Aku titipkan semuanya pada penciptaku. Biar Dia yang menjaga. Karena tak ada yang bisa kita miliki seutuhnya.
Selasa, 21 Oktober 2014
Senin, 20 Oktober 2014
My prayer
Surat Dunia
Saat itu ada yang punya mimpi untuk bisa pergi keliling Indonesia. Lalu dilanjut dengan perjalanan Eropa. Pada saat yang sama, aku pun ingin bisa menyapa seluruh dunia dengan kata demi kata dalam sebuah buku. Tetap menjadi pribadi yang hangat. Dan bersaudara sebanyak-banyaknya. Semoga ada kesempatan untuk bisa terus pembuktian.
Mata 5 watt
Kamar tercinta
Minggu, 19 Oktober 2014
Akan ada .....
Dear ......
Di luar sana akan ada banyak perempuan yang lebih cantik dariku. Akan ada yang lebih cerdas, lebih menarik dan lebih kaya dariku. Namun aku ingin pastikan, bahwa aku akan menemanimu sampai kapanpun. Tak ada batas waktu. Dan kita buat mimpi kita semakin nyata. Karena bersamamu aku tak pernah takut bermimpi dan bumi bagai butiran kecil yang kita pijak.
Sekolah masa depan
Ya Rabb....
Salah satu pertemuan adalah kesan mendalam. Ya Rabb.... bolehkah Kau izinkan aku dengan kesempatan untuk selalu bertemu dan dipertemukan dengan mereka. Ya Rabb.... haruskah aku menjadi orang yang sangat kaya raya untuk bisa berbagi dengan mereka? Ya Rabb.... segerakan Kau wujudkan satu persatu mimpiku, aku ingin terus sehat, mencapai puncak mimpiku. Sekolah masa depan untuk mereka.
Tak Perlulah
Kadang kita ga perlu bersusah payah mencari yang persis sama kayak kita. Ga ada dalam catatan Allah bahwa Dia menakdirkanmu dengan orang yang mirip bahkan sangat persis denganmu. Tak perlulah.... kita buang energi kita untuk mencari yang belum tentu itu bisa bersama kita selamanya. Biarlah Allah yang mempertemukan kita dalam pertemuan-pertemuan saling mengisi kekurangan masing-masing. Jika kesempurnaan membuatmu bahagia lalu apa artinya saling melengkapi? Saat ada satu ruang kelemahan kita isi bersama. Tenanglah..... perempuan ini sadar arti "sempurna" hanya milik Rabb-nya.
Jumat, 17 Oktober 2014
Terkadang,
Surat Dunia.
Kadang keadaan bisa berubah dalam hitungan detik saja. Bisa saja kita terjungkal bahkan terpelanting jauh dalam waktu sebentar. Dan haruskah kita mundur? Kadang kita jugalah yang harus jadi satu-satunya orang yang menerima. Jadi ke satu yang harus ikhlas menerima. Jika ini bagian dari penggugur dosa, semoga aku masih kuat dan selalu kuat untuk tetap bertahan.
Rabu, 15 Oktober 2014
Surat Untuk Mama
Surat kepada Ibunda ini tak dimaksudkan untuk memberitahu beliau apa yang kita rasakan. Besar kemungkinan, beliau mengerti yang selama ini kita pendam.
Surat ini ditulis demi mengurai isi kepala kita sendiri. Demi mengurangi rindu yang ada di dada kita.
Selamat membaca.
Halo Ma,
Apa kabar?
Ah, rasanya ganjil sekali melontarkan itu. Kita satu rumah, namun jarang kutanyakan kabarmu. Anak macam apa aku ini. Makanan yang kau sediakan di atas meja tak lantas membuatku peduli kabarmu saban hari. Maaf ya, Ma.
Ma,
Mungkin kita jarang berbicara. Saat membuka mulut pun, hanya adu argumen yang ada. Rasanya susah sekali menahan diri. Apapun yang ada di kepala, aku lontarkan semua. Begitu terucapkan, aku hanya bisa menyesal.
Mama mungkin sudah biasa. Menghadapi ego dan kesoktahuan anaknya. Dari dulu, pikirmu. Tidak apa-apa. Engkau tersenyum, dan te
Mamaku yang cantik,
Apa aku boleh bertanya? Bagaimana bentukku saat aku keluar dari rahimmu? Aku penasaran, Ma. Hanya bisa kubayangkan sakitnya. Dari situ pikiranku melanglang: ketika 9 bulan membawaku, hal-hal ganjil apa saja yang kulakukan terhadapmu? Bagaimana perasaanmu ketika tahu rasa sakitmu sebagai ibu tak hanya kau derita saat melahirkan saja? Dari situ aku bisa mengerti, betapa sabar dirimu selama ini.
