Rabu, 18 Maret 2015

Bee

Surat Dunia.

"Bee yang satu ini manis tapi masih belum mau mengaji,"

Ryan. Sapaan akrab teman-teman padanya. Anak yang satu ini cukup unik. Dia tidak mau memakai baju koko untuk mengaji. Ia lebih suka baju main yang santai dan nyaman untuknya. Dan hari ini, Ryan memakai baju dengan gambar tokoh lebah.
Ryan paling suka berlarian kesana kemari. Bermain bersama teman-teman di PAUD. Tapi Ryan paling takut jika diminta mengaji bersama gurunya. Bahkan ia menangis dan mengamuk jika dipaksa membaca iqro. Kejadian ini tentu membuat para guru tak bisa memaksakan. Biarlah... nanti juga bisa mengikuti. Jadi setiap mengaji bukan untuk belajar tapi bermain bersamanya. Sesekali mamanya menemaninya untuk belajar berani dan maju saat baris di depan. Tapi Ryan belum bisa bun. Ryan masih malu dan menangis. Lalu jika sedang bernyanyi atau menari Ryan kaku tak ingin bergerak. Tapi bundanya yang sabar menemaninya dan mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan. Berharap sama, Ryan bisa mengikuti dengan lincahnya. Tapi anak ya tidak bisa dipaksa.

"Anak hanya perlu dikembangkan dan bukan dibentuk,"

Sesekali kami berikan hadiah setiap keberhasilan yang ditunjukan Ryan. Perlahan tapi pasti. Kami yakin Ryan akan punya semangat sendiri untuk belajar. Selang waktu berjalan, Ryan berusaha mencoba untuk mendekati gurunya. Melihat setiap bacaan teman-temannya. Lalu Ryan belajar untuk antri dalam mengaji. Alhamdulillah... itu menjadi prestasi terbaiknya. Ryan sudah mulai mengaji walau suaranya kecil. Walau masih menunduk dan sesekali menatap aneh gurunya, tak apalah Ryan menjadi anak yang berbeda sekarang. Mau mencoba dan berani menggerakan badan untuk tarian dan bernyanyi dalam lagu. Kelak akan ada banyak pembelajaran baginya tentu dengan ibu yang sabar dan mau mengakui dan mendampingi kekurangan anaknya.

Bukan dipaksa ya bun tapi diarahkan. Dari bunda Ryan saya belajar arti keuletan menjadi seorang mama. Yang setia mencotohkan dan mengajak anaknya. Terima kasih. Ini pengalaman berharga.

Ilham, Hafidzh Selanjutnya

Surat Dunia.

"Setelah bertemu dengan mereka rasanya bahagia sekali, bahagia dan bahagi,"

Ilham. Usianya baru 5 tahun tapi sudah iqro 6. Beberapa lembar lagi akan menuju Al-Qur'an.

Sudah satu bulan ini, aku menjadi guru pendamping di pengajian PAUD di dekat rumahku. Pengajian itu juga dulu bekas pengajianku selama 6 tahun. Kali ini saat aku kakak kelas mereka berbagi pengalaman dan bermain bersama mereka.

Mereka paling semangat kalau saatnya benyanyi dan menari bersama. Kami punua selera yang sama yaitu lagu "3 jelly fish" selalu banyak tawa diantara kami. Melihat mereka tumbuh dan berkembang menjadi satu kebahagiaan bagiku dan bu Mira. Guru sekaligus teman curhatku. Yaa.... pengajian ini juga yang 3 tahun lalu membangun mimpi baruku. Aku ingin menjadi seorang guru. Dan semua berawal dari sini. Ketika aku menggelisahkan mau jadi apa aku ke depannya? Dari pengajian ini aku menemukan minatku. Bersama anak-anak. Siapa yang menyangka bahwa di usia 19 tahun aku sudah menjadi seorang guru di sekolah formal. Semua karena tempatku menuntut ilmu.

