Senin, 01 Februari 2016

Step 1 : my graduation

Halo toga...

Sabar yaa... nanti aku akan mengenakan kamu. Sebentar lagi yaa...

Mungkin itu cuplikan selintas kalau lagi sakit atau lagi menyerah dengan kesulitan.

Sarjana bukan akhir dari tujuan. Tapi ini menjadi awal bagiku kelak. Sarjana bukan hanya gelar diujung namaku saja tapi sebuah tanggung jawab besar nantinya. Waktu memang berdetak cepat. Bahkan aku pun merasakan perjalanan ini terasa cepat. Berganti berganti dan berganti... yang sudah berlalu tertinggal jauh dan masa depan semakin dekat. Satu tantangan yang akan dihadapi adalah melawan rasa malas dan nyaman untuk menuntaskan pendidikan. Ingat pohon semakin tinggi akarnya semakin kuat dan anginnya semakin kencang. Sama halnya setiap tahap yang aku lalui. Aku akan berjumpaan dengan kesulitan, menyerah dan ingin berhenti saja. Namun tiket emas hanya untuk mereka yang mau terus berjalan. Walau merangkak tapi ada bentangan jarak yang terlewati. Sebentar lagi step ini akan semakin dekat.

"Mudahkan... mudahkan... dan mudahkan... Eka Nurwati S,pd"

Tertanda
Cs (calon sarjana)

Kamu adalah matahari buatku

Kesempatan terbaik adalah membahagiakanmu.

Kamu hanya ingin aku baik baik saja.
walau kadang aku menyembunyikan keadaanku.
Kamu tahu.
Kamu hanya ingin aku tetap bahagia.
walau kadang aku melihatmu menangis.
Kamu hanya ingin aku terus berjalan.
walau tanpa aku tahu kamu kelelahan di belakangku.

Seandainya aku diminta untuk memilih mana yang aku inginkan? Aku akan katakan bahwa aku ingin kamu. Kamu tak bosan untuk mengatakan ini itu. Kamu tak bosan untuk lakukan ini itu.
Kamu... kamu memang hebat. Kalau kamu tak hebat apa jadinya aku. Kadang aku merengek untuk menyerah di segala keadaanku tapi kamu yang bilang bahwa aku tak pantas menyerah. Coba saja aku punya gunungan emas aku ingin berikan padamu. Tapi kamu pasti bilang "ahh untuk apa?"
aku tak punya banyak waktu saja kamu masih sayang padaku. Kamu masih mencuri waktu padaku untuk membahas ini itu. Untuk bercerita dan aku ambil sendiri maknanya. Aku pergi saja kamu masih menunggu aku pulang. Aku jauh saja kamu masih berulang kali menghubungiku. Kamu tidak bosankah?
Kamu memang sempurna... sangat sempurna... dengan segala keadaan kamu buatku teramat spesial. Kamu... ya itu kamu... kamu selalu memaafkanku jika aku nakal. Atau saat aku mulai kesal kamu yang berkata maaf untuk pertama kalinya. Tidakkah kamu lelah bersamaku?
Aku yakin tak ada lelah bagimu untukku. Bolehkah aku katakan satu kalimat untukmu??
Hanya ini yang bisa aku katakan...

Bu... aku bukan anak yang baik tapi karenamu aku paham bagaimana menjadi baik. Maafkan aku jika pada akhirnya aku pernah melukai hatimu karena sesering apapun tingkah nakalki kamu tetap mencium keningku. Kamu tetap mengulurkan tanganmu untuk aku cium dan aku raih restumu. Sampai kapanpun kamu adalah matahariku... cahaya yang aku butuhkan... kamu ibu terbaikku.,"

Tertanda
Anak kesayanganmu.

Kamu adalah matahari buatku

Kesempatan terbaik adalah membahagiakanmu.

Kamu hanya ingin aku baik baik saja.
walau kadang aku menyembunyikan keadaanku.
Kamu tahu.
Kamu hanya ingin aku tetap bahagia.
walau kadang aku melihatmu menangis.
Kamu hanya ingin aku terus berjalan.
walau tanpa aku tahu kamu kelelahan di belakangku.

