Selasa, 22 September 2015

Dari aku, gadis yang jungkir balik memantaskan diri

Kalau pertemuan memang sudah terjadwalkan, aku tak keberatan jika kini mesti menambah tabungan kesabaran. Kau boleh menuntaskan kesukaanmu main game online seharian, berpusing ria lembur tugas statistik sampai malam, bahkan memilih bekerja di rig di tengah laut demi menambah tabungan.
Tak perlu mengkhawatirkanku berlebihan. Gadismu ini sudah lihai menghadapi kesepian. Sementara kau sibuk menuntaskan impian, aku pun tak akan tinggal diam. Tamatkanlah dulu segala gelegak dalam dirimu. Sementara itu, aku akan menunggu — sembari terus memantaskan diri untukmu.



Terkesan lebih mudah kalau sekarang kita mengambil jalan pintas. Namun masa depan membutuhkan ketangguhan 2 penyintas

Masa depan membutuhkan ketangguhan 2 penyintas
Mudah saja jika kita ingin tergopoh-gopoh saling menemukan. Hati tak perlu dijaga mati-matian. Bahkan langsung dibuka setiap ada dia yang menarik perhatian. Namun kita lebih memilih saling mempersembahkan dalam sebaik-baik keadaan. Meski jelas rindu pada pendampingan, menunggu jadi hal terwaras yang kini bisa dilakukan. Anehnya, kita ini 2 orang yang sama-sama percaya bahwa sesuatu yang baik sedang dipersiapkan.
Setiap rasa sepi dan meremang itu datang — ada keyakinan bahwa kita tak sepenuhnya sendirian.
Satu orang lain di luar sana,juga sedang memperjuangkan terjaganya perasaan. Meski belum dipertemukan kita tak seharusnya merasa kesepian.



Masa tunggu ini jadi waktu membiakkan mimpi. Kita akan bertemu, lalu langsung siap berlari

Masa depan membutugkan ketangguhan 2 penyintas
Bersisian sepanjang waktu tidak menjamin apa-apa. Walau tak pernah terpisah dan saling menemani setiap saat, bukan berarti impian kita akan lekat. Kau dan aku sama-sama tahu bahwa impian mesti tuntas dibiakkan sendiri sebelum nanti siap dibagi. Tak ada gunanya menjalani apa yang sama sekali minim kebaikan saat ini. Saat ini, mari kita bermimpi sendiri-sendiri.
Kamu bebas punya impian tinggal di rumah minimalis macam hunian di Lippo Apartmen. Sementara aku malah ingin punya rumah yang classy ala-ala tuan putri. Keinginanmu punya sport car macam Honda CRV tak harus terbatasi. Aku pun bebas punya mimpi sendiri, ingin membeli Mini Cooper yang di mataku tampak lucu dan cantik sekali.
Saat kita bertemu nanti, kamu dan aku sudah tuntas jadi 2 orang yang siap mengambil langkah panjang untuk berlari. Kita sesuaikan ritme demi kenyamanan dalam upaya saling mendampingi. Tak ada lagi impian yang belum dijajal sampai batas maksimal diri.
Kita akan bertemu, saling pandang, menemukan jemari — lalu siap menepi.


Sampai tiba saatnya nanti — waktu berbagi peluh tak harus membuat rikuh. Ketika sisi terjujur sebagai manusia malah membuat perasaan makin tumbuh

…saat sisi terjujur sebagai manusia membuat perasaan tumbuh
Tidak ada yang menjamin kita langsung bahagia setelah bertatap mata. Kita juga bisa tidak langsung mapan, mesti rela hidup pas-pasan. Pertengkaran pun bisa tidak semudah itu dihindari. Selepas bertemu nanti, kau dan aku malah bertransformasi jadi tukang kritik paling wahid bagi diri. Akan kutemukan dirimu yang ngomel lucu melihat hobiku belanja lipstik di promo #SuperSeptember MatahariMall.
Katamu, “Bibirmu kan cuma 1. Buat apa lipstik sebanyak itu?” Ah, pria memang tak pernah mengerti. Bukannya lipstik ini juga kamu yang akan menikmati? Bersabarlah dulu. Sampai tiba masa-masa kasual macam itu. Saat wajah mengantukmu jadi hal yang biasa kutemukan sepulang kerja. Rengkuhmu di pinggang jadi pengantar tidur yang mengalahkan teh chamomile efek tenangnya. Saat kita bisa bebas bercinta tanpa lagi takut dosa.