Aku menyayangi semua anak-anak disana. Mereka mengajarkan arti saling membantu dan mengingatkan. Mereka yang membuat sesalu banyak cinta yang aku rasakan. Lebih cinta dari seorang kekasih. Hihihi.

Dan mereka yang membuka mataku takjub bangga, mereka sudah bisa membaca firman dari Allah. Subhanallah... aku bersyukur Allah ciptakan kami dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Dan aku bersyukur bisa menemani malaikat-malaikat kecil ini terus belajar.

Semoga semangat Ilhamku dan semua teman-temanku untuk belajar mengaji tidak pernah pudar. Harapanku sederhana, semoga mereka bisa menjadi hafidzh yang bermanfaat. Tetap pakai baju kokomu. Bawa tasmu dan rajin antri paling depan ya ngajinya. Hihihi... itulah Ilhamku. Selalu paling pertama mengerjakan tugas dan ingin cepat-cepat mengaji.

Semangat sayang, hujan kita terobos panas kita tetap payungan. Hehehe

Sekolah Garasi

Surat Dunia.

Terima kasih saya ucapkan untuk kesempatan membaca buku Rumah Kisah dari Siska Y. Massardi. Salah satu buku yang sederhana bahasanya tapi mendalam maknanya. Berkali-kali saya menitikan air mata dan bertanya dalam diri saya? "sudahkah saya berguna bagi orang lain?"

Berikut ulasan buku Rumah Kisah : Sebuah Kisah Sekolah dari Garasi.

Setiap manusia punya masa kelam masing-masing. Mungkin kata khilaf adalah perumpamaan yang pas untuk mengurangi rasa bersalah kita tapi bukan itu, bukan menyatakan aku khilaf atas perbuatanku tapi aku akan segera mempersiapkan perubahan lebih baik lagi.

Bu Kiska, sapaan akrab dari para muridnya saat ini. Beliau adalah ibu dari 3 orang anak dengan kehidupan yang mapan. Untuk menunjang kehidupan ala ibu kota, suaminya bisa memberikannya. Beliau punya agenda rutin untuk bisa kumpul bersama para sahabat untuk saling pamer harta dan harta. Membahas harta dan harta. Belanja wara wiri dari satu mall ke mall yang lain atau dari satu brand ke brand yang lain. Bukan masalah kalau beliau bisa pergi ke salon dengan biaya yang cukup menguras dompet. Tak apalah.... wajar bagi ibu rumah tangga elit dengan standar seperti Jakarta. Untuk menikmati indahnya hidup dengan merasakan hisapan demi hisapan rokok yang menurutnya adalah wajar bagi ibu-ibu elit kelas Jakarta. Terbayang sudah dari pemaparan di atas. Betapa menyenangkannya bisa difasilitasi suami dengan dimanjakan harta dan harta. Yang mau ini dan itu hanya tinggal gesek kartu dan beres semuanya. Namun diatas semua kekuasaan kita, ada satu tangan yang sepanjang usia kita merangkul bahkan menarik menuju hal perubahan. Yaitu tangan Rabb kita. Berawal dari sebuah training ESQ yang menggetarkan jiwanya. Mengapa? Bagaimana bisa? Harta bukankah sudah cukup ya untuk sekelas ibu kota Jakarta?

Jawabannya adalah "Saya tidak menemukan apa-apa dalam hidup saya, saya jenuh," kata beliau.

ESQ adalah training yang memadukan pengalaman emosional dan spiritual. Awalnya beliau ragu untuk ikut training tersebut, tapi hebatnya kata hati adalah mampu menggoyahkan arti keraguan. Beliau mengikuti 4 hari training dengan baik.
Bukan dengan baik lagi, tapi dengan linangan air mata ketidakberdayaan. Mengapa?
Beliau terhentak saat ada kalimat pertanyaan yang amat sederhana.
"Sudah jadi apa kita sekarang?"
"Mau kemana kita sekarang?"
"Seberapa lama kita akan tetap seperti ini?"