Seandainya aku diminta untuk memilih mana yang aku inginkan? Aku akan katakan bahwa aku ingin kamu. Kamu tak bosan untuk mengatakan ini itu. Kamu tak bosan untuk lakukan ini itu.
Kamu... kamu memang hebat. Kalau kamu tak hebat apa jadinya aku. Kadang aku merengek untuk menyerah di segala keadaanku tapi kamu yang bilang bahwa aku tak pantas menyerah. Coba saja aku punya gunungan emas aku ingin berikan padamu. Tapi kamu pasti bilang "ahh untuk apa?"
aku tak punya banyak waktu saja kamu masih sayang padaku. Kamu masih mencuri waktu padaku untuk membahas ini itu. Untuk bercerita dan aku ambil sendiri maknanya. Aku pergi saja kamu masih menunggu aku pulang. Aku jauh saja kamu masih berulang kali menghubungiku. Kamu tidak bosankah?
Kamu memang sempurna... sangat sempurna... dengan segala keadaan kamu buatku teramat spesial. Kamu... ya itu kamu... kamu selalu memaafkanku jika aku nakal. Atau saat aku mulai kesal kamu yang berkata maaf untuk pertama kalinya. Tidakkah kamu lelah bersamaku?
Aku yakin tak ada lelah bagimu untukku. Bolehkah aku katakan satu kalimat untukmu??
Hanya ini yang bisa aku katakan...

Bu... aku bukan anak yang baik tapi karenamu aku paham bagaimana menjadi baik. Maafkan aku jika pada akhirnya aku pernah melukai hatimu karena sesering apapun tingkah nakalki kamu tetap mencium keningku. Kamu tetap mengulurkan tanganmu untuk aku cium dan aku raih restumu. Sampai kapanpun kamu adalah matahariku... cahaya yang aku butuhkan... kamu ibu terbaikku.,"

Tertanda
Anak kesayanganmu.

Kamu adalah sinar matahari bagiku

Kesempatan terbaik adalah membahagiakanmu.

Kamu hanya ingin aku baik baik saja.
walau kadang aku menyembunyikan keadaanku.
Kamu tahu.
Kamu hanya ingin aku tetap bahagia.
walau kadang aku melihatmu menangis.
Kamu hanya ingin aku terus berjalan.
walau tanpa aku tahu kamu kelelahan di belakangku.

Seandainya aku diminta untuk memilih mana yang aku inginkan? Aku akan katakan bahwa aku ingin kamu. Kamu tak bosan untuk mengatakan ini itu. Kamu tak bosan untuk lakukan ini itu.
Kamu... kamu memang hebat. Kalau kamu tak hebat apa jadinya aku. Kadang aku merengek untuk menyerah di segala keadaanku tapi kamu yang bilang bahwa aku tak pantas menyerah. Coba saja aku punya gunungan emas aku ingin berikan padamu. Tapi kamu pasti bilang "ahh untuk apa?"
aku tak punya banyak waktu saja kamu masih sayang padaku. Kamu masih mencuri waktu padaku untuk membahas ini itu. Untuk bercerita dan aku ambil sendiri maknanya. Aku pergi saja kamu masih menunggu aku pulang. Aku jauh saja kamu masih berulang kali menghubungiku. Kamu tidak bosankah?
Kamu memang sempurna... sangat sempurna... dengan segala keadaan kamu buatku teramat spesial. Kamu... ya itu kamu... kamu selalu memaafkanku jika aku nakal. Atau saat aku mulai kesal kamu yang berkata maaf untuk pertama kalinya. Tidakkah kamu lelah bersamaku?
Aku yakin tak ada lelah bagimu untukku. Bolehkah aku katakan satu kalimat untukmu??
Hanya ini yang bisa aku katakan...

Bu... aku bukan anak yang baik tapi karenamu aku paham bagaimana menjadi baik. Maafkan aku jika pada akhirnya aku pernah melukai hatimu karena sesering apapun tingkah nakalki kamu tetap mencium keningku. Kamu tetap mengulurkan tanganmu untuk aku cium dan aku raih restumu. Sampai kapanpun kamu adalah matahariku... cahaya yang aku butuhkan... kamu ibu terbaikku.,"

Tertanda
Anak kesayanganmu.

Sabtu, 23 Januari 2016

Ikhlas

Tahu kan rasanya berjalan sendirian?

Yaa... kita akan bingung kemana kamu harus melangkah. Tujuanmu jelas tapi perjalanan kita tetap saja terhambat.

Aku berusaha tetap jalan bukan? Tentu saja tetap berjalan.
Tapi kita akan merasa kesepian.

Karena jika kita punya mimpi yang sama kenapa kita harus berjalan terpisah? Sungguh waktu memang jahat yang memisahkan mimpi kita.

Atau memang kita yang sudah bosan untuk menjalani mimpi ini? Aku kehilangan. Yaa... rasa kehilanganku berubah menjadi kecewa sekarang.

