupa aku catat dalam blog atau fileku.

Sungguh..... jika aku ulang lagi masa itu, sudah berapa banyak aku memiliki kesempatan belajar. Ilmu yang tak bisa aku tebus dengan uang dan material dunia, ilmu yang bisa mengiringiku hingga bisa ke jenjang formal hingga saat ini.

Terbesit satu keinginan yang aku katakan pada mama,

"Aku ingin mengajar di sekolah formal mah,"

Dan Allah yang baik yang mempermudah itu. Sungguh.... apa yang pernah aku jalani adalah proses yang bisa mendampingiku hingga sekarang. Dan aku sangat bersyukur, Allah mudakan aku dalam segi usia tapi Allah menyayangiku dalam segi proses kehidupan.

Bismillah.... langkah ini masih jauh. Tapi Allah selalu dekatkan itu sehasta demi sehasta. Hingga saatnya aku bisa memberikan sekolah gratis untuk anak jalanan dan para pemulung. Semuanya sudah kutulis di "Dream book" kelak semua persis seperti target. Terima kasih atas kesediaannya membaca blog demi blogku. Ini satu post bukan untuk menyombongkan, tapi sedang menyusun keberanian untuk bisa bermimpi dan pembuktian terus.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Mata hati

Surat dunia.

Adakalanya kita belajar untuk melunakkan hati. Belajar untuk menatanya dengan baik dan semakin baik (lagi).

Selepas

Surat Dunia.

Aku melihat satu senyumannya selepas mimpi telah terlaksana. Bagaimanakah perasaanku saat itu? Aku seperti bisa memeluk luasnya langit dengan hiasan keindahannya. Suatu hari nanti, akan ada saat dimana kapanpun senyum itu ada hanya untukku. Untuk berhasilnya mimpi kita.

Tengah malam.

Selasa, 21 Oktober 2014

Mine

Aku titipkan semuanya pada penciptaku. Biar Dia yang menjaga. Karena tak ada yang bisa kita miliki seutuhnya.

Senin, 20 Oktober 2014

My prayer

Surat Dunia
Saat itu ada yang punya mimpi untuk bisa pergi keliling Indonesia. Lalu dilanjut dengan perjalanan Eropa. Pada saat yang sama, aku pun ingin bisa menyapa seluruh dunia dengan kata demi kata dalam sebuah buku. Tetap menjadi pribadi yang hangat. Dan bersaudara sebanyak-banyaknya. Semoga ada kesempatan untuk bisa terus pembuktian.

Mata 5 watt
Kamar tercinta