Saat kegamangan karena sepi melanda, aku mohon tolong percaya. Ada gadis yang sedang berupaya mematut diri demi membuatmu bahagia

Ada gadis yang berusaha agar kamu bahagia
Walau kamu tahu aku ada, tentu kehadiranku yang belum nyata tak bisa langsung menghapus rasa sepi di udara. Kau bisa merasa tidak adil rasanya saat kawan-kawanmu menggenggam tangan wanita, sementara kau mesti meredam gejolak hati dan menjaga pandangan mata.
Tak ayal ada rasa sendirian, kesepian, butuh pendampingan. Jika ini bisa sedikit meringankan, maka kau perlu tahu bahwa dalam setiap sujud panjang kau tak pernah alpa kudoakan. Bukan berarti aku tak rindu menemuimu saat ini. Sebenarnya aku pun ingin bisa punya bahu lebar yang kapanpun bisa disandari.
Tubuhku juga rindu disapa setiap inci porimu — namun bukankah kita sama-sama tahu — hal terbijak saat ini adalah menunggu?
Sampai nanti kita bertemu.
Aku,
Gadis yang sedang jungkir balik memantaskan diri untukmu.

Sabtu, 12 September 2015

Wishes

Surat untukmu

"Sampai akhir"

Akan ada hari dimana kita bukan siapa-siapa lagi. Hari dimana kita mulai kehidupan baru bersama. Saat dimana kita tinggalkan semuanya yang telah kita lewati di belakang untuk berjalan ke masa depan.

Akan ada hari dimana bait doaku terjawab. Doa yang selalu aku pinta dari Tuhanku. Akan hadirmu menjadi takdir dalam lauhul mahfuzku.

Akan ada hari dimana kamu berjanji di depan penciptaku dan jutaan cahaya di langit. Beriringan dengan doa keluarga dan sahabat kita untuk mengantarkan kita pada lembaran baru.

Akan ada hari dimana aku akan bersamamu dalam sisa usiaku. Sehatku sakitku. Bahagiaku sedihku. Mudahku sulitku. Semuanya berganti kita. Sehat kita. Sakit kita. Bahagia kita. Sedih kita. Mudah kita. Sulit kita. Dan hidup kita bersama.

Akan ada hari dimana aku temukan senyuman itu. Senyuman yang aku rindukan sudah lama. Senyuman yang sangat tulus saat kamu bersyukur telah bersamaku.

Akan ada hari dimana tawamu akan menyertai setiap hariku. Pola tingkahmu yang berbeda dariku. Namun kamu tetap mau menghargai semua sikapku.

Akan ada hari dimana meja makan kita ramai. Ramai dengan makanan kesukaan kita dan kita akan bersyukur selalu setiap rezeki yang ada.

Akan ada hari dimana barisan shalat kita. Kamu menjadi imam dan aku berada di belakangmu.

Begitulah diri ini yang amat merindukanmu. Saat sujud akan ku katakan pada penciptaku.

"Ya Allah.... semoga inilah imam yang selalu aku sebut namanya dalam doa. Yang dalam perjalanan hidupnya telah banyak menemukan pengalaman berharga bagi dirinya. Semoga inilah imam yang menjadikanku semakin sholehah bersamanya. Dan semakin mendamaikan hatiku karena ketulusannya. Ya Allah... Kau tahu aku lebih dari diriku. Maka lapangkanlah kesabarannya kertika bersamaku. Aku punya banyak harapan padanya ya Rabb.. harapan dari semua mimpi yang ingin aku laksanakan bersamanya. Cintanya yang tulus. Tanggung jawabnya yang lurus semakin aku yakin bahwa aku bisa menuai harapan kecilku. Ingin sekalu ya Rabb. Nafas perjuangan kami berada dalam jalan-Mu. Maka kuatkanlah kami ya Rabb... dalam hidup bersama sampai akhir. Sampai kami berada dalam akhirat-Mu,"

Minggu, 30 Agustus 2015

Surat sarjana

Surat sarjana

"Tak akan cukup baktimu bagi ayah dan bundamu bahkan dalam seumur hidupmu,"