Jujur, saya yang membaca kisah beliau pun menitikan air mata. Sudah benarkah hidupku? Atau ternyata aku masih nol besar membahagiakan Rabbku? Atau ternyata aku masih tidak peduli atas arti diriku untuk lingkunganku? Aku merenung sambil mengingat setiap halaman buku kehidupanku.

ESQ merubah beliau 360 derajat. Salah satu yang membuat dunianya amat sangat terjungkal dari kemewahan adalah saat ia harus mengajari anak-anak dhu'afa di sebuah sekolah. Seperti menemukan berlian dalam jerami, ia mulai paham arti bahagia yang sebenarnya. Menikmati 18 tahun kemewahan dan belajar arti dari kesederhanaan dari anak-anak.

"Entahlah... apa iya Allah sedang berubah wujud jadi anak-anak kecil itu atau saya yang sudah menyerahkan hidup saya pada Allah, saya merasa bahagia. Bahkan kepingan hidup saya sudah  saya ketemukan,"

Sejak belajar banyak dari ESQ dan menjadi relawan di sekolah Dhu'afa maka hati kian tergetar. Bukan karena ia masuk ke dunia glamornya tapi karena ada jutaan ide di otaknyq untuk bisa membuat sekolah. Jantungnya berdegup kencang. Dag dag dag... karena apa yang tak ia fikirkan sedikitpun malah jadi hal yang nyata. Sebentar lagi. Bahkan dalam hitungan kedipan mata.

Memang benar adanya, bahwa setiap orang memiliki masa kelam yang akan membawa pembelajaran yang berarti. Setiap manusia memiliki hati yang baik. Sangat baik. Ada sisi kasihan dan keinginan untuk saling membantu. Sama halnya beliau yang memandang sekelilingnya yang masih banyak yang jauh dari kehidupan yang layak. Salah satu yang menggerakan sebuah perubahan adalah dari pendidikan. Maka dari itu beliau ingin menyiapkan pendidikan yang bisa membantu bagi para kaum dhua'afa.

"Entahlah... ini hidayah atau apapun yang saya inginkan adalah menebus semua kelalaian saya sebagai hamba Allah, istri dan ibu  untuk anak-anak saya,"

Beliau mulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan sekolah TK. Dari sebuah garasi rumah, satu harapan bangkit kembali. Bahwa semiskin apapun pendapatan, sesusah apapun kehidupan mereka berhak diberikan sekolah dengan standar yang bagus. Tidak bisa dibedakan dengan yang lain.

Itulah semangat beliau yang membuatku tersenyum bangga. Yaa.... tak ada satu sistempun yang boleh mengkastakan umat manusia. Semua sama haknya.

Dan bukanlah perkara mudah untuk bisa mendirikan sekolah bagi para malaikat kecil beliau. Biaya, kultur, sikap, pengajar, fasilitas, dan semua yang tidak bisa asal-asalan diciptakan. Dan tentunya dalam lembar perjalanan sekolah Batutis akan mengajarkan hal-hal luar biasa bagi beliau dan keluarga. Bertemu dengan anak-anak yang semangat sekolah dengan jarak yang jauh, anak-anak yang selalu berebutan ingin di pangku, bertemu anak yang menjadi pemulung membantu orang tuanya, mereka yang broken home, mereka yang tidak terfasilitasi pendidikan dan mereka yang masih punya kemauan yang kuat untuk bisa merasakan artinya sekolah.

Dan inilah satu dari sekian "man jadda wa jadda" Allah-ku yang sedang ditunjukan. Satu semangat telah terbangun untuk bisa memberikan kesempatan bagi semua anak untuk sekolah dan bahagia.