Tapi harus kuakui. Kadang memang aku heran pada sikapmu. Mama pernah marah-marah ketika aku main ke rumah teman sampai jam 10 malam. Mama sibuk meneleponku untuk pulang, padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku aman.
Aku tahu Mama takut terjadi apa-apa denganku di jalan. Tapi tenanglah, Ma. Aku pasti bisa menjaga diri. Bukankah Mama sendiri yang mengajarkan aku untuk berani? Mungkin memang sulit Mama percayai, tapi aku sekarang sudah besar. Sudah tahu bagaimana melindungi diriku sendiri di jalan. Mama ingat pernah menasihati supaya aku pandai berteman? Nah, kini aku punya teman-teman yang bisa kuandalkan ketika aku pulang terlalu malam.
Ma, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya langsung. Aku takut melihatmu menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu keluar. Apalagi ketika aku harus pergi ke tempat yang jauh dari rumah.
Saat aku hendak berkelana sementara, Mama membuktikan perhatian dengan mempersiapkan barang bawaan untukku. Sayangnya, terkadang aku sendiri bingung barang-barang itu harus aku apakan.
“Ini mama siapin selimut. Bawa ya!”
“Aduh, ntar beli aja di sana. Berat tauk ma!”
Aku masih ingat itu. Aku menolak barang-barang yang sudah kau siapkan untukku. Hanya ketika mau berangkat, aku mengangkutnya ke bagasi. Dengan berat hati, dan separuh mencak-mencak tak mengerti.
Namun saat jauh, aku rindu padamu. Ah…Untunglah ada barang-barang ini. Kupeluk saja selimut yang Mama siapkan. Aku tidak jadi kedinginan.
Ma,
Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika umur 5, 10, atau seumurku, cita-cita apa yang sebenarnya Mama gantungkan? Dokterkah, layaknya anak-anak pada umumnya? Atau malah Mama punya cita-cita yang lebih unik, seperti fotografer dan penulis buku?
Maaf ya Ma, gara-gara aku, Mama harus berhenti mengejar impian masa kecil Mama. Karena keberadaanku, Mama harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 2 kali lebih keras dari seharusnya.
Ya,
Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Bahkan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang. Pagi-pagi sekali, Mama harus bangun untuk memasak sarapan. Selanjutnya, Mama harus menyiapkan peralatan sekolahku. Mama harus mengantarku ke sekolah, berbelanja agar di rumah ada yang bisa dimakan.,,
Kadang, kalau aku sedang rajin aku akan berusaha membantumu semampuku. Tapi Mama pun tidak selalu memperbolehkanku membantu. “Sudah belajar, belum?” tanyamu.
Iya, Mama banyak bertanya. Pertanyaan Mama pun sebenarnya selalu sama: “Sudah makan belum?”, “Sudah sholat?” Kalau aku menjawab “belum”, nada bicaramu langsung berubah dan sifat cerewetmu mulai keluar. “Ah, Mama ngoceh terus! Kalau belum sempat gimana dong, Ma?” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutku. Pusing rasanya mendengar ocehan Mama. Mama tidak tahu ‘kan, saat Mama menelepon aku sengaja menjauhkan ponselku dari telinga karena bosan mendengar ocehan Mama? Maaf ya, Ma.
Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Mama. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan. Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur dan sedikit bangga.
Aku jahat ya, Ma? Aku anak pembohong. Mama masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?
Ma,
Tahukah kalau aku sangat takut untuk memperkenalkan calon menantumu? Aku takut Mama tidak setuju dengan pilihan hidupku. Takut Mama kecewa jika nantinya aku gagal dalam pernikahanku. Tidak ada rasanya yang lebih mengintimidasi dari ucapan “Ma, kenalin: ini calon menantu Mama.”
Senyummu membuyarkan kegelisahanku.
“Kamu senang sama dia? Sudah yakin? Yang penting itu kebahagiaanmu sendiri.”
Ma, wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Penyakit mulai mengerogoti tubuhmu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.
(Ma, tenang! Aku sudah makan!)
Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja Mama yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Disana yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.
Mama, Ibu, Ibundaku…
Terima kasih sudah memutuskan memilikiku. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia. Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.
Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut, yang tak cukup sering menyapu rumah…ah!
Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu. Secerewet apa pun dirimu, Mama tetap wanita nomor satu bagiku.
Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Mama pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahim Mama. Tuhan yang mempertemukan kita.
Aku bersyukur bisa berkenalan dengan Mama. Tersenyumlah, Ma,
Penggemar beratmu nomor satu,
Anakmu.