Surat ini aku tulis dalam perasaan yang haru biru sesaat setelah aku impikan sebuah acara wisudaku. Yaa... inilah satu permintaan ayahku agar aku menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Bukan hanya sebuah status kependidikan yang membawa limpahan harta padaku namun lebih dari itu.
Berkali-kali aku ingin tanyakan pada ayah, apa alasannya mengapa aku harus menjadi sarjana? Ayah hanya bilang satu kalimat.
"Nanti kamu akan paham maksud ayah ini baik, jalani dengan serius,"
ya ayah adalah orang pertama yang telah berkorban banyak demi aku. 11 tahun lalu, ada kisah sarjana yang belum selesai. 11 tahun lalu demi aku masuk sekolah menengah pertama, ayah menunda salah satu cita-citanya menjadi sarjana. Agar biayanya dipakai untuk membayar uang muka sekolahku.
Ayah adalah yang paling hebat. Diantara banyak guru lain di tempat ayah mengajar, ayah salah satunya yang belum sarjana. Karena keterampilan ayah maka ayah tetap dipertahankan di sekolah. Sekian banyak yang membuat ayah merasa sangat berbeda dalam perlakuan dan gaji di sekolah tersebut. Namun yang ku tahu, ayah tetap mempertahankanku agar tetap bersekolah dengan baik. Bisa ku bayangkan bahwa dalam benakmu telah ada harapan baru yang tengah bersinar. Bahwa cita-citamu bukan hanya untukmu namun sedang aku gulirkan bersamaku. Sedang aku perjuangkan bersama usahaku. Ayah sayang, perlahan aku telah temukan jawaban atas semua harapanmu padaku, tentang sarjanaku yang harus aku raih. Sarjana, bukan hanya sebuah status yang akan mengangkat derajat keluargaku. Bukan hanya mengangkat derajatku. Namun lebih dari itu. Bukan hanya sebuah gerbang dengan kehidupan yang enak dan banyak kemudahan yang diberikan. Namun lebih dari itu. Bukan hanya sebuah status yang akan membesarkan namaku namun lebih dari itu. Inilah satu langkah yang akan mengawali kisah baru di keluargaku. Inilah kisah awal hidup baru bagi keluargaku. Sebagai anak pertama bagi kedua orang tuaku, tentu ada tugasku memberi jalan awal yang baik bagi adik-adikku. Agar mereka punya standar yang baik dalam hidup ini. Sebagai cucu pertama dalam keluargaku, tentu aku menjadi tonggak dari semua harapan. Inilah yang buatku sangat ingin membahagiakan kalian semuanya. Lewat perjuangan pendidikanku agar aku mampu sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa. Agar aku amanah dalam menebar ilmu kalam darimu. Agar aku amanah dalam menjalankan tugas khalifahmu.

Ya Allah... mudahkanlah...
Ya Allah... lancarkanlah...
Setelah banyak pengorbanan kedua orang tuaku.
Maka izinkanlah aku membahagiakan mereka.
maka jadikanlah aku satu cahaya bagi mereka.
Maka izinkanlah aku persembahkan wisudaku untuk mereka.
Perjalanan sebentar lagi ya Rabb...
Mudahkanlah... lancarkanlah... berkahkanlah...

Jumat, 28 Agustus 2015

My Ride

Assalamu'alaikum wr.wb

Salam kenal ukhti semua. Salam bahagia dari saya yang telah diciptakan oleh-Nya sebagai salah satu khalifah di bumi. Terima kasih kepada hijab Almira yang mengizinkan saya membagikan kisah saya disini. Perkenalkan ukhti semua, nama saya Eka Nurwati. Mahasiswi di sekolah tinggi pendidikan di Jakarta. Usia saya 20 tahun. Sudah 5 tahun saya memutuskan berhijrah untuk menjadi muslimah berhijab. Tak mudah memang, namun semuanya saya paksakan. Kata "paksa" sendiri menjadi kata berkonotasi negatif bagi banyak orang. Bagaimana bisa sebuah hal yang baik dipaksakan? Apalagi berjalan dengan sedikit ikhlas. Begini ukhti sholehah kisahnya.

Ada satu kalimat yang sederhana namun besar artinya bagi saya.