Ya Allah.... jika Kau ridho'i kami
izinkan usia kami adalah ibadah
manfaat dan bahagia.
Didiklah kami dalam keikhlasan dan kesabaran.
Dan hanya Allah satu-satunya penolong kami.

Terima kasih, Bu Siska.... semoga mereka menjadi anak yang berguna.

Senin, 09 Maret 2015

Belajar Jujur

Surat Dunia.

Hari ini kakak-kakakmu ulangan tengah semester. Dan aku belajar satu hal dari mereka. Kejujuran.

Banyak orang yang ingin mencapai hal yang ia inginkan dengan cara yang mereka. Dengan usaha mereka. Tergantung, jika iman mampu melapisi hati setiap insan maka setiap usaha yang dijalankan pasti disertai pertimbangan atas keridhoan Tuhan. Yaa...  melibatkanTuhan disegala keadaan dan kegiatan kita adalah hal yang sangat mendamaikan. Karena sepenuhnya usaha kita adalah sepenuhnya ada campur tangan kuasa Tuhan. Sama halnya dengan bekerja secara jujur, berkata jujur dan berfikir jujur. Kata jujur adalah 5 huruf yang mudah untuk dikatakan.
"Jujur dong kerjakan ulangannya,"

Alhamdulillah.... meski masih kelas dua, mereka sudah berusaha menunjukan kejujuran untuk mengerjakan ulangan. Apapun hasilnya, yang terpenting kalian berusaha dan melibatkan iman dari Allah untuk bisa mengerjakannya. Jujur itu sama halnya kita menghargai keadaan apa adanya. Berkata apa adanya. Memiliki apa adanya. Terima kasih atas kejujuran kalian mengerjakan ulangan. Semoga kalian terhindar dari korupsi yang berawal dari ketidakjujuran. Ammiin...

Semoga Indonesia lebih baik lagi.

Sekolah Batutis

Surat dunia.

"Nak hari ini bunda punya satu cerita tentang sekolah masa depan, semoga kamu suka yaa... dengan sekolah ini,"

Namanya Sekolah Batutis, baca tulis gratis yang berlokasi di Pekayon Bekasi. Salah satu dari sekian banyak sekolah bagi kaum dhuafa dan anak papa. Sekolah itu berada di garasi rumah seorang ibu yang semangat sekali dengan kegiatan pendidikan. Ibu Siska Yudhistira Massardi. Dari garasinya tercipta satu harapan baru untuk bagi kaum dhuafa untuk bisa meraih cita-cita mereka. Dari sekolah ini mereka menciptakan lilin-lilin yang terang untuk bisa menerka gelapnya dunia tanpa ilmu pengetahuan. Jujur... sebagai sesama manusia, ada suara dalam hati untuk bisa bertindak sama dan membahagiakan anak-anak Indonesia. Bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama dengan standar yang sama juga. Tak ada sekolah yang rendahan dan ecek-ecek yang ada hanya sekolah yang berkualitas untuk siapapun. Dari bu Siska aku belajar bahyak hal. Sebuah sekolah dengan pendidikan yang memang sangat dibutuhkan bagi mereka semua. Ada pelajaran untuk memandikan bayi, ada pelajaran memasak ikan peda, ada pelajaran memecahkan telur, pelajaran memasak, dan masih banyak pelajaran yang lainnya. Pelajaran tersebut diberikan kepada anak usia PAUD dengan range 3-6 tahun. Inspiratif sekali. Semoga semangat bu Siska dan team tetap on untuk anak-anak Indonesia.

Sekarang tinggal bagaimana kita bisa memaknai hidup ini dengan bermanfaat. Satu kutipan kata-kata beliau.

"Saya bukan orang guru, setiap hari saya belajar bagaimana bisa memahami anak-anak. Yang saya dapatkan dari praktek di lapangan. Dan ini tidak mudah bagi saya yang orang awam," terangnya.

Ini jadi salah satu bukti bahwa apapun niat baik karena Allah akan disambut baik dengan kebaikan dari Allah.

