Minggu, 19 Oktober 2014

Sekolah masa depan

Ya Rabb....
Salah satu pertemuan adalah kesan mendalam. Ya Rabb.... bolehkah Kau izinkan aku dengan kesempatan untuk selalu bertemu dan dipertemukan dengan mereka. Ya Rabb.... haruskah aku menjadi orang yang sangat kaya raya untuk bisa berbagi dengan mereka? Ya Rabb.... segerakan Kau wujudkan satu persatu mimpiku, aku ingin terus sehat, mencapai puncak mimpiku. Sekolah masa depan untuk mereka.

Tak Perlulah

Kadang kita ga perlu bersusah payah mencari yang persis sama kayak kita. Ga ada dalam catatan Allah bahwa Dia menakdirkanmu dengan orang yang mirip bahkan sangat persis denganmu. Tak perlulah.... kita buang energi kita untuk mencari yang belum tentu itu bisa bersama kita selamanya. Biarlah Allah yang mempertemukan kita dalam pertemuan-pertemuan saling mengisi kekurangan masing-masing. Jika kesempurnaan membuatmu bahagia lalu apa artinya saling melengkapi? Saat ada satu ruang kelemahan kita isi bersama. Tenanglah..... perempuan ini sadar arti "sempurna" hanya milik Rabb-nya.

Jumat, 17 Oktober 2014

Terkadang,

Surat Dunia.

Kadang keadaan bisa berubah dalam hitungan detik saja. Bisa saja kita terjungkal bahkan terpelanting jauh dalam waktu sebentar. Dan haruskah kita mundur? Kadang kita jugalah yang harus jadi satu-satunya orang yang menerima. Jadi ke satu yang harus ikhlas menerima. Jika ini bagian dari penggugur dosa, semoga aku masih kuat dan selalu kuat untuk tetap bertahan.

Rabu, 15 Oktober 2014

Surat Untuk Mama


Surat kepada Ibunda ini tak dimaksudkan untuk memberitahu beliau apa yang kita rasakan. Besar kemungkinan, beliau mengerti yang selama ini kita pendam.

Surat ini ditulis demi mengurai isi kepala kita sendiri. Demi mengurangi rindu yang ada di dada kita.

Selamat membaca.

 

Halo Ma,

Apa kabar?

Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu. Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya, Ma.

Ma,

Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu terucapkan, aku hanya bisa menyesal.

Mama mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan te

Mamaku yang cantik,

Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja? Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.

Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Mama pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Mama sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman.

Aku tahu Mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan. Tapi tenanglah, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang mengajarkan aku untuk berani? Mungkin memang sulit Mama percayai, tapi aku sekarang sudah besar. Sudah tahu bagaimana melindungi diriku sendiri di jalan. Mama ingat pernah menasihati supaya aku pandai berteman? Nah, kini aku punya teman-teman yang bisa kuandalkan ketika aku pulang terlalu malam.

 

Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah.

Saat aku hendak berkelana sementara, Mama membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.

“Ini mama siapin selimut. Bawa ya!”

“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma!”

Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.

Namun saat jauh, aku rindu padamu. Ah…Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang Mama siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.

Ma,

Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya Mama gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah Mama punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?

Maaf ya Ma, gara-gara aku, Mama harus berhenti mengejar impian masa kecil Mama. Karena keberadaanku, Mama harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.

Ya,

Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, Mama harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, Mama harus menyiapkan peralatan sekolahku. Mama harus mengantarku ke sekolah, berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan.,,

Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Tapi Mama pun tidak selalu memperbolehkanku membantu. “Sudah belajar, belum?” tanyamu.

Iya, Mama banyak bertanya. Pertanyaan Mama pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar. “Ah, Mama ngoceh terus! Kalau belum sempat gimana dong, Ma?” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. Pusing rasanya mendengar ocehan Mama. Mama tidak tahu ‘kan, saat Mama menelepon aku sengaja menjauhkan ponselku dari telinga karena bosan mendengar ocehan Mama? Maaf ya, Ma.

Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Mama. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan. Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur dan sedikit bangga.

Aku jahat ya, Ma? Aku anak pembohong. Mama masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?

Ma,

Tahukah kalau aku sangat takut untuk memperkenalkan calon menantumu? Aku takut Mama tidak setuju dengan pilihan hidupku. Takut Mama kecewa jika nantinya aku gagal dalam pernikahanku. Tidak ada rasanya yang lebih mengintimidasi dari ucapan “Ma, kenalin: ini calon menantu Mama.”