"Kita bisa karena biasa. Awalnya belum bisa namun lama-lama kita biasa,"

Satu kalimat itu yang melekat dalam benak saya. 5 tahun lalu, tepat saya kelas 1 SMA di sebuah SMA negeri di Bogor. Saya masuk dengan tes yang lumayan ketat. Sebagai siswa disana wajib mengikuti beberapa ekstrakulikuler yang tersedia. Saya memilih 3 sekaligus. Pilihan saya jatuh pada Rohani Islam, Kepalangmerahan, dan tarian saman dari Aceh. Dalam menjalani hari-hari sebagai siswa SMA, tak mungkin tidak penat. Dengan jadwal mata pelajaran yang bertumpuk lalu harus ekskul setelah pulang sekolah. Banyak teman-temanku yang memilih tidak aktif dan lebih menjaga penampilan mereka. Bayangkan ketika saya harus ekskul kepalangmerahan yang di lapangan atau saya harus berkeringat ria ketika latihan tarian. Semua ku jalani dengan bahagia dan tak mau meninggalkan satu ekskul pun. Banyak teman saya yang lebih memilih tetap tampil cantik dengan balutan make up dan wewangian. Maklum masa pubertas. Saya pun sama, saya suka sekali jika rambut saya terurai dan dapat ditata rapi dan cantik ketika sekolah. Saya belum berkerudung pada saat itu. Sampai pada suatu rapat dalam ekskul Rohis yang mewajibkan peraturan baru,

"Ketika rapat semua wajib berjilbab bagi yang perempuan," keputusan bapak ketua Rohis saat itu.

Yaa mau tidak mau saya sebagai anggota baru mengikuti apa yang menjadi perintah atasan. Pernah satu waktu saya lupa berjilbab saat acara rapat Rohis namun yang saya putuskan adalah kabur dari acara rapat dan pulang. Hehe namanya juga anak SMA yang masih labil.

Berkali-kali rapat Rohis berarti tandanya saya harus bawa jilbab di tas. Lalu pakai jilbab itu untuk rapat kemudian lepas jilbab ketika pulang rapat. Berkali-kali melakukan hal yang sama yang ku rasakan hanya satu,

"Kok ribet yaa? Kayak bongkar pasang kerudung aja?" Kata hatiku.

Pernah terselip niatan yang buruk untuk keluar Rohis karena jilbab merepotkan. Ahh namun semuanya aku tepis saja. Toh pecundang saja saat hal kecil itu harus menghentikannmu. Bukan hal kecil soal jilbab namun kemauannya untuk berjilbab itu yang belum ada.

"Ninti aja ah pakai kerudungnya pas udah nikah aja," jawabku enteng.

Tapi melihat satu persatu temanku yang perempuan berhijab kok jadi getir ya hati ini? Kayak beda kasta deh kalau lagi kumpul sama teman Rohis yang lain. Kata hatiku yang mulai goyah.

Tiba di satu hari aku katakan niatku untuk berhijab kepada mama. Mama antusias dan langsung membelikan baju panjang plus kerudungnya. Namun belum bisa aku pakai. Masih belum percaya diri.

Lalu aku ceritakan niatanku pada kakak kelasku yang sama-sama di Rohis.
"Kak aku mau pake kerudung aja deh biar ga ribet pas rapat," ucapku. Hanya sampai situ niatku. Biar ga ribet.
Lalu dengan bahagianya kakak kelasku menjelaskan soal hijab,
"Subhanallah dek, kakak seneng loh kalau itu sudah jadi keputusanmu," katanya.

Aku hanya tersenyum manis. Semanis mungkin.

"Berarti hidayah sudah kamu dapatkan," lanjutnya.

"Kok hidayah kak? Kayak dosa banget ya aku?" Tanyaku.

Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan energi untuk menjelaskan banyak hal padaku.

"Kamu tau lontong de? Kenapa coba lontong harus dibungkus?" Tanyanya.

"Supaya ga basi dan kotor ya kak?" Jawabku ragu.

"Kamu betul dek," katanya antusias.

Berhijab itu menjaga kita dari lingkungan luar. Maksudnya menjaga aurat kita agar tidak dinikmati banyak orang. Kalau lontong tanpa bungkus maka yang hinggap bisa saja lalat pembawa penyakit. Jika tanpa hijab maka bisa jadi banyak hal yang buruk terjadi. Misal digoda kaum adam karena keindahan tubuh, lalu hawa nafsu karena kita yang menampakan keindahan tubuh, karena yang keluar tanpa menutup maka akan dilingkari setan.