Man Jadda wa Jadda...

Satu kutipan dari kepala sekolah SD tempatku bekerja,

"Hati-hati dengan mimpi yang mereka  tertawakan kepadamu, bisa jadi itu yang Allah kabulkan dan mendiamkan lisan mereka yang menertawakanmu,"

Terlepas dari ini imajinasi tingkat dewa, tetap tidak akan pernah bosan untuk melangkah kecil kecil untuk sebuah sekolah yang bermanfaat bagi orang lain, ammiin..."

Semoga Allah sayang dan mengabulkan permintaan kita, al-gisni.

#media sentra

Sabtu, 07 Maret 2015

Fitrah Buah Hati Kita

Surat Dunia.

Aku buat surat ini untuk buah hatiku kelak. Semoga bundamu ini bisa menjadi sebaik-baiknya bunda untukmu. Bunda sedang belajar ya nak... ini pelajaran yang bunda pahami hari ini.

                                   Bundamu.

Fitrah seorang anak ketika lahir adalah suci. Seperti kertas putih yang siap ditorehkan atau ditumpahkan warna-warna yang cerah maupun gelap. Ketika lahir pun adalah saatnya kita sebagai orang tua menentukan kemana akan dibawa putra/putri kita. Mempersiapkan kebahagiaan dan kehidupan yang berkecukupan bagi putra/putri kita. Ketika sebuah kertas putih mulai ditulis, maka saat itulah orang tua terlibat langsung. Memperhatikan setiap kemajuan perkembangannya. Bukan hanya fisik tapi perkembangan mentalnya juga. Sebuah kertas putih itu mulai diisi di 40 hari pertama kelahiran. Dimana bunda bukan hanya sekedar paham soal ASI dan nutrisi buah hati kita tapi juga komunikasi verbal pada buah hati kita. Yaa... ketika buah hati kita menangis saat itulah komunikasi sedang berjalan diantara bunda dan buah hati. Ketika menangis pun ucapkanlah komunikasi verbal dari lisan kita,

"Iyaa sayang, bunda dengar kamu menangis. Bunda datang sayang, bunda di dekatmu sayang..."

Karena tidak semua tangisan adalah tanda lapar atau popok basah. Maka dari itu dengan kita datang dan menenangkan sama halnya kita sedang membangun rasa hormat atas buah hati kita. Yaa... rasa hormat dan menghargai. Akan terbangun kepercayaan anak kepada bundanya yang datang saat waktu yang sedang ia inginkan bersama bundanya.

Lalu, ajaklah buah hati kita berkomunikasi dengan mengungkapkan perasaan bahagia kita bersamanya.

"Bunda bahagia sekali, kamu menangis, kamu tersenyum, kamu melihat bunda dan bunda juga lihat kamu sayang. Bunda sayang sama kamu," satu sentuhan lembut dihadirkan untuk buah hati kita.

Dan itulah saat dimana buah hati kita akan belajar untuk mengenali sopan santun bundanya dalam mengungkapkan rasa kasih sayang.

Lalu ketika kita ingin menggendongnya, minta izinlah pada buah hati kita,

"Sayang... bunda mau gendong kamu yaa sayang, boleh yaa?" Baru tangan kita meraih badannya dan menggendongnya.

Tahukah apa yang sedang bunda tanamkan? Izin untuk melakukan sesuatu. Kelak ia akan persis bundanya yang selalu meminta izin melakukan sesuatu. Dan disinilah kita belajar untuk memperlakukan dengan nyaman dan aman bagi anak kita. Bukankah anak adalah titipan Allah?
Hal ini sepele. Kecil sekali untuk dilakukan  untuk itu, mari bundaa... kita mulai dengan siaga ada di sisi buah hati kita. Bahagiakan mereka dengan ungkapan bahagia kita atas kelahiran mereka. Dengan itu betapa bahagianya buah hati kita menjadi bagian dari yang bunda dan ayahnya bahagiaakan. Bayangkan jika sudah dewasa, kertas putih ini menjadi warna yang mengagumkan.
Semoga kita terus jadi orang tua yang lebih baik lagi. Ammiin...