Senyummu membuyarkan kegelisahanku.

“Kamu senang sama dia? Sudah yakin? Yang penting itu kebahagiaanmu sendiri.”

Ma, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.

(Ma, tenang! Aku sudah makan!)

Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja Mama yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.

 


Mama, Ibu, Ibundaku…

Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.

Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!

Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku.

Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mama pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahim Mama. Tuhan yang mempertemukan kita.

Aku bersyukur bisa berkenalan dengan Mama. Tersenyumlah, Ma,

 

Penggemar beratmu nomor satu,

Anakmu.

Kamis, 09 Oktober 2014

Arti penerimaan

Surat Dunia.
Jujur, paling semangat saat ada yang punya semangat lebih dari kita. Semangat itu tertular, dan makin ketularan kalau dekat dengan orang tersebut. Dan kali ini, aku bagi cerita semangatnya adik kelasku dan arti menjadi pemenang sesungguhnya.

Kalau diminta flashback ke acara LKBB cuma satu yang diinget, insiden naik truk. Iya dong, ini ceritaku saat harus pergi lomba Lkbb menggunakan truk pasir. Tapi biarlah, itu jadi kenangan yang paling manis buat aku dan angkatanku.
Pertemuanku dengan Amel, tentu buat aku senang. Karena adik kelasku yang satu ini punya banyak bahan sharing seputar dunia anak. Usianya masih muda, tapi pengalamannya pasti sudah banyak. Amel adalah adik kelasku di SD sekaligus penerus kegiatan Pramuka di SD Pasirangin dan SD Babakan. Hhhehe jadi malu saya, belum bisa berbuat apa-apa buat SD. Berhubung ada lomba yang prestisius banget untuk kepramukaan yaitu LKBB, dia dipercaya untuk melatih sekaligus mendampingi anak-anak. Tapi ga mungkin keduanya, Amel harus mendampingi satu SD saja yaitu SD Babakan. Di hari perlombaan, hari yang paling mendebarkan untuk berjuang di arena lomba perubahan sikap terjadi. Amel diblokade anak-anak SD Pasirangin dengan sikap yang dingin dan saling tak peduli. Sapaan? Tak ada. Saling pandang? Engga ada. Padahal ketika latihan di hari-hari biasa mereka lengket dengan Amel. Keadaan saling tidak peduli semakin diperkuat dengan perolehan juara dari SD Babakan. Sedangkan SD pasirangin belum masuk kategori juara. Semakin memuncaklah keiriian mereka. Pilih kasih, engga adil, lebih sayang, engga peduli diberikan pada Amel dari murid-muridnya sendiri. Namanya juga anak SD yaaa. Tingkat kesetaraan perlakuan bagi mereka harus benar-benar adil. Tapi mereka seperti itu karena mereka ingin mendapatkan dan merasakan hak yang sama. Dan memberi pengertian pada mereka "Bukan tentang karena didampingi siapa tapi karena kemauan dan usaha yang kuat itu yang buat kita bisa menang. Semua orang mau menang dan memenangkan tapi apa mau usaha dan mengusahakannya?" Dan semoga adik-adik kelas kita belajar banyak dari sebuah kekalahan. Berbesar hati menerima kekalahan itu yang namanya pemenang. Setuju pemirsah???  

En.
Pas Bedrest
Tempat tidur tersayang, cie.

Senin, 08 September 2014

Pilihannya "PEBISNIS"

Pilihannya adalah : Pebisnis.

Dalam hidup ini, kita bisa memilih untuk jadi rata-rata atau berbeda. Untuk jadi mayoritas dan minoritas. Karena hidup adalah pilihan. Menjadi seorang pebisnispun pilihan. Lalu apa bedanya dengan penjual? Bukankah penjual adalah pebisnis? Dan inilah inspirasi yang ingin saya bagikan kepada teman-teman dari seorang Chatarina Siwi Lukito.

Pertemuan sore itu bersama ibu cantik ini menjadi pengetahuan baru untuk soal bisnis. Berkecimpung menjadi seorang Gold Director Oriflame membuat pribadi ini penuh senyum dan visioner ke depan. Berikut adalah penjelasan beliau,
"Ada 3 tipe orang, satu pemakai, dua penjual dan tiga pebisnis. Lalu semua orang bisa jadi pedagang namun belum tentu bisa jadi pebisnis. Karena pebisnis bukan soal keuntungan lembaran uang tapi bekerja cerdas untuk organisir strategi dan suksesnya team. Sehebat apapun kita tanpa team yang satu semangat dengan kita apa artinya. Disinilah kita belajar bahwa kesuksesan team membawa ke kesuksesan kita."