Maka semakin kuatlah niatku untuk berhijab. Walau kadang banyak godaan saat kepala terasa panas dan gerah namun ini sedang dalam proses adaptasi. Satu yang buatku merasa ingin kembali untuk lepas hijabku adalah kala aku lihat teman-teman yang lain begitu cantik dan nyamannya tanpa hijab. Rambut bisa digibaskan dan ditata sedemikian rupa. Namun itulah tantangan yang harus aku lewati.

"Kak apa aku cantik yaa pakai hijab?" Tanyaku polos.

"Kamu cantik dek, kenapa kamu masih ragu ya?" Tebak kakak kelasku.

Aku hanya tersenyum sambil menatap diriku di depan cermin.

"Bukan kamu yang sudah cantik lalu berhijab namun hijab yang mencantikan wajah dan hatimu. Setidaknya kamu telah belajar bagaimana menjaga kehormatanmu dan kamu adalah perempuan cerdas dek," katanya amat sangat yakin.

Dan sungguh aku berterima kasih pada Allah yang telah menegurku dalam kelembutan sayangnya. Yang telah menjadikanku perempuan yang sedang belajar dan dikelilingi orang-orang pembelajar. Bertahun-tahun sudah aku berhijab. Aku tetap berkarya dan berkarya. Karena hijabku adalah perisai perang hawa nafsuku. Karena hijabku menegurku agar aku jaga akhlakku agar tidak rusak. Karena hijabku juga aku menemukan banyak kesempatan dalam menjalani hidup ini. Hingga saat ini, aku telah menemukan dunia kreasiku karena hijabku. Kreasi bross dari kain-kain yang berwarna. Dan itulah yang menjadi semangatku. Aku memang belum bisa membawa banyak temanku berhijab namun aku bisa mengajaknya lewat karyaku, bross hijab.

Untuk setiap langkah dan pertemuan
Untuk setiap kisah dan perjalanan
Aku bersyukur
Bahwa Allah yang melindungiku
Dan meyakinkanku lewat pilihanku
yang telah membisikan keamanan
dalam ayat-ayatnya
Dan dalam hijab ini aku serahkan
Bahwa pertolongan Allah amatlah dekat.

Terima kasih. Salam kenal dari kota Bogor.

Daftar Riwayat penulis

Nama      : Eka Nurwati
TTL          : Purbalingga, 9 Feb 1995
Usia         : 20 tahun
Hoby        : bloger
Alamat     : Desa Pasirangin RT 01 Rw 04 no 23 Cileungsi-Bogor 16820
Alamat e-mail : ekanurwati09@yahoo.com
Blog          : www.sebuahkotaksurat.blogspot.com
Pekerjaan : guru

Motto hidup : Menulis mengukir sejarah

Ini tentang kamu

Setangkai bunga, bukanlah kata

Bukan bunga yang memintamu untuk berkata.
Namun hatimu yang mendorongmu
Untuk mengucapkan.
Bukan cinta yang membuatmu bertahan
Namun bersamanya kamu telah temukan alasan kamu tetap bahagia dan membahagiakannya
Bukan cincin yang memintamu terikat padanya.
Namun ruang hatimu yang tetap berada bagi orang yang sama.
Tetap diiisi oleh senyum yang sama
Tanpa pernah berfikir untuk meninggalkannnya dalam lemah dan tak berdaya.
Bukan janji dalam kehidupan bersama
Namun sebuah pembuktian yang membuatmu aman bahwa kamu tetaplah menjadi satu dalam hatinya.
Bukan indahnya malam-malam bersamamu yang telah dilewati namun kesediaanya menempuh badai yang menghempas namun tetap menggenggam erat.
Bukan kebahagiaan dalam sehat dan tawa yang riang
Namun tetap berada di sisi kita ketika sekarat sekalipun.
Bukan hanya soal limpahan harta yang telah kamu berikan.
Namun tentang mengajarkanku bagaimana menjadi satu bidadari setiap hari.
Bukan tentang rencana masa depan yang amat sangat indah.
Namun kamu berusaha selalu untuk aku hidup dan tetap bahagia bersamamu hari ini.
Ini soal menemukan maupun diketemukan dalam perjalanan bersama
Tentang sebuah perjalanan yang menembus waktu
Namun tetap melangkah bersama orang yang sama.
Tentang bersyukur atas kiriman-Nya
Bahwa cinta bukan soal rasa namun tanggung jawab hingga akhirat.