Tertanda
Bunda banyak belajar.

#metode sentra

Fitrah Bagi Buah Hati Kita

Surat Dunia.

Aku buat surat ini untuk buah hatiku kelak. Semoga bundamu ini bisa menjadi sebaik-baiknya bunda untukmu. Bunda sedang belajar ya nak... ini pelajaran yang bunda pahami hari ini.

                                   Bundamu.

Fitrah seorang anak ketika lahir adalah suci. Seperti kertas putih yang siap ditorehkan atau ditumpahkan warna-warna yang cerah maupun gelap. Ketika lahir pun adalah saatnya kita sebagai orang tua menentukan kemana akan dibawa putra/putri kita. Mempersiapkan kebahagiaan dan kehidupan yang berkecukupan bagi putra/putri kita. Ketika sebuah kertas putih mulai ditulis, maka saat itulah orang tua terlibat langsung. Memperhatikan setiap kemajuan perkembangannya. Bukan hanya fisik tapi perkembangan mentalnya juga. Sebuah kertas putih itu mulai diisi di 40 hari pertama kelahiran. Dimana bunda bukan hanya sekedar paham soal ASI dan nutrisi buah hati kita tapi juga komunikasi verbal pada buah hati kita. Yaa... ketika buah hati kita menangis saat itulah komunikasi sedang berjalan diantara bunda dan buah hati. Ketika menangis pun ucapkanlah komunikasi verbal dari lisan kita,

"Iyaa sayang, bunda dengar kamu menangis. Bunda datang sayang, bunda di dekatmu sayang..."

Karena tidak semua tangisan adalah tanda lapar atau popok basah. Maka dari itu dengan kita datang dan menenangkan sama halnya kita sedang membangun rasa hormat atas buah hati kita. Yaa... rasa hormat dan menghargai. Akan terbangun kepercayaan anak kepada bundanya yang datang saat waktu yang sedang ia inginkan bersama bundanya.

Lalu, ajaklah buah hati kita berkomunikasi dengan mengungkapkan perasaan bahagia kita bersamanya.

"Bunda bahagia sekali, kamu menangis, kamu tersenyum, kamu melihat bunda dan bunda juga lihat kamu sayang. Bunda sayang sama kamu," satu sentuhan lembut dihadirkan untuk buah hati kita.

Dan itulah saat dimana buah hati kita akan belajar untuk mengenali sopan santun bundanya dalam mengungkapkan rasa kasih sayang.

Lalu ketika kita ingin menggendongnya, minta izinlah pada buah hati kita,

"Sayang... bunda mau gendong kamu yaa sayang, boleh yaa?" Baru tangan kita meraih badannya dan menggendongnya.

Tahukah apa yang sedang bunda tanamkan? Izin untuk melakukan sesuatu. Kelak ia akan persis bundanya yang selalu meminta izin melakukan sesuatu. Dan disinilah kita belajar untuk memperlakukan dengan nyaman dan aman bagi anak kita. Bukankah anak adalah titipan Allah?
Hal ini sepele. Kecil sekali untuk dilakukan  untuk itu, mari bundaa... kita mulai dengan siaga ada di sisi buah hati kita. Bahagiakan mereka dengan ungkapan bahagia kita atas kelahiran mereka. Dengan itu betapa bahagianya buah hati kita menjadi bagian dari yang bunda dan ayahnya bahagiaakan. Bayangkan jika sudah dewasa, kertas putih ini menjadi warna yang mengagumkan.
Semoga kita terus jadi orang tua yang lebih baik lagi. Ammiin...

Tertanda
Bunda banyak belajar.

#metode sentra