Penjelasan semakin seru saat mulai ke penyusunan strategi team dan berbagai jenis keadaan di lapangan, beliau berbagi tips untuk bisa mengenali potensi keaktifan team. "Justru miss Eka, yang aktif itu yang nantinya kita pantau terus. Yang aktif ini yang akan sangat membantu kita untuk investasi poin," jelasnya.

Dari sekian banyak ilmu yang didapat, satu ilmu yang harus ditanamkan selalu, "Ikhlas" itu menjadi pondasi kita untuk bertindak. Sama halnya bisnis, ikhlas membuat kita memberikan best action untuk kemajuan bersama. Jadi bukan soal aku sudah capek ini, aku sudah bantu ini, aku sudah kasih ini, lalu mana usahamu??? Atau versi keluh yang tidak ikhlas, ya ampun lupa apa kamu kan aku yang bantuin?

Hmmm jelegerrrrr petir berbunyi tanda siap tidak sukses orang yang berfikir seperti di atas. Segera dilempar keluh kesah ketidakikhlasan.

Karena dari ibu Siwi juga aku lihat binar-binar kemauan yang kuat, strategi yang terarah, dan keikhlasan. Makanya tidak heran hasil dari 3 tahun membina team, sekarang beliau adalah Gold Director dengan pendapatan 7 juta perbulan sebagai ibu rumah tangga yang berbisnis dan siap keliling Eropa tanggal 20 September nanti.

Great!!!

en.

Minggu, 07 September 2014

Materi Seminar Merry Riana

Merry Riana

Jika kamu melakukan1/2 usaha maka akan dapat 1/2 hasil juga.

5 langkah yang bisa dilakukan :
1. Berani mengambil langkah pertama.
Langkah pertama adalah start awal bagi kita. Meski kecil setidaknya kita tidak berada dalam km 0. Langkah pertama juga yang membuat kita harus berani. Harus berani. Harus berani karena energi bahan bakar kesuksesan yang paling besar adalah berani. Awalnya memang ragu. Ingin menunggu sempurna dulu persiapan strategi baru melangkah tapi sadarilah tak ada yg sempurna tapi dengan melangkah dan bergerak 50% kita sudah menjadi pemenang.

2. Bukan ahli tapi menunggu ahli
Keahlian bukan penentu segalanya. Karena keahlian menjadi salah satu kemudahan untuk kita masuk ke dunia bisnis. Tapi sesungguhnya keahlian yang paling dibutuhkan adalah survive dulu di lingkungan. Ketika kita sudah di lapangan. Akan banyak pengalaman, guru terbaik, dan cara-cara yang kita pilih untuk dipelajari. Maka melangkahlah sambil mencari dan menemukan keahlian kita.

"Kalau tak ada yg percaya sama kamu makan kamu yg percaya sama diri kamu sendiri" -Merry Riana

3. Sekarang maka putuskan "Do it now,"
Melangkah dengan cerdas
1. Mimpi yg jelas
Ini adalah penggambaran visioner kita dalam beberapa tahun ke depan. Apa yang ingin dicapai harus jelas karena inilah yang akan menjadi lecutan semangat kita.
2. Strategi yg terarah
Semua orang memang ada di jalan yang sama namun memiliki destinasi yang berbeda. Dipercepat atau diperlambat tergantung pada gerak kita.
3. Tindakan yg nyata
Bukan mimpi yg tinggi tapi semangat yang tinggi.

3. Melangkah Bersama
3 tipe orang sekeliling kita.
1. Mentor.
2. Partner.
3. Team.

4. Melangkah sampai tuntas.
Memerlukan Self discipline yang tinggu. Tidak ada kemenangan, bagi mereka yg tak bertanding sampai akhir. Perhatikan juga Komitmen tinggi. Dan katakan sekarang dengan yakinnya "Never never give up!"

Seribu orang bilang saya ga bisa "biasa" tapi diri ga yakin "binasa".-Merry Riana

5.Melangkah dengan ikhlas
Jika kita melangkah dengan ikhlas keputusan apapun tidak akan saya sesali. Seberat apapun tidak akan saya keluhkan. Dan hanya dengan ikhlas seseorang akan mengapresiasimu mulia di hati mereka.

Merry Riana "Langkah Sejuta Suluh"
Disampaikan dengan semangat "Saya Pasti Bisa"
ICC Kemayoran.