Rabu, 19 Agustus 2015

Untukmu,


Untukmu.

Untukmu yang tiap doaku aku pasrahkan pada Allah. Untuk kebaikan dunia akhiratku. Untukmu yang tak pernah absen dalam bayangan di otakku. Dan untukmu yang buatku tersenyum bahagia bahwa kamu bukanlah ilusi belaka.

Kamu adalah satu dari hal yang ingin aku hidupkan dalam usia hidupku. Kisahmu yang telah aku semat indah bersimpul bahagia. Yang tiap aku bayangkan semua mengalir mudah dalam ingatan dan rencana. Kamu yang kala pagi ingin aku datangi dan kusaksikan betapa Allah sangat ingin aku bersamamu. Yang tiap pagi ingin aku datangi dan kusaksikan banyak harapan bermunculan karenamu. Kamu yang tiap siang ku rasakan sejuk dalam teduhan yang mendamaikan. Yang kala angin sore mengibaskan jilbabku dan ku rasakan bahwa dilengkapkan lagi nikmat Allah lewat kamu.
Ya kamu... kamu yang buatku tetap mau melangkah dan melangkah. Menyadarkanku untuk tetap bersama-Nya dalam asma doa yang tak kunjung berhenti. Kamu yang buatku ingin mengenal banyak hal pengetahuan agar nantinya sejalan dan searah. Kamu yang buatku bisa merasakan bahwa setiap gerak doaku akan menuju padamu. Kamu.. ya kamu... maka dari itu, jikalau Allah memampukanku dalam ikhtiarku, maka aku ingin kamu kuraih. Sebagai rasa syukurku pada-Nya bahwa hanya Allah yang menguatkan dan meniupkan banyak keyakinan bahwa kamu ada untukku. Maka dari itu tetaplah berada untukku. Dan ku ingin bahagia bersama Allah dan kamu. Kamu bukanlah siapa yang akan bersamaku. Namun bagiku kamu tetap jadi sumber inspirasiku selama ini. Kamu bukanlah siapa yang akan bersamaku sampai aku mati. Tapi kamu buatku hidupku bermakna dan matiku insyaallah bahagia. Kamu bukanlah siapa-siapa. Kamu adalah sekolahku. Sekolah impianku.

"Ya Allah semoga Kau limpahkan banyak kekuatan untukku agar terus mewujudkan ini,"

Aku ingin sekolah impian ini bukan hanya mimpiku saja, namun bagi mereka yang beruntung menjadi bagian di dalamnya. Aku ingin mereka bahagia ketika belajar di dalamnya. Aku ingin mereka aman dan nyaman di dalamnya. Tertawa dan berlarian di lorong sekolah. Berkejaran bersama teman-teman lainnya. Lalu ada deretan pohon rindang yang menaungi kisah kami semua. Ada para guru sholeh dan sholehah yang membuat mereka amat menikmati pendidikan mereka. Ada aliran kolam yang gemericiknya akan jadi bunyi paling merdu yang pernah aku dengar. Semoga ya Allah... Kau mudahkan aku bergerak untuk pendidikan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Aku ingin tak ada yang susah sekolah. Aku ingin semua punya masa depan yang cerah. Ya Allah... izinkanlah aku berada dalam gerak bersama-Mu. Dalam sekolahku yang mampu mengobati mereka yang broken home dan kesepian akan arti keluarga.

Ahh jika aku fikirkan ini rasanya semakin dekat, maka dekatkanlah aku pada orang-orang yang baik. Yang mengantarkan kamu padaku maupun sebaliknya. Mudahkan. Wujudkan. Bahagiakan dan semoga bermanfaat. Sekolah impianku.

(Calon) kepala sekolah


Eka Nurwati M,pd.

Kamis, 13 Agustus 2015

jalan baru

Jalan Baru

"Dalam hidup kadang tamparan keras memang diperlukan. Namun tamparan hanya akan menjadi memar apabila tak ada tangan lembut yang mengelus setelahnya. Tamparan akan menjadi pelajaran apabila setelah itu ada sepasang tangan yang memeluk kepedihan yang muncul,"

Blog ini aku persembahkan untuk dosen pertamaku. Dosen yang telah mengajariku untuk menemukan jalan baru.