Entah karena kita sudah terpisah masing masing karena kesibukan atau memang sudah saatnya semuanya kembali pada awalnya.

Yaa... energi memang dahsyat kalau kita ledakan dalam satu ledakan saja. Sama halnya semangat kita yang dahsyat pertama kali saat kita wujudkan langkah pertama kita.

Aku tahu... tak ada janji yang meminta kita untuk tetap berjuang. Tapi ada perjalanan yang tak mungkin kita tinggalkan di waktu yang lalu saat kita masih bersama.

Kemanakah kita?

Aku benci mengatakan ini. Aku benci mengatakan bahwa semunya sama saja. Akan ada yang penting dari penting. Akan ada yang prioritas dari prioritas.

Cukup satu kata yang menghapus semua. Ikhlaskan saja...
Sudahlah...

Kenapa seperti ini? Aku bisa jalani.

Senin, 18 Januari 2016

Kalah artinya pemenang (nantinya)

Kalah itu artinya kamu akan menang (nanti)

Aku tahu sebuah kompetisi pasti ada pemenangnya. Perebutan juara pasri terjadi. Kata dia jikalau kita menang tandanya usaha kita maksimal. Tapi jika sudah berusaha maksimal kita belum menang juga tandanya kita harus lebih berusaha lagi. Dia bilang kalau kita berhasil dalam kompetisi bukan hanya karena usaha kita. Ada keyakinan kita yang mengiringi. Lalu ada doa kita yang memudahkan. Banyak usaha melupakan doa. Dan kurang baik juga usaha tanpa doa. Keduanya saling melengkapi.

Aku tahu kalah bukanlah akhir. Tapi justru aku jadi tahu kalau aku bagai semut diantara para gajah. Yaa kecil memang. Tapi semut yang nantinya akan mengalahkan gajah gajah besar.

Aku tahu. Kalah tandanya kita harus maju lagi. Untuk belajar dari kesalahan yang pernah terjadi. Dan dia bilang seorang pemenang tidak dihasilkan dari satu kompetisi. Tidak dimudahkan dari satu kompetisi. Tapi berkali kali kekalahan yang mendorongnya untuk tetap berusaha lagi.

Kalah dan gagal keduanya adalah refleksi diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.

Catatan ini aku buat untuk menjadi cambuk diriku untuk tidak mudah menyerah. Ini kompetisi. Yang berjuang dan bertahan yang akan mendapat banyak pelajaran berharga.

Tertanda.

Perubahan

Sabtu, 09 Januari 2016

Waktu bukan hanya untuk ditunggu

Waktu bukan hanya untuk ditunggu namun diusahakan (kita) berdua.

Untukmu yang sedang berdekatan dengan perhitungan waktu, kita tak akan pernah tahu masa depan yang kita jalani. Tapi kita bisa melakukan yang terbaik hari ini. Selalu aku katakan kita hanya perlu persiapkan yang ingin kita lakukan di masa depan. Dalam masa menunggu dan menghitung waktu menuju masa depan yang tidal pasti.

Untukmu yang sedang melangkah pelan menuju perubahan. Ingatlah bahwa itu adalah hak dan kewajiban untuk merubah dan mendewasakan dirimu. Sama halnya aku yang sedang terus bercermin dan sadar bahwa bayangan cerminku tak sesempurna tampak nyatanya. Masih jauh. Bahkan jauh dari sebuah perbaikan. Tapi aku akan terus berjalan ke arah sana.

Untukmu yang sangat yakin bahwa kebaikan akan terus mengiringi kita. Semuanya berawal pada diri kita. Baikkah kita pada orang lain? Sudah baikkah kita pada diri sendiri. Kita tidak bisa berharap bahwa kebaikan selalu mengiringi langkah kita saat kita tak menuju pada hal kebaikan.

Untukmu yang sedang menantikan waktu yang tepat. Ingat lagi. Sedetik tak kembali. Aku paham itu. Waktu akan tetap berlalu meninggalkan kita. Dalam menanti aku belajar bahwa tak mungkin sama aku bawa diriku yang seperti ini untuk di masa depan. Aku pun sama. Harus tetap berubah dan belajar.

Waktu hanya terlewat. Tapi kita tidak akan melewatkan semuanya dengan diam. Masa depan akan berubah. Bagaimana perubahannya? Kita yang memilihnya.

Selamat berubah untuk kita. Pendewasaan akan mengiringi kita. Tetaplah Allah menjadi alasan dari semua perubahan dan usaha kita.