Kisah ini berawal dari 5 tahun lalu. Saat aku bertemu beliau dalam acara promo beasiswa luar negeri. Beliau ada di hadapanku sebagai pembicara bagi ratusan undangan lainnya. Setengah hati aku langkahkan kaki ke acara itu. Karena buat apa? Mau dikasih refrensi kuliah apapun tetap saja keluargaku belum punya cukup tabungan untuk aku kuliah. Kalau ditanya soal beasiswa, ingin rasanya bisa mendapatkannya. Apa daya beasiswa yang aku dapatkan jauh di kota sana. Yang menambah kekhawatiran kedua orang tuaku jika aku berpisah dengan mereka. Langkahku masih gontai saat aku harus duduk di barisan paling depan panggung. Suntikan-suntikan motivasi pelan-pelan masuk ke dalam otakku. Kata motivator itu,

"Taklukan dunia maka dunia ada dalam genggamanmu,"

Sihir apa yang ada dalam kata-kata itu hingga aku menatapnya lebih lekat dari sebelumnya.

Setelah acara selesai aku ke belakang panggung dan menghampiri satu ruangan khusus pengisi acara. Ada beberapa panitia yang berjaga.

"Maaf kak, saya mahasiswi bimbingan bapak motivator tadi. Saya sudah ada janji revisi dengan beliau," kataku berbohong. Aku diizinkan masuk.

Entah apa lagi ini. Untuk apa aku menemui orang asing yang baru aku jumpai beberapa jam lalu.

Langkahku pelan sambil ku sebut satu nama,

"Pak!" Kataku pelan.

Senyum ramahnya mencairkan kegelisahan nekatku yang harus masuk dalam ruangan itu.

"Saya Eka Nurwati, saya siswi SMA kelas 3 boleh saya bicara dengan bapak,"

"Tentu saja," balasnya ramah.

Dengan keyakinan aku rangkai kata demi kata untuk bisa mengungkapkan beban yang aku rasakan. Sesekali aku harus menyeka air mataku yang turun.

"Saya tau pak, ini bukan hanya soal lanjut sekolah tapi soal biaya dan kemampuan keluarga saya. Ada harapan tertumpu pada saya namun saya tak kuasa jikalau memang pada akhirnya kuliah adalah cuma mimpi saja. Kuliah kan ga murah pak," kataku terisak.

Iyaa menanggapi ceritaku dengan baik. Sesekali ia bertanya soal jurusan dan minatku.

"Pendidikan biologi atau ga sastra indonesia pak," jawabku yakin.

Lalu ia rangkum semua yang aku ungkapkan pada saat itu,

"Kamu tau mata elang? Jikalau ia tak tajam maka ia tak bisa terbang setinggi itu. Saya tau bagaimana beratnya saat mimpi kita ternyata didukung dengan uang. Saya adalah mantan preman terminal kampung rambutan. Saya bisa kuliah karena hasil dari jerih payah saya memarkirkan bis-bis di terminal. Saya tak ada niat kuliah. Tapi kalau kamu sudah ada rencana. Itu lebih baik. Saya hanya ingin kamu tetap kuliah. Apapun susahnya. Apapun repotnya. Kamu bisa bekerja agar semuanya mudah," katanya.

Pada saat itu mataku mereda. Fikiranku terbuka walau sedikit. Yaa bekerja. Yaa hanya itu yang bisa jadi jawaban dari semua khawatirku.

"Maaf kak, saya harus pergi. Ini kartu nama saya. Saya harap kamu hubungi saya," katanya yang terburu-buru.

Dia pergi dengan meninggalkan secarik kartu nama. Yang aku ingat hanyalah soal mata elang tadi. Soal terbang tinggi. Kalimat itu yang buat saya yakin bahwa harus ada keputusan.

5 bulan berlalu. Saat kelulusan. Saat itu aku lihat banyak lembaran brosur dengan harga kuliah "astaga". Lalu aku ingat, aku hubungi saja nomor yang tertera dalam kartu nama.

"Assalamu'alaikum pak apa kabar?"

"Wa'alalaikumsalam. Kabar baik kak. Kamu sehat? Oh yaa bapak ingin kamu datang ke tempat mengajar bapak di pal merah. Bapak ingin membiayai kamu kuliah disini."

Seperti pelangi yang hadir dalam badai seperti angin segar dalam kekeringan. Aku berangkat dan menemui beliau di kampus teknologi dan terkenal di jakarta.

"Iyaa kamu bisa ambil jurusan yang kamu mau, kamu bisa tinggal di belakang kampus. Ada apartemen di sana. Biaya saya yang cover semua," katanya.

Aku hanya terdiam menikmati megahnya kampus impian ini. Sampai aku disodorkan biaya untuk kuliah sebesar 60 juta di muka.

"Masyaallah," kagetku.

Aku berfikir panjang. Bahkan sangat lama untuk bisa memutuskan. Hanya mereka yang tidak bersyukur paling yang bisa menolak biaya kuliah gratis.
Yaaa akulah orangnya.
"Pak.. saya senang bisa kuliah disini  tapi saya tak sanggup kalau pada akhirnya saya harus merepotkan bapak yang menjadi dosen disini. Saya mau berusaha sendiri pak," keputusanku bulat.

Dia menerima keputusanku. Tapi tetap dengan niat tulus yang sama. Nanti kalau kurang dan butuh buku hubungi bapak ya.

Beberapa bulan setelah itu, aku bekerja di daerah Jakarta. Aku sisihkan 3 bulan gajiku untuk bayar kuliah di tempat pilihanku. Dengan senangnya aku kabari beliau jikalau aku sudah awal berusaha. Jawabannya singkat jikalau ada apa-apa hubungi beliau saja.

Bertahun-tahun berlalu sampai aku sudah semeseter 4 dan kunikmati setiap usaha kerjaku dan kuliahku. Aku bertemu beliau pada kesempatan di gedung metro tv.

Dan sejak pertama aku bertemu aku ingin bertanya, "kenapa bapak mau membantu saya?"

"Kamu ingat saat saya buru-buru pergi kak, saya bilang kita akan ketemu lagi saat kamu sudah sarjana. Saya yakin itu kak, saya mau   membantu kamu tapi kamu tetap kamu bisa dari dulu kamu sudah temukan jawabannya. Kamu bisa!" Katanya yang meyakinkan.

Ramahnya. Sabarnya. Sederhanyanya. Yang buatku beruntung mengenalnya. Ya dialah dosen pertamaku. Bahkan sebelum aku masuk universitasku. Beliau yang memberiku cahaya baru saat itu. Hingga hari ini, beliau tetap memantauku dari jauh. Menanyakan kabarku, kerjaanku, nilai kuliahku. Hingga diujung kalimat selalu "kalau butuh apa-apa buat kuliah bilang ya,"

Saya paham pak sekarang. Kenapa saya harus berbohong kepada panitia hanya untuk menemui bapak. Kenapa langkah saya tetap tergerak ingin menemui bapak padahal bapak adalah orang asing. Dan saya paham pak kenapa bapak ada dalam daftar inspirasi di kamar saya. Karena semangat bapak hingga melanjutkan S3 bapak. Bapak buat saya punya satu harapan lagi saat saya lelah dengan kuliah saya. Saat saya capek buat bekerja supaya biar bisa bayar cicilan semesteran. Bapak yang mencontohkan bagaimana caranya. Bertekad berusaha sendiri karena kita masih mampu.

Saya masih ingin bertanya pak, "benarkah Allah sangat adil?" Ya pertanyaan itu yang saya lontarkan saat bertemu 5 tahun lalu.

"Allah adil pak. Sangat adil. Saat ada tamparan dalam hidupku artinya aku harus sadar. Dan melihat sekililingku yang mendukungku,"

Bapak adalah pak Besar. Sederhana namanya. Namun telah berpengaruh dalam hidup saya. Saya anggap bapak adalah kakek saya. Usia bapak menjelang 50 tahun namun bapak telah mebambah rasa kagum saya.

Saya ingin mengundang kamu ka, dalam acara wisuda saya. Saya berharap kamu tidak menolak. Saya ingin kamu ada diantara hadirin di depan saya. Saya ingin ucapkan terima kasih kepada kamu. ...

Tetaplah menjadi kebanggaan ayah ibumu. Tetap menjadi orang sukses dimanapun dan kapanpun. Kesulitan kali ini adalah kemudahan nantinya.

Salam hangat.
Besar

Ya Allah... akulah yang ingin berterima kasih.

"Terima kasih, sayangi beliau